SELASA , 13 NOVEMBER 2018

Jangan Pandang Enteng Caleg Millenial

Reporter:

Arini-Fahrullah

Editor:

Iskanto

Kamis , 25 Oktober 2018 07:03
Jangan Pandang Enteng Caleg Millenial

ilustrasi (rakyatsulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 diwarnai dengan hadirnya kontestan dari kalangan millenial.Kehadiran mereka tentu tidak bisa dipandang enteng. Selain materi, mereka juga punya modal investasi sosial yang kuat, serta banyak pengalaman organisasi.

Salah satu Caleg millenial, Imran Eka Saputra berharap, sebagai kalangan millenial tentunya sangat diharapkan ada kalangan muda yang mampu mewakili suara anak muda di parlemen.

Ketua KNPI Sulsel ini mengaku punya visi dan konsep, bagaimana bisa beraktualisasi dalam mengawal proses isu kepemudaan, kerakyatan dan kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan. “Menjadi bagian dari lembaga legislatif itu pada dasarnya bagaimana mampu melayani masyarakat,” ujarnya.

Imran mengaku tidak gentar menghadapi pertarungan di Pileg. Meskipun harus menghadapi sejumlah incumbent dan politisi senior. “Tidak bisa dipungkiri, para senior dan incumbent itu memang punya modal lebih dari pada kami. Tapi ini tidak membuat kami berkecil hati,” tukasnya.

Sebagai anak muda, Imran memiliki kemampuan untuk ikut berkompetisi secara sehat. Selain itu, pihaknya juga memiliki modal untuk bersaing, bahkan bersama dengan pemuda lainnya.

“Dengan modal kita sebagai anak muda yang punya pergaulan, kita optimistis bisa berkompetisi secara sehat. Jadi isu perubahan tentang kesejahteraan dan keterlibatan anak muda. Kita juga mengusung konsep, tidak modal kosong,” tutur Imran yang berprofesi sebagai Dosen Hukum Tata Negara Pemerintahan Daerah Keuangan Negara, di salah satu universitas swasta di Makassar ini.

Iapun tetap optimistis memperoleh hasil yang maksimal. Namun tetap berdasarkan etika politik. “Kita punya optimisme dan hitung-hitungan secara otomatis. Semua orang yang berusaha dan berikhtiar itukan punya keinginan agar hasilnya optimal. Kita tidak mau menggunakan segala cara untuk mendapatkan itu. Karena kita mengusung politik nilai,” jelasnya.

Caleg DPRD Provinsi lainnya, Imam Fauzan, juga mengaku tidak ada masalah memiliki rival pemuda di internal partai. Soal perebutan kursi, Imam Fauzan mengaku tidak gentar dan menyerahkan kepada rakyat.

“Masalah siapa yang memperbutkan (suara pemuda), saya tidak ada masalah. Kita sama-sama dari partai yang sama untuk membesarkan partai. Siapa saja pilihan masyarakat tidak jadi masalah. Saya ini berniat membesarkan partai,” bebernya.

Ia tidak menepis bahwa sudah ada beberapa kelompok masyarakat yang telah menyatakan sikap untuk mendukung. Hanya, dari semua kelompok masyarakat itu, benar-benar murni tidak ada paksaan. “Kalau mau bergabung kan Alhamdulillah. Kalau tidak, kita tetap serahkan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sebagai putra elite politik DPP, bukan hal yang tidak mungkin Imam Fauzan menjadikan keberhasilan dan jaringan ayahnya sebagai modal politik. Namun, dia mengaku sama sekali tidak memiliki tujuan itu.

“Kalau masalah untuk memanfaatkan bapak (Amir Uskara,red), itu mungkin tidak ada. Saya harus hilangkan. Karena kalau mau, saya pasti pilih Dapil Gowa – Takalar. Tapi saya cari proses, makanya saya pilih Makassar A,” pungkasnya.

Terpisah, Caleg DPRD Kota Makassar Dapil Panakkukang – Manggala dari Partai NasDem, Zaenal Amri, menyatakan, dirinya terjun ke politik bukan sebagai ajang coba-coba. Karenanya, ia massif melakukan sosialisasi di daerah pemilihannya.

“Partai NasDem yang dikenal sebagai partai tanpa mahar telah memberikan kesempatan bagi saya. Dan tentunya saya tidak akan menyia-nyiakan ini, dengan melakukan yang terbaik. Saya sangat optimistis mendapatkan satu kursi di DPRD Makassar,” kata Zaenal Amri.

Pakar Politik Universitas Muhammdiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan, jika caleg milenial harus punya kesiapan untuk menghadapi incumbent di setiap dapil.

“Saya kira tergantung kesiapan masing-masing Caleg dan partai politik. Semua Dapil punya karakter dan level persaingan yang berbeda. Caleg senior petahana yang merawat infrastuktur organisasi dan melayani konstituen dengan baik, tentu punya peluang lebih besar,” katanya.

Dirinya juga menyebutkan jika Caleg baru atau milenial perlu kerja keras demi mendapatkan simpati dan dukungan dari masyarakat. Apalagi jika mereka tidak memiliki finansial yang mencukupi ketimbang petahana.

“Tetapi kalau Caleg-caleg lama itu juga stagnan dalam interaksi dengan konstituen, dalam arti membantu konstituen secara sporadis dan tanpa persiapan yang memadai. Atau baru muncul menjelang momen politik tertentu. Bisa saja kursi yang selama ini di miliki, akan direbut caleg muda millenial yang lebih siap dan menawarkan model hubungan dan interaksi yang lebih baik,” tuturnya.

Luhur juga menyebutkan jika fenomena kehadiran Caleg muda millenial memang selalu menggembirakan sekaligus mencemaskan. Menggembirakan karena telah merefleksikan berhasilnya pendidikan politik dan terjadi mobilitas serta sirkulasi elit politik baru.
“Tetapi juga cukup mencemaskan karena di beberapa situasi mereka hadir karena patronase elit lama. Mereka cenderung dihadirkan untuk menjadi pelengkap dari tuntutan regulasi pemilu,” tutupnya. (*)


div>