RABU , 12 DESEMBER 2018

Jurnalis Senior Pingsan Dianiaya Oknum POMAL

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Rabu , 19 April 2017 11:38
Jurnalis Senior Pingsan Dianiaya Oknum POMAL

Danlanatamal VI Laksamana Pertama TNI Yusup membantah adanya pemukulan yang dilakukan oknum POM Angkatan Laut (POMAL) terhadap jurnalis senior Salim Djati Mamma di ruan kerjanya, Selasa, (18/4). foto: qudratullah/rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Jurnalis senior di Makassar, Salim Djati Mamma, mengalami tindak kekerasan dari sejumlah oknum diduga anggota Polisi Militer Angkatan Laut (POMAL) Makassar di Warung Kopi (Warkop) 75 Jl Satando Makassar, Selasa (18/4).

Kejadian bermula saat Salim dan beberapa rekannya sedang menikmati kopi di Warkop 75. Tiba-tiba datang puluhan anggota POMAL dan melarang pengunjung warkop parkir di sepanjang Jl Satando.

Salim pun keluar dari warkop untuk memindahkan mobilnya dan melihat oknum anggota POMAL akan mengempeskan ban mobilnya. Salim mengatakan kepada anggota POMAL agar jangan dikempeskan karena akan memindahkan mobil tersebut.

Rupanya anggota POMAL tidak terima dan terjadi adu mulut. Salim bahkan akan dibawa ke markas POMAL yang tidak jauh dari Warkop 75. Namun, pengunjung warkop lainnya melarang dan membawa Salim masuk ke warkop.

Oknum POMAL lalu melakukan serangan dengan mengeroyok Salim di pelataran warkop tersebut. Ia mengalami luka memar dan lecet di bagian wajahnya serta bajunya koyak/robek. Bahkan saksi mata mengatakan bahwa Salim sempat pingsan saat dikeroyok.

Saksi yang dirahasiakan namanya, mengatakan, Salim sempat diseret, bahkan akan diamankan ke markas POMAL. “Untungnya itu Pak Salim pingsan, seandainya tidak kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin akan jadi bulan-bulanan oknum POMAL tersebut,” akunya usai mengantar korban ke RS Akademis Jaury Jusuf Makassar diberitakan Rakyat Sulsel, Rabu (19/4).

Sementara, Salim mengakui, ia mendapatkan perlakuan kasar itu secara tiba-tiba. “Saat itu saya di dalam warkop tiba-tiba saya lihat di luar ada yang mau mengempaskan mobil, saya keluar dan mengatakan jangan dikempeskan biarlah saya pindahkan. Wajarlah saya minta jangan dikempeskan karena apa yang saya gunakan kalau kempes. Tiba-tiba oknum tersebut marah dan membentak lalu membenturkan kepala ke kepala saya. Secara spontan rekan-rekan lainnya datang mengeroyok,” aku mantan Direktur Utama Harian Ujungpangdang Ekspres ini.

[NEXT-RASUL]

Salim mengatakan, perlakuan oknum POMAL tersebut sudah sangat kelewatan. “Saya diperlakukan seperti binatang, setelah dipukul saya lalu diseret. Untungnya saya pingsan, jadi saya selamat dan mereka berhenti memukuli saya,” jelasnya.

Ketua Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Sulsel, Abdullah Rattingan, mengaku, prihatin dengan kejadian ini. “Kita sangat mengecam aksi kekerasan ini. Seharusnya mereka, POMAL, selaku salah satu korps TNI, mengayomi dan memberikan perlindungan kepada masyarakat umum. Bukannya bertindak semena-mena seperti ini,” kecamnya.

“Kita minta kepada POMAL dan Komandan Lantamal VI memberikan sanksi kepada oknum pelaku dan meminta maaf kepada korban serta meminta kepada bawahannya untuk tidak semena-mena kepada masyarakat,” tambah doelbeckz sapaan akrab Abdullah Rattingan.

Selain Salim Djati Mamma, korban lainnya adalah salah seorang pengusaha, H Said. Korban juga mengalami luka-luka di wajah dan badannya.

“Iya, bapak juga mengalami penganiayaan dari oknum POMAL. Saat itu bapak juga ada di lokasi. Tindakan seperti ini tidak dapat dibiarkan. Pelakunya harus diberikan sanksi,” terang Sahruddin Said, anggota DPRD Makassar, yang juga putra H Said.

Terkait masalah ini, Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) VI, Laksamana Pertama TNI Yusