KAMIS , 15 NOVEMBER 2018

Jelang Penentuan Pasangan, IYL Masih Sempatkan Urus Penelitiannya di Luar Negeri

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Sabtu , 03 Juni 2017 18:19
Jelang Penentuan Pasangan, IYL Masih Sempatkan Urus Penelitiannya di Luar Negeri

Ketua PMI Sulsel, Ichsan Yasin Limpo, dalam kunjungan studi komparasi di Oakleigh Primary School and Kindergarten, Australia, Senin (20/3)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pasca-lulus ujian dengan nilai sangat sempurna di proposal gelar doktornya di Unhas, Ichsan Yasin Limpo (IYL) mulai menyusun jadwal melakukan penelitian di tujuh negara.

Sesuai rencana, Ichsan yang juga dikenal sebagai pelopor pertama pendidikan gratis di Indonesia, memulai penelitiannya dibeberapa sekolah di Singapura, 4-6 Juni 2017 mendatang.

“Selama dua hari, bapak (IYL) mengagendakan melakukan penelitian di Singapura. Selain wawancara langsung, juga ada quisioner yang akan dibagikan ke beberapa sekolah yang dijadikan sampel,” kata Juru Bicara IYL, Rezky Fatmala Passalo, Sabtu (3/06/17).

Key, sapaan akrab Rezky Fatmala, menambahkan, setelah penelitian penyusunan desertasi doktor mantan Bupati Gowa itu di Singapura, Ichsan menjadwalkan akan melakukan penelitian yang sama di Malaysia, sebelum ke lima negara lainnya.

Sekadar diketahui, Ichsan yang tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana di Fakultas Hukum, Universitas Hasanuddin (Unhas) fokus pada penelitian penyusunan desertasi tentang “Politik Hukum Pendidikan Dasar Dalam Sistem Pendidikan Nasional”. Tujuh negara yang dijadikan lokasi penelitian Ichsan, yakni Singapura, Malaysia, Swiss, Jepang, Korea, Newzealand dan Belanda.

Sebelumnya, ujian proposal penelitian yang diajukan Ichsan Yasin Limpo di dilewati dengan sempurna. Bahkan, tujuh guru besar yang menjadi tim penguji dan promotor kandidat doktor ini tak ragu memberi nilai A.

Nilai sempurna yang jarang didadapatkan calon peneliti saat melakukan ujian proposal, berhasil dicatatkan Ichsan yang secara meyakinkan mampu memukau para guru besar di bidang hukum, tata negara, maupun di bidang pendidikan.

Di proposal penelitian ini, ketua PMI Sulsel ini, mengambil latar belakang dari Pembukaan UUD 45 aline 4 yang garis besarnya tengang negara harus bisa mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam kajiannya, Ichsan melihat sistem pengelolaan pendidikan Indonesia masih ‘tertinggal dan terbelakang’ jika dibanding dengan sistem pendidikan yang ada di negara negara Asia lainnya.

“Hal ini dilihat dari pelayanan pendidikan nasional yang masih berorientasi pada filosofi ‘stres akademik’ yang cenderung memaksakan, menekan, bahkan mengancam. Cara ini tentu saja tidak akan menciptkan atmosfir belajar yang kondusif untuk memberikan ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengembangkan krativitasnya,” papar Ichsan yang di ujian ini mengenakan jas almamater Unhas.

[NEXT-RASUL]

Padahal, lanjut dia, kreativitas sangat dibutuhkan untuk berinovasi dan berkompetisi di masa mendatang. Sebab
dampak dari penerapan sistem pendidikan itu berdasarkan hasil PISA (programer for internasional student assesment), kemampuan anak Indonesia usia 15 tahun di bidang Matematika, sains dan membaca masih rendah diibanding dengan peserta didik di dunia.##


Tag
div>