SENIN , 24 SEPTEMBER 2018

Jebakan Batman Dari Sang Jenderal

Reporter:

Editor:

Muhammad Alief

Jumat , 10 Agustus 2018 15:36
Jebakan Batman Dari Sang Jenderal

Politisi Muda Gerindra Selayar, Suharlim

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Setelah diumumkan pasangan dari masing – masing calon Presiden, baik Jokowi maupun Prabowo maka semua gonjang ganjing politik antar kedua kubu ini telah selesai.

Jauh sebelum keduanya menentukan pasangan, kedua poros ini sempat saling mengintip kamar koalisi. Tentu masing – masing ingin mengetahui siapa yang menjadi calon pasangannya. Apakah kamar sebelah bakal menggandeng ulama, ketua partai, pengusaha atau sipil.

Ternyata Jokowi duluan menggandeng KH Ma’ruf Amin selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Maka secara tidak langsung koalisi ini sudah masuk dalam perangkap politik golongan. Bisa jadi ini langkah yang kurang tepat bagi kubu petahana.

Bahkan beberapa politisi yang berada dikubu Jokowi seringkali berkicau di sosial media untuk tidak melibatkan agama dan ulama dalam ranah politik interest.

Kicauan itu disebabkan karena banyaknya ulama yang terlibat di kubu penantang Jokowi bahkan melarang untuk menggunakan dalil – dalil agama untuk kepentingan politiknya.

Namun yang menjadi soal karena ternyata pihak Jokowi sendiri malah menggandeng ulama, apakah ini bakal menjadi senjata makan tuan atau bagian dari siasat sang Jenderal dalam membuat jebakan batman untuk kubu Jokowi.

Memang dari awal beberapa nama yang berlatar agamais telah muncul dari kubu Jokowi. Dengan catatan penting bahwa koalisi Prabowo juga bakal menggandeng figur yang punya latar belakang yang sama. Meskipun ternyata realitas politik, tidak sesuai dengan apa yang mereka perkirakan.

Padahal sikap politik Jokowi yang memilih ulama adalah bagian dari siasat Prabowo dengan melempar wacana itu sebelumnya. Artinya menggandeng ulama, maka Jokowi secara tidak langsung menyeret politik golongan untuk masuk diranah politik interest akhirnya terbaca ketakutan – ketakutannya melawan Prabowo. Sekali lagi, sikap politik ini membuat koalisinya masuk perangkap.

Tentu diharapkan politik golongan menjadi pagar besi sang pertahanan yang selama ini mengira koalisi Prabowo pun bakal meminang wapres dari latar belakang yang sama. Karena kecenderungan cara berpolitik seperti ini belajar dari kekalahan Ahok di Pilkada DKI yang dimana keterlibatan pemilih terbesar adalah dari pihak kalangan islam.

Pertimbangan memilih Ma’ruf Amin selain memang punya kapasitas, punya pengalaman yang segudang. Tapi ini juga tidak bisa dinafikkan sebagai upaya untuk memecah belah kekuatan politik golongan karena wacana ini menggelinding dan mengkristal dikubu Prabowo Subianto. Bahkan beberapa gerakan dari ormas – ormas islam selalu dia angkutpautkan dengan nama Ketua Umum Partai Gerindra.

Nah, sikap politik yang sangat mengejutkan dari kubu Prabowo. Bahwa berdasarkan hasil I’jtima ulama merekomendasikan dua nama untuk menjadi Cawapres Prabowo. Keduanya sama – sama punya latarbelakang sebagai ulama yakni Ustadz Abd Somad dan Salim Assegaf Al – Jufri.

Apa yang terjadi, tidak disangka – sangka ternyata hasil Ij’tima itu disambut baik oleh masyarakat Indonesia sehingga arus dukungan itu semakin hari makin kuat.

Beberapa tokoh ulama dan politik memberi support untuk Prabowo menerima rekomendasi tersebut bahkan para ulama mencoba membujuk Ustadz Abdul Somad (UAS) agar menerima hasil Ij’tima ulama.

Namun UAS tetap memilih beristikhomah menjadi pendakwah. Begitupun dengan Salim Assegaf Al – Jufri yang punya infrastruktur politij dengan partai PKS serta arus dukungan terus mengalir sampai ribuan santri menggalang dukungan untuk meyakinkan bahwa hasil Ij’tima ulama adalah pilihan terbaik untuk solusi Indonesia sekarang ini.

Kedewasaan yang matang serta sikap yang tak ambisi akan kekuasaan itu telah diperlihatkan oleh ustads Abdul Somad. Ia lebih paham bagaimana psikologi ummat saat ini ketika ia harus menerima rekomendasi ulama itu.

Lalu seperti apa kekuatannya ketika poros nasionalis – agamais itu terbentuk tentunya akan sulit bagi koalisi Jokowi untuk mengalahkan itu kecuali mengambil cawapres yang punya latar belakang yang sama sehingga bisa memecah belah pemilih islam yang notabenenya sebagai pemilih terbesar di Indoensia.

Disisi lain hal ini menandakan bahwa sikap kepedulian kubu penantang Jokowi yang berusaha untuk menjauhkan umat dari konflik perang tafsir ayat-ayat suci. Sementara kubu Jokowi akan menyeret agama untuk menjadi jualana politk tak terlecuali dalil – dalil agama untuk melegitimasi perjuagannya dalam meraih kemenangan.

Kejutan selanjutnya, ternyata Prabowo tampil sebagai seorang negarawan sejati yang lebih mengutamakan kepentingan ummat dan negara diatas kepentingan pribadinya. Dengan tidak memilih cawapres yang punya latar belakang ulama karena jikalau memilih ulama maka sudah pasti ummat akan terbelah menjadi dua poros apalagi di poros Jokowi sudah menggandeng ulama senior.

Jadi kebesaran jiwa sang pemimpin terlihat disini dengan tidak menggandeng keterwakilan ulama meskipun arus dukungan dari kelompok ulama terus mengalir deras. Tapi Prabowo lebih memilih jalan lain yang lebih menyejukkan jutaan ummat di Indonesia.

Prabowo memilih menggandeng Sandiaga Uno yang tengah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Keduanya punya kartu anggota partai yang sama, tetapi memilih Sandiaga Uni dianggap sudah tepat ketimbang memilih ulama. Meskipun sempat diterpa issu yang tak sedap soal mahar politik.

Kapasitas Cawapres Prabowo (Sandiaga Uno) juga tidak bisa diragukan. Sandiaga Uno, adalah seorang anak muda yang sukses didunia pengusaha kemudian memilih untuk mewakafkan diri didunia politik.

Selamat untuk koalisi Prabowo yang tidak memilih keterwakilan Ulama. Pilihan politik ini sudah telat apalagi seorang mantan wakil gebernur DKI Jakarta yang punya komitmen tinggi meskipun harus mundur dari jabatan itu.

Sandi adalah seorang anak muda yang menginspirasi dan bisa mewakili golongan pemilih milenial. Kehadiran Sandi bisa menjadi magnet bagi pemilih – pemilih pemuda/pemudi atau generasi zaman Now apalagi dengan karakternya yang cool.

Dengan demikian issu pokitik golongan tidak bakal menjadi jualan kampanye untuk Pilpres 2019 sehingga pilpres ini bisa berjalan aman damai dan sejuk tanpa menyeret wacana agama kedalam politik interest.

Tetaplah happy ending untuk semua pendukung kedua pasangan calon. Salam Pemilu Damai, Sehat dan berkualitas untuk Indonesia yang berkemajuan.

Penulis : Suharlim (Politisi Muda Gerindra Selayar)


div>