MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Janji Manis Para Caleg

Reporter:

Fahrullah

Editor:

Iskanto

Kamis , 27 September 2018 07:45
Janji Manis Para Caleg

ilustrasi (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Masa kampanye partai politik (Parpol) dan Calon Legislatif (Caleg) sudah dimulai sejak 23 September lalu. Untuk bisa mendapatkan suara yang memuaskan, caleg harus pandai-pandai mengikat hati pemilih dengan cara mengubar-umbarkan janji kepada para pemilih. Bahkan ada dari mereka berjanji diluar kewenangan tugas-tugas mereka di dewan.

Janji demi janji diberi menjelang pesta demokrasi. Inilah yang digaungkan oleh para caleg. Awalnya ingin mengatasnamakan rakyat ketika berkampanye. Namun kala mereka mendapatkan kursi panas, janji tinggallah janji. Janji manis mereka sudah mereka lupakan.

Salah satu caleg incumbent DPRD Sulsel, Fachruddin Rangga mengaku, sebagai anggota DPRD hanya menjual kepentingan rakyat yang bisa diusulkan. Bukan sekadar janji-janji, karena anggota DPRD fungsinya pengawasan hingga mengusulkan kepentingan masyarakat luas.

“Dalam mengikuti kontestasi politik 2019, sebagai incumbent tentu perlu menjual program yang mempunyai nilai lebih, oleh karenanya yang paling terpenting menjadi perhatian adalah peningkatan ekonomi rakyat khususnya di wilayah pedesaan,” kata Fachruddin Rangga.

Dirinya menyebutkan, pembangunan ekonomi kerakyatan itu sangat penting untuk meningkatan penghasilan masyarakat. Apalagi saat ini pemerintah memiliki koperasi simpan pinjam untuk yang membutuhkan.

“Pendekatannya adalah mendorong pemerintah Sulawesi Selatan meningkatkan anggaran yang bersentuhan dengan bidang pertanian, perikanan kelautan, UKM dan sokongan anggaran untuk bumdes,” jelasnya politisi Golkar ini.

Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Aswar Hasan mengatakan, jika saat ini semua Caleg harus bekerja ekstra agar bisa dipilih oleh masyarakat. Terkhusus caleg pendatang baru. “Mereka harus memperkenalkan diri lebih awal dan harus menjual konsep baik kepada masyarakat,” katanya.

Untuk caleg yang menjual prrogram diluar kebijakan DPRD, menurut Aswar lebih baik ada segelongan memberikan kritikan dan sebaiknya tidak usa dipilih. “Itu harus dikritik, caleg itu menunjukkan kebodohan dan sebaiknya tidak usah dipilih,” sebutnya. (*)


div>