MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Jangan Sepelekan Pemilih Pemula

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 18 September 2015 15:41
Jangan Sepelekan Pemilih Pemula

int

* KPU Maksimalkan Sosialisasi, Tekan Angka Golput
* JSI: Model Kampanye Kandidat Bisa Pengaruhi Pemilih Pemula

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Voters anak muda cukup menjanjikan di Pilkada. Data Pemilih Sementara yang resmi dilangsir KPU menyebutkan prosentase jumlah pemilih pemuda cukup signifikan di Pilkada. Untuk pemilih pemula saja mencapai 3-4 persen di setiap daerah.

Partai politik dan pasangan calon kepala daerah di 11 pilkada Sulsel, diharapkan dapat memaksimalkan dukungan pemilih pemula yang mengalami peningkatan. Jumlah pemilih pemula dalam Pilkada serentak 2015 secara nasional yang telah dihimpun KPU melalui Daftar Pemilih Sementara sekitar 1.820.143 pemilih atau 1,85 persen dari jumlah total pemilih secara nasional sebanyak 98 juta pemilih.

Khusus di Sulsel, Komisioner KPU Sulsel Faisal Amir berharap pasangan calon kepala daerah dan parpol, dapat menyasar secara maksimal para pemilih pemula dan pemilih perempuan. Hal ini setelah KPU Sulsel menargetkan tingkat partisipasi hingga 80 persen pada pemilihan kepala daerah serentak tahun ini.

Menurut Faisal, selama ini ada kencederungan dimana partisipasi pemilih pada pilkada lebih tinggi dibandingkan pada pemilihan presiden. Namun di sisi lain, tingkatnya lebih rendah dibandingkan pemilihan legislatif.

Adapun pada pileg 2014 lalu, rata-rata tingkat pemilih di Sulsel mencapai 75 persen. Fakta itu disebut menjadi pemacu bagi KPU untuk bekerja keras pada pilkada tahun ini. “Untuk itu kita berharap target sasaran pemilih pemula, pemilih perempuan, dapat dimaksimalkan untuk mengurangi angka golput,” ujarnya, Kamis (17/9).

Data DPS Pilkada mencantumkan jumlah pemilih pemula terbanyak terdapat di Kabupaten Gowa, yakni 14.694 orang atau berkisar tiga persen dari total pemilih sementara sebanyak 548,576 orang.

[NEXT-RASUL]

Lonjakan pemilih pemula cukup signifikan (sekira 4 persen) terdapat di Pilkada Luwu Utara (Lutra) dan Luwu Timur (Lutim). Dari 10,398 tambahan pemilih sesuai DPS Lutim, sekira 8,108 diantaranya merupakan pemilih pemula. Sementara di Lutra, data pemilih pemula mencapai 8.108 orang.

Di Pangkep, angka pemilih pemula menembus 8,217 orang yang tersebar di 13 kecamatan di daerah ini. Pemilih pemula teridentifikasi banyak berdomisili di wilayah perkotaan, diantaranya di Kecamatan Pangkajene sebanyak 1.461 orang dan Kecamatan Bungoro sebanyak 1.233 orang.

Pilkada Maros yang dihuni 258 ribu pemilih sesuai DPS, terdata memiliki pemilih pemula sebanyak 7,444 orang. Sementara angka pemilih pemula di Pilkada Bulukumba mencapai 6,628 orang.

Selayar yang memiliki jumlah pemilih terendah diantara 11 daerah Pilkada 2015 di Sulsel, memiliki pemilih pemula sebanyak 2.859 orang. Jumlah tersebut lebih rendah dibanding data pemilih pemula Kabupaten Barru yang mencapai 3,756 orang dari total pemilih 131,081.

Dua daerah bertetangga, Toraja dan Torut memiliki tambahan pemilih dari pemilih pemula masing-masing 4,442 dan 5,592 orang. Domisili para pemilih tersebut, tersebar hampir merata di 19 kecamatan di Toraja atau di 21 kecamatan di Torut.

Di Soppeng, tambahan pemilih pemula menghampiri lima ribuan. Meski mengalami penurunan jumlah pemilih dari DPT Pilres 2014, namun DPS Pilkada daerah ini mencantumkan identifikasi pemilih pemula sebanyak 4,974 orang yang tersebar di delapan kecamatan, terutama di Lalabata sekira 1.009 orang.

