JUMAT , 14 DESEMBER 2018

Jelang Pengerjaan Tol Layang Pettarani, Distribusi Air PDAM Terganggu, Pelaksana Diminta Profesional

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Selasa , 06 Februari 2018 10:45
Jelang Pengerjaan Tol Layang Pettarani, Distribusi Air PDAM Terganggu, Pelaksana Diminta Profesional

Mesakh Raymond Rantepadang. (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pengerjaan proyek penggalian jembatan tol layang Pettarani di Kota Makassar, berdampak terhadap terganggunya distribusi air bersih PDAM pada sejumlah wilayah. Pelaksana proyek pun diminta profesional, dengan memanfaatkan teknologi.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar menilai, pelaksana proyek tersebut tidak mampu mengantisipasi dan berkoordinasi dengan PDAM selaku pemilik pipa distribusi. Sekretaris Komisi B DPRD Kota Makassar, Mesakh Raymond Rantepadang, mempertanyakan kompetensi pihak pelaksana (kontraktor) yang melakukan pekerjaan penggalian pembangunan proyek jembatan tol tersebut.

Menurutnya, mereka harus mampu mengantispasi hal tersebut dengan memanfaatkan alat canggih. Semisal Georadar, untuk mendeteksi jaringan pipa PDAM Makassar.

“Ini kan patut dipertanyakan, mengapa sampai tidak bisa mendeteksi jaringan pipa yang ada. Padahal, jika menggunakan alat secanggih Georadar, tentu hal tersebut bisa diantisipasi,” ujar legislator asal PDI Perjuangan ini, Senin (5/2) kemarin.

Selain itu, pihak pelaksana proyek dalam hal ini tentu saja jika berkoordinasi dengan PDAM, tentu memegang peta jaringan pipa PDAM lengkap dengan kebutuhan gambarnya.

“Memang perlu mempertajam kembali koordinasi. Ini tentu harus dikomunikasikan antara pemrakarsa dan pihak-pihak terkait lainnya termasuk PDAM,” jelasnya.

PENGAMBILAN SAMPEL. Pekerja mengambil sampel tanah untuk kebutuhan pembangunan jalan Tol layang dalam kota di Jl AP Pettarani, Makassar, Senin (5/2). Rencananya konstruksi jalan tahap pertama akan mulai dikerjakan maret mendatang. SUGIHARTONO/RAKYATSULSEL

Kemungkinan lain yang terjadi jika semuanya telah dipenuhi, namun tetap terjadi adanya kebocoran pipa maka tentu disebabkan faktor Human Error. Artinya, dari sisi manusianya atau pekerjanya yang dituntut harus lebih cermat dan lebih fokus dalam bekerja.

“Tapi kalaupun pelaksana sudah menggunakan Georadar dan peta gambar jaringan pipa, kalau dari sisi manusianya yang bermasalah, artinya asal-asalan dalam bekerja, pasti hasilnya juga tidak sesuai harapan,” ujarnya.

Dijelaskannya, pekerjaan proyek ini memerlukan ketelitian dan kerumitan yang sangat tinggi. Sebab, ada 85 titik perencanaan galian proyek pekerjaan yang akan dilakukan.

Ia berharap, semua faktor pendukung pengerjaan tol layang ini, mulai dari instansi terkait sampai sumber daya manusianya betul-betul harus mampu bekerja secara profesional. Sehingga kekhawatirannya terkait pekerjaan untuk kepentingan publik jangan sampai justru merugikan pelayanan publik termasuk distribusi air bersih dan menimbulkan biaya tinggi.

“SDM yang bekerja harus profesional, jangan asal-asalan. Jangan sampai proyek ini mengakibatkan kepentingan publik lainnya terganggu. Belum lagi perbaikannya, tentu saja menggunakan biaya yang tidak sedikit,” tutupnya. (*)


div>