SELASA , 18 SEPTEMBER 2018

Jangan Sepelekan Akar Rumput

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 24 September 2012 13:24

Pilkada Sulsel masih penuh misteri. Hingga kini, belum bisa diterka, apakah akan diikuti tiga pasang atau head to head (dua pasang), meski tiga pasangan kandidat gubernur dan wakil gubernur yang telah mendaftar di KPU Sulsel semuanya optimis lolos. Bahkan, Minggu (23/9) kemarin ketiga pasangan ini telah menjalani pemeriksaan kesehatan di RSUP Wahidin Sudirohusodo. Apakah akan sama mengejutkannya dengan Pilkada DKI? Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Mau tahu apa yang membuat Pilkada DKI begitu mengejutkan? Menurut sejumlah pengamat, kejutan di Pilkada DKI karena kuatnya arus bawah (grass root).

Kalau begitu, mari kita bicara masalah suara arus bawah. Pada Pilgub Sulsel, suara arus bawah juga memiliki jumlah yang cukup banyak. Mereka tidak boleh disepelekan. Masyarkat kalangan bawah lebih banyak akan datang ke TPS untuk mencoblos, di banding kalangan menengah dan atas.

Masyarakat arus bawah biasanya membangun solidaritas politik yang kuat. Inilah solidaritas politik arus bawah. Mereka tidak takut menghadapi siapa pun karena saat menuju kotak pemilihan, mereka maju sebagai warga masyarakat yang sehat, bebas, dan merdeka secara politik. Banyak di antara mereka justru kader suatu partai. Tapi suara partai saat ini tidak terlalu laku. Suara partai dianggap angin lalu.

Rakyatlah yang berdaulat dan bukan partai. Warga negara yang bergerak dan berhak memilih pemimpin secara merdeka dan bukan lagi partai. Rakyat sudah semakin paham bahwa selama ini mereka “ditunggangi” kepentingan partai. Simpati terhadap parpol pun hilang saat Pilkada. Yang muncul adalah perhatian terhadap sosok dan figur kandidat. Makanya banyak kader parpol yang justru tidak mendukung kandidat yang diusung parpolnya.

Karena itu, mesin politik yang lengkap bukan jaminan mudah menang jadi jawara di Pemilukada. Pemilukada adalah pertarungan figur, mesin partai meski membantu tapi tak terlalu signifikan saat pemilihan. Konteks Pilkada memang seperti ini, maka koalisi elite bukan segalanya.

Suara elit belum tentu segaris lurus dengan suara akar rumput. Apalagi, pemilih mengambang tak mudah diikat oleh keputusan politik elit. Terlebih lagi, adanya antipati publik terhadap elit dan partai. Bisa jadi, suara elit berbanding terbalik dengan suara arus bawah. Sangat mungkin sekali suara level elite tak linear sampai ke bawah.

Bagi kandidat yang didukung banyak parpol, janganlah terlalu pede. Karena, saat Pilkada adalah figur yang  mampu merebut hati dan pikiran rakyat.

Suara rakyat, suara arus bawah, jelas suara politik sejati. Mereka siap membuktikan bahwa rakyat bukanlah “antek” parpol. Dan suara arus bawah tak terkira derasnya, bisa menjebol kandidat yang diusung begitu banyak parpol. Contohnya, ya kemenangan Jokowi-Ahok itu! (*)


Tag
div>