• Minggu, 23 November 2014
Iklan | Epaper | Redaksi | Citizen Report

Jen Tang Dicekal Dan Diancam 10 Tahun Penjara

Dua Kali Mangkir, Digarap Polda 6 Jam, Wajib Lapor Senin-Kamis

Jumat , 19 April 2013 11:19
Total Pembaca : 519 Views
ASYIK MENELPON. Tersangka reklamasi pantai ilegal Losari, Soedirjo Aliman alias Jen Tang asyik menelpon di lokasi proyek pembangunan hotel Swiss Bell-inn, belakang Zona Cafe, kemarin. Jen Tang diwajibkan wajib lapor Senin-Kamis. (Foto : ASEP/ RAKYAT SULSEL)

Baca juga

Setelah dua kali mangkir dari panggilan penyidik Ditreskrimsus Polda Sulsel dengan alasan berobat ke Singapura, Soedirjo Aliman alias Jen Tang, pimpinan PT Bumi Anugerah Sakti (BAS), akhirnya datang memenuhi pemeriksaan sebagai tersangka kasus reklamasi pantai ilegal Jalan Ujung Pandang (belakang Zona Cafe, Makassar), Kamis (18/4) kemarin.

Dalam pemeriksaan itu, Jen Tang yang didampingi kuasa hukumnya Ulil Amri SH diperiksa selama kurang lebih 6 jam dan diajukan 56 pertanyaan seputar keterlibatannya dalam proses reklamasi itu.

“Pemeriksaannya dimulai sekitar pukul sepuluh pagi sampai empat sore tadi, dengan jumlah pertanyaan yang diajukan sebanyak 56 pertanyaan,” jelas Kombes Pol Endi Sutendi , Kabid Humas Polda Sulsel didampingi Direktur Reskrimsus Polda Sulsel, Kombes Pol Pietrus Waine, dan Kasubdit Sumdaling Reskrimsus Polda Sulsel, Kompol Nurdin di lokasi reklamasi.

Endi menerangkan, pengusaha ternama di Sulsel itu terbukti melanggar reklamasi dan dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 35 huruf l subs pasal 73 ayat (1) huruf g UU RI No 27 Thn 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir & Pulau-pulau kecil, Pasal 61 huruf a subs pasal 69 ayat 1 UU RI No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dan Pasal 109 UU RI No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan & Pengelolaan LH.

“Yang bersangkutan dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman sampai 10 tahun penjara,” ujar bekas Waka Polrestabes Makassar ini.

Ditambahkan Dirreskrimsus Polda Sulsel Kombes Pol Pietrus Waine, saat ini pihaknya telah melayangkan surat ke BPN agar dilakukan pengukuran ulang untuk menentukan luas yang sebenarnya. Setelah itu, akan diajukan ke Pengadilan Negeri untuk dilakukan penyitaan lahan yang direklamasi. “Surat sudah kita layangkan ke BPN untuk pengukuran ulang,” katanya.

Kendati telah dinyatakan melanggar, namun dari pantauan Rakyat Sulsel di lokasi itu proyek pengerjaan hotel Swiss Bellinn masih terus dikerjakan pihak Jen Tang. Polda Sulsel berdalih pihaknya tidak mensoalkan proses pembangunan itu lantaran yang menjadi fokus polisi adalah masalah reklamasi. “Untuk pembangunan hotelnya bukan domain polisi. Kami hanya mengusut reklamasinya saja,” terang Pietrus.

Dalam kasus tersebut, Polda Sulsel menetapkan dua tersangka, yakni Jen Tang selaku penanggung jawab dan Darmawan Halim sebagai pelaksana proyek. Keduanya, kata Pietrus, belum dilakukan penahanan lantaran dinilai masih kooperatif. “Tidak dilakukan penahanan tetapi wajib lapor setiap hari Senin-Kamis. Tersangka juga telah dilakukan pencekalan agar tak keluar negeri,” tegasnya.

Sebelumnya, penyidik Sub Direktorat Sumber Daya Alam dan Lingkungan (Subdit Sumdaling) Polda Sulsel telah menyita barang-barang milik PT BAS berupa satu unit Crane Service, dua unit Jack Hummer serta satu unit Excavator.

Diketahui, Ditreskrimsus menemukan adanya indikasi penimbunan pantai ilegal di belakang Zona Café’ itu pada November 2011 lalu dengan modus operandi penimbunan bahan material.

Lokasi penimbunan pantai itu juga diklaim oleh PT Pelindo IV sebagai aset negara yang dikelola oleh PT Pelindo. Jen Tang disebut menyewa loasi tersebut namun belakangan pihak Jen Tang memunculkan sertifikat HGB tanpa sepengetahuan PT Pelindo. (RS4)