JUMAT , 17 AGUSTUS 2018

Jumlah Pemilih di Sulsel Naik 2,18 Persen

Reporter:

Fahrullah

Editor:

Lukman

Selasa , 31 Juli 2018 13:40
Jumlah Pemilih di Sulsel Naik 2,18 Persen

Kantor KPU Sulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel memprediksi jumlah pemilih meningkat 2,18 persen pada Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019.

Pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 27 Juni 2018 lalu, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) berada diangka 6.022.987 jiwa dan bertambah 131.741 jiwa pada Pileg mendatang.

Kepala Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) KPU Sulsel yang menangani data pemilih, Ismail Masse menjelaskan, bahwa sedikitnya ada tujuh kabupaten/kota yang kenaikan pemilihnya paling signifikan.

Tujuh kabupaten itu yakni, Jeneponto yang bertambah 10.797 pemilih, Gowa mengalami kenaikan 14.460 pemilih, Bone naik 15.633 pemilih, Wajo bertambah 13.507 pemilih, Sidrap 7.877 pemilih, Pinrang naik 10.487 pemilih, serta Luwu naik 8.536 pemilih.

“Tentunya perubahan ini karena ada beberapa orang yang sudah berumur 17 tahun (layak memilih). Background dari penyusunan daftar pemilih ini diambil dari pemilih Pilgub Sulsel plus pemilih pemula pada tanggal 17 April 2019,” ujar Ismail Masse.

Selain pemilih pemula, perubahan jumlah pemilih sementara ini, menurutnya dipengaruhi oleh pemilih yang terdaftar dalam ATB atau daftar pemilih tambahan saat Pilgub yang lalu. Dimana, jumlahnya memang juga cukup signifikan.

“Pemilih tambahan memang berpotensi ada. Memang tidak terdaftar dalam DPT, namun, mempunyai KTP. Memang mereka saat Pilgub tidak memiliki C6 atau pemberitahuan untuk memilih, tapi punya KTP-El, dan menggunakan hak pilihnya,” lanjutnya.

Daftar pemilih tambahan inilah yang dimasukkan dalam pemilih sementara untuk Pemilu 2019. Meski sudah mengalami perubahan namun, menurut Ismail masih ada peluang adanya perubahan daftar pemilih, sampai pada pemilihan April 2019 mendatang.

Sementara KPU Kota Makassar juga telah menetapakan calon pemilih sementara pada Pemilu 2019 mendatang dengan jumlah 967.487 jiwa.

Jumlah ini menurun 23.397 jiwa dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Wali kota dan Wakil Wali Kota (Pilwalkot) Makassar 27 Juni lalu sebanyak 914.833 pemilih.

Komisioner divisi data informasi KPU Kota Makassar Rahma Saiyed mengatakan, pengurangan ini dikarenakan pada saat penetapan DPT 2018 lalu banyak yang pemilih ganda yang diperkiraan mencapai 49 ribu lebih.

“Karena faktor ada yang ganda, itu dibersihkan, ada juga akibat karena TMS (Tidak Memenuhi Syarat) yang lain. Misalnya, ada yang sudah meninggal, ada juga yang sudah pindah domisili, banyak faktor pengurangan, tapi juga ada faktor penambah,” kata Rahma Saiyed saat dikofirmasi.

Selain pemilih ganda, Rahma juga menyebutkan jika pemilih di lembaga pemasyarakatan (lapas) atau rumah tahanan (rutan) yang tidak memiliki e-KTP sehingga harus dihapus dalam daftar pemilih. “Kalau tidak ada KTP-Elektornik tidak bisa kita masukkan,” ucapnya.

Dirinya juga menjelaskan bahwa saat ini pihaknya masih terus melakukan perbaikan DPS-HP sampai penetapan DPT Pemilu pada 28 Agustus bulan depan. Perbaikan tersebut masih meliputi identifikasi sisa-sisa pemilih ganda.

“Kalau perbaikannya, mencari lagi data ganda, memastikan yang meninggal sudah tidak masuk lagi, yang pindah domisili, terus untuk mereka yang mendapat tanggapan dari masyarakat, kita tidak akomodir,” turunya.

Bahkan pihak KPU Makassar, masih melakukan koordinasi dengan Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Makassar untuk validasi calon pemilih agar kedepan tidak ada lagi pemilih ganda atau namanya tidak terdaftar di DPT. “Jika ternyata memang, pemilih tersebut statusnya NIK-nya bukan warga Makassar, tentu akan dikeluarkan,” jelasnya. (*)


div>