Jeneponto Semarakkan Lomba Pacuan Kuda | Rakyat Sulsel

Jeneponto Semarakkan Lomba Pacuan Kuda

Selain Sebagai Sarana Hiburan, Juga Pertahankan Simbol

Senin , 01 Oktober 2012 10:14
Total Pembaca : 705 Views
Ilustrasi Pacuan Kuda

Baca juga

Ilustrasi Pacuan Kuda

JENEPONTO – Seperti kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Selatan (Sulsel), Jeneponto juga dikenal memiliki keunikan tersendiri. Wilayah yang jika di Sulsel dikenal juga dengan nama Turatea atau orang yang berasal dari wilayah bagian atas, sejak dulu dikenal memiliki jumlah hewan yakni Kuda yang banyak.

Dikabupaten ini, hampir disetiap rumah warga ada kuda yang ditambatkan didalam kandangnya. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan kuda sebagai alat utama juga sering diadakan diwilayah ini, seperti pacuan kuda.

H Sudirman misalnya, yang ditemui Rakyat Sulsel Minggu (30/9) kemarin dirumahnya, mengatakan, dirinya adalah salah satu dari sejumlah peternak kuda yang ada di Jeneponto.

Sudirman mengatakan, selain peternak, dirinya juga memiliki hobi pacuan kuda, sehingga dirinya biasa mengikutkan kudanya untuk dipacu dilintasan yang biasa dipakai untuk beracu kuda.

“Selain saya ternak, saya juga suka menghibur diri bersama masayarakat lainnya untuk memacu kuda dilintasan,” kata Sudirman.

Sudirman juga tidak henti-hentinya mengajak masyarakat supaya tetap memelihara kuda, agar simbol Jeneponto di Sulsel sebagai penghasil kuda, itu tetap terjaga. “Saya selalu mengimbau masyarakat untuk melestarikan simbol yang sudah turun temurun ini,” kata Sudirman.

Ia juga menambahakan, sekarang sudah kurang orang yang memelihara kuda sehingga, padahal menurutnya, disamping sisi ekonomis, orang yang memelihara kuda juga menghargai budayanya.

“Bayangkan harga kuda naik hingga 9 juta perekor di banding dua tahun yang lalu harga kuda masih kisaran 3 juta per ekor, kuda sangat melonjak harganya di akibatkan karena kurangnya orang yang memelihara kuda,” katanya.

Meski begitu, Sudirman berharap dengan adanya arena pacuan kuda di Kabupaten Jeneponto yang terletak di Kelurahan Empoang Selatan, Kecamatan Binamu dapat memberi semangat bagi peternak kuda di daerah ini. “Itu juga dapat meningkatkan pendapatan pedagang kecil yang berjualan diarea tersebut,” jelasnya.

Lebih jauh, Sudirman mengatakan, kegiatan pacuan kuda ini berlangsung selama dua kali dalam seminggu yaitu, setiap hari Rabu dan hari Minggu, dan kuda yang dipacu itu adalah kuda local.

“Ini perlu di kembangkan di Jeneponto, karena kegiatan seperti menambah semangat peternak kuda, apalagi dari dulu Jeneponto dikenal sebagai penghasil kuda. Selain itu, kuda juga merupakan makanan khas masyarakat jeneponto,” tutupnya. (k3/dj/C)