[NEXT-RASUL]

Sementara di Bulukumba, identifikasi pemilih pemula terdata paling besar di Kecamatan Gantarang sebanyak 1.038 orang. Selain itu, terdapat 5,590 pemilih lainnya yang ada di sembilan kecamatan lain di Bulukumba.

Faisal mengatakan, KPU Sulsel bersama 11 KPUD tengah merancang desain program kerja yang diharapkan dapat menggenjot partisipasi pemilih. Salah satunya dengan memaksimalkan sosialisasi secara merata kepada seluruh lapisan masyarakat pemilih. KPU juga mempelajari pengalaman pada pemilihan lalu, berupa hambatan dan pemicu terhadap jumlah partisipan.

“Untuk itu kita berharap juga adanya peran maksimal seluruh pihak untuk turut membantu terpenuhinya target partisipasi pemilih, khusunya kepada pasangan calon kepala daerah dan partai pengusungnya,” kata Faisal.

Manajer Strategi Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI) Irfan Jaya mengatakan ada beberapa faktor yang bisa menjadi penentu para pemilih pemula ketika menentukan pilihan.

Salah satunya kata dia adalah dengan melihat dari segi model kampanye kandidat. Pemilih pemula cenderung menyukai kandidat yang model kampanyenya sesuai dengan selera anak muda.

[NEXT-RASUL]

“Misalnya kampanye kandidat menggunkan konser musik, acara olahraga yang sedang trend dikalangan anak muda jaman sekarang,” kata Irfan. Selain itu, lanjut Irfan, pemilih pemula cenderung ikut-ikutan dengan afiliasi komunitasnya. “Pertimbangan lainnya para pemilih sebelum menetukan pilihannya juga dari visi misi kandidat, apakah berpihak pada kelompok pemuda atau tidak,” jelasnya.

Sementara itu Pakar Politik Universitas Hasanuddin Adi Suryadi Culla mengatakan selama ini naik turunnya jumlah dan tingkat partisipasi pemilih di setiap event politik salah satunya disebabkan karena penyelenggara pemilu dan partai politik tidak secara sungguh-sungguh menjadikan pemilih pemula sebagai sasaran pendidikan politik, yakni pemilih dengan rentang usia 17 hingga 22 tahun ini.

“Hal ini disebabkan karena biasanya pemilih pemula cenderung memiliki tipologi yang beragam dalam mengekspresikan sikap politiknya,” ujar Suryadi. Menurut Suryadi, pemilih pemula dinilai cenderung dinamis dalam berpikir dan bertindak. Kedinamisan tersebut berujung pada kesulitan penyelenggara pemilu dan partai politik untuk menentukan tren yang sedang berkembang di komunitas pemilih pemula.

“Sehingga jika ada kandidat dan partai politik yang dapat membaca dan menggarap pemilih pemula secara efektif, tentunya akan mendulang dukungan lebih pada pilkada nanti, jadi jangan disepelekan,” paparnya.

[NEXT-RASUL]

Selain itu, dalam menggarap pemilih pemula dan pemilih perempuan perlu adanya pendekatan dan upaya pada orang terdekat. “Hal ini karena pendekatan kampanye secara konvensional dan terpola selama ini cukup sulit menyesuaikan dengan karakter pemilih pemula yang khas dan cenderung keluar dari pola yang ada,” kata Suryadi.

Bukan hanya itu, pemilh pemula memiliki kecenderungan rasa ingin tahu yang besar, namun masih apolitis, sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama dan metode yang berbeda dibandingkan dengan menyasar pemilih biasa.

“Pemilih pemula juga merupakan pemilih yang ekslusif, sehingga pendekatannya juga mesti dilakukan secara khusus,” bebernya. Meskipun dalam memaksimalkan tingkat partisipasi pemilih pemula cenderung rumit, namun menurut Suryadi, hal tersebut tidak boleh diabaikan, karena selama ini tren pemilih pemula selalu menunjukkan jumlah yang meningkat di setiap masa-masa politik.

”Untuk itu biasanya jumlah golput ini lebih besar kontribusinya dari kalangan pemilih pemula, maka hal ini perlu menjadi agenda serius penyelenggara pemilu, partai politik maupun kandidat untuk memaksimalkannya, karena dengan partisipasi politik pemilih pemula yang maksimal akan meningkatkan kreativitas politik,” terangnya. (E)


Tag
  • HL1
  •  
    div>