RABU , 26 SEPTEMBER 2018

Jemaah Abu Tours Melawan !

Reporter:

Fahrullah

Editor:

asharabdullah

Senin , 12 Februari 2018 11:15
Jemaah Abu Tours Melawan !

ist

– Dewan : Penambahan Biaya Bisa Disebut Penipuan

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Tidak kurang dari 16 ribu jemaah umrah Abu Tours harap-harap cemas, menanti kepastian jadwal pemberangkatan. Namun di tengah penantian mereka, manajemen Abu Tours mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan.

Dalam maklumat yang dirilis oleh Abu Tours disebutkan sejumlah persyaratan jika para jemaah tersebut ingin diberangkatkan. Dimana ada tiga opsi yang diberikan. Pertama, menambah biaya paket Rp 6 juta dan mengajak dua jemaah baru dengan harga paket Rp 21 juta. Kedua, menambah biaya paket Rp 10 juta dan mengajak satu jemaah baru dengan harga paket Rp 21 juta.

Dan ketiga, jika jemaah/agen yang telah mendaftar dan tak mengajak jemaah baru, maka wajib membayar paket Rp 15 juta dan berhak mendapatkan bonus voucher umrah tiga lembar dengan nilai per voucher Rp 5 juta.

Dalam maklumat tersebut, Abu Tours juga mengungkap beberapa alasan sehingga para jemaah tidak diberangkatkan.

Diantaranya, terkait terbitnya kebijakan aturan Kementerian Agama melalui Direktorat Bina Umrah dan Haji Khusus 2018 yang menetapkan harga standar minimal umrah Rp 20 juta dan penetapan pajak progresif 5 persen oleh Pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia.

Sehingga, menyebabkan jemaah yang telah membayar paket umrah promo di bawah harga standar agar menambah biaya, plus biaya pajak progressif.

“Bagi jamaah yang bersedia melakukan penambahan biaya dan mengajak jemaah baru, akan langsung diberangkatkan dalam kurun waktu empat hingga tujuh hari setelah penambahan.

Sedangkan jemaah yang tak bersedia menambah biaya sesuai standar Kemenag dan kebutuhan pajak KSA, maka manajemen Abu Tours tetap berkomitmen untuk memberangkatkan umrah, namun hingga kemampuan keuangan manajemen Abu Tours memungkinkan dilaksanakan,” demikian isi maklumat yang juga ditembuskan ke sejumlah pihak, diantaranya Kementerian Agama RI dan Kantor Wilayah se Indonesia tersebut.

Menanggapi maklumat tersebut, salah seorang agen Abu Tours, yang enggan namanya disebutkan menyampaikan, dirinya bersama agen lain sedang menyusun rencana aksi untuk melawan maklumat yang dikeluarkan Abu Tours tersebut.

“Ini sudah jauh dari kesepakatan awal. Selain menambah biaya yang tidak sedikit, juga diharuskan mengajak jemaah baru. Dengan kondisi Abu Tours yang seperti sekarang, apa masih ada jemaah yang mau ikut,” kesalnya, saat dikonfirmasi, Minggu (11/2) kemarin.

Sementara, salah seorang jemaah umrah Abu Tours, Andi Amriani, secara terang-terangan menulis kekesalannya terhadap kebijakan yang diambil Abu Tours tersebut. Dalam statusnya yang diupload berturut-turut pada tanggal 10 dan 11 Februari tersebut, ia bahkan mengaku tertipu. Meskipun, ia adalah mantan karyawan yang pernah bekerja di salah satu grup perusahaan tersebut.

Berikut tulisan yang sempat diupload Andi Amriani, dikutip dari akun sosial medianya :
“Hujan pagi ini harusnya mendinginkan suasana. Tapi kenapa jadi panas?

Jengkel, emosi tingkat dewa tidak terbendung lagi. Maafkan saya Tuhan. Saya salah jika harus marah, tapi memang hari ini saya jengkel. Bukan jengkel pada saudara, sahabat, tapi jengkel sama travel umroh.

Travel umroh yang dulu kukagumi, yang sempat membuatku marah jika ada keluarga menjelek jelekkannya. Bahkan masih sempat emosi jika ada komentar yang aneh-aneh di sosmed tentang travel tersebut. Padahal sudah sejak bulan lalu heboh di media, dan saya masih tenang-tanang saja. Meskipun banyak keluarga, teman, tetangga yang jadi jamaah tertunda, tapi saya berusaha untuk menenangkan semampuku.

Kemarin-kemarin masih sabar. Menunggu keputusan pihak travel umroh, susah untuk menyebut namanya.

Tapi setelah mendengar hasil prescon kemarin dan membaca maklumat itu berkali-kali. Tiba-tiba rasa sedih menghapus kepercayaanku. Seketika hilang, dan menghadirkan rasa jengkel. Tidak tau harus bagaimana. Keputusannya seperti itu. Jamaah harus nambah.

Berat sungguh berat, apalagi wajib membawa jamaah baru seperti yang tertera di kertas maklumat itu.
Pertanyaannya kemudian, dalam kondisi seperti ini masih adakah jamaah yang mau daftar? Tidak sanggupku telpon dari sahabat, teman, jamaah, pun silih berganti hanya menanyakan kenapa seperti itu? Pertanyaan yang sangat sederhana, tapi sungguh membuatku bodoh tidak mampu menjawab.

Tidak salah mereka bertanya, karena dia tau saya pernah bekerja disana, bahkan pernah merasakan berada di Mekkah dan Madinah gratis karena bekerja disana. Tentu hal itu tidak bisa saya lupakan walau saat ini saya lagi jengkel.

Jengkelnya saya, karena keluarga saya ataupun saya sendiri tidak mampu untuk menambah uang sebesar yang diminta. Kalau tidak nambah kecil kemungkinan untuk melihat Baitullah, dan uangpun tidak mungkin kembali lagi.

Lalu, apakah ini penipuan?

Maafkan saya, menulis disini, ini bagian dari ungkapan perasaan.
Bagi yang tidak suka tidak usah baca apalagi komen. Karena kalau ada yang komen yang tidak masuk akal dalam kondisi saya seperti ini, SAYA AKAN MELAWAN !!

Setidaknya ada yang tahu, kalau saya salah satu keluarga dari ribuan jemaah yang tidak mampu untuk menambah dan mungkin tidak mampu lagi untuk meminta dana kembali dalam kondisi perusahaan yang nyaris sakratul maut,” tulisnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi E DPRD Sulsel, Kadir Halid, mengatakan, pihaknya akan melakukan rapat internal terlebih dahulu, sebelum memutuskan kebijakan yang akan diambil. Termasuk memanggil kembali pihak Abu Tours.

Ia menilai, tambahan beban yang diberikan kepada jemaah ini sangat besar. Apalagi pajak 5 persen itu hanya penginapan dan makan saja.

“Saya kira itu sangat besar biaya dibebankan kepada jemaah. Kalau pajak paling Rp 1 hingga Rp 2 juta itu sudah cukup,” lanjutnya.

Menurut Kadir, adanya penambahan biaya para jemaah yang cukup tinggi itu bisa membahayakan Abu Tours, karena bisa dikategorikan penipuan.
“Ini sangat berbahaya, kalau ada yang melapor ke polisi,” kata Kadir mengingatkan. (*)


div>