Kamis, 24 Agustus 2017

Darussalam Syamsuddin

Jihad Sosial

Selasa , 09 Mei 2017 11:07
Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg
Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Setiap orang mendambakan pribadi yang membanggakan, tidak seorang pun  menginginkan untuk menjadi pribadi yang memalukan. Baik di hadapan sesama manusia, apalagi di hadapan Tuhan. Islam tidak pernah mempersempit makna jihad hanya dengan perang atau mengorbankan jiwa, kalau jihad hanya dimaknai dengan perang atau mengangkat senjata itu berarti mempersempit makna jihad itu sendiri, jihad tidak sama dengan qital melainkan segala jenis kesungguhan yang dilakukan oleh siapa pun dengan tujuan menebar nilai-nilai kebajikan bagi sesama dapat dikategorikan sebagai jihad.

Jihad tidak akan pernah terlaksana dengan mudah, melainkan senantiasa mendapat perlawanan dari hawa nafsu. Orang yang berjihad berarti telah menundukkan hawa nafsunya. Karenanya bukan hanya harta, tenanga, waktu melainkan jiwa sekalipun berani ia pertaruhkan. Agama menganjurkan penganutnya dalam urusan jihad agar memilih skala prioritas, misalnya anjuran berjihad dengan harta kemudian jiwa. Hanya saja kebanyakan orang keliru menyikapi dengan cara mengorbankan jiwa hanya karena harta.

Seorang guru yang mengajar dengan ikhlas untuk mencerdaskan anak didiknya, berarti dia sedang berjihad. Murid yang belajar dengan sungguh-sungguh, juga sedang berjihad. Suami yang berusaha maksimal untuk mendatangkan nafkah bagi keluarganya, berarti dia berjihad. Istri yang dengan susah payah meladeni suami dan anak-anaknya, dia sedang berjihad. Orang tua yang bercucuran keringat memenuhi keperluan anak-anaknya, dia sedang berjihad. Anak yang bekerja keras untuk meringankan beban orang tuanya, juga sedang berjihad.

Kalau surga dapat diraih dengan berbakti kepada kedua orang tua, kenapa harus mencari surga di bawah kilatan pedang dan desingan peluru. Kalau membantu sesama muslim di negara lain dengan mengangkat senjata dapat diwakili oleh orang lain, kenapa harus meninggalkan kewajiban memberi nafkah  keluarga yang tidak dapat diwakilkan kepada siapa pun. Kalau masyarakat di negeri sendiri harus dibebaskan dari kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, kenapa secara gegabah mendaftarkan diri untuk berjuang di negara lain. Tidakkah nabi yang mulia berpesan “tinta para ulama lebih utama dari pada tetesan darah para syuhada”.

Berbuat baik kalau cuma sekali, semua orang dapat melakukannya. Bersedekah, menolong orang yang membutuhkan bila hanya sekali, siapa pun dapat memenuhinya. Bersikap santun dan bertutur kata yang sopan bila hanya dilakukan satu kali adalah hal biasa. Tapi  berbuat baik, bersedekah, menolong dan bersikap santun apabila dilakukan secara berulang-ulang, konsisten dan istikamah sehingga menjadi kebiasaan merupakan hal yang luar biasa.

Quraish Shihab menulis bahwa: Dahulu, ketika kemerdekaan negeri kita belum diraih, jihad mungkin dapat mengakibatkan terenggutnya jiwa, hilangnya harta benda, dan terurainya air mata. Kini jihad harus dapat memelihara jiwa, terwujudnya rasa kemanusiaan dan kesejahteraan yang adil dan beradab, merekahnya senyum, serta terhapusnya air mata.

Karena itu apa pun profesi yang digeluti seseorang, misalnya pengusaha, guru, polisi, ulama, dokter dan lainnya sangat berpotensi untuk menjadikan profesinya sebagai ladang untuk menjadi mujahid (orang yang berjihad). Pengusaha dapat berjihad dengan kejujuran dan profesionalismenya. Guru dapat berjihad dengan keikhlasan mencerdaskan anak didiknya. Polisi dapat berjihad dengan mewujudkan ketentraman dan ketertiban serta memberantas premanisme dalam kehidupan masyarakat. Ulama dapat berjihad dengan ilmunya untuk menuntun dan memberi petunjuk kepada umatnya. Dokter dapat berjihad dengan profesinya untuk menyehatkan warga masyarakat. Setiap warga negara dan penganut agama dapat saja memilih jalur jihad sesuai dengan peran sosialnya masing-masing, tentunya diharapkan bermuara pada segala upaya untuk membahagiakan semua makhluk. (*)

Berita Terkait