SABTU , 15 DESEMBER 2018

Jelang Kirab Satu Negeri, Ketua GP Ansor Temui Kapolres Maros

Reporter:

Editor:

Muhammad Alief

Rabu , 26 September 2018 14:28
Jelang Kirab Satu Negeri, Ketua GP Ansor Temui Kapolres Maros

int

MAROS, RAKYATSULSEL.COM – Jelang pelaksanaan kegiatan Kirab Satu Negeri Gerakan Pemuda Ansor, di Kabupaten Maros, yang digelar pada tanggal 9-10 Oktober 2019 mendatang, Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Maros, Abrar Rahman, bersama Komandan Satuan Koordinasi Cabang (Satkoorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Ibrahim, bersilaturahim dengan Kapolres Maros, Rabu (26/9).

“Kedatangan kami menemui langsung Bapak Kapolres Maros selain bersilahturahmi, juga dalam rangka mengkomunikasikan kegiatan Kirab Satu Negeri Gerakan Pemuda Ansor di Kabupaten Maros, tanggal 9-10 Oktober 2019 nanti,” ungkap Abrar.

Kepada Kapolres Maros, Abrar menjelaskan beberapa rangkaian kegiatan Kirab Satu Negeri GP Ansor yang antara lain, Istogotsah dan Doa Untuk Negeri di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Ziarah Makam Pendiri NU Sulsel, Anregurutta Puang Ramma di Tambua, Kecamatan Lau dan terakhir penanaman pohon di area Wisata Rammang-Ramang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa.

“Kirab Satu Negeri ini juga akan bergerak dari lima titik, dimana ada 17 orang yang membawa bendera merah putih. Hal ini bermakna hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 dan dalam sehari semalam umat Islam melaksanakan shalat wajib sebanyak 17 rakaat,” jelasnya.

Melalui Kirab Satu Negeri GP Ansor, menurut Abrar, menjadi upaya mengantisipasi paling tidak menangkal empat hal yang tengah terjadi di Indonesia saat ini.

Pertama, ancaman dari sekelompok kecil orang yang ingin mengubah konsensus kebangsaan Indonesia yaitu, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Yang kedua, sambungnya, ada kelompok kecil yang menggunakan agama sebagai alat politik atau mempolitisasi agama, dan menggunakan agama sebagai sumber konflik.

“Ada pihak-pihak yang menggunakan pemahaman agama mereka sebagai kebenaran tunggal, suka menyesatkan dan mengkafirkan pihak lain,” tegas Abrar.

Ketiga, lanjutnya, masyarakat sebenarnya toleran dan jumlahnya mayoritas, menjadi kalangan diam sehingga suara kecil yang intoleran yang mengemuka dipemberitaan.

Dan yang keempat, keprihatinan kondisi negara lain, khususnya dunia Islam yang dilanda konflik peperangan yang tidak berkesudahan. (*)


div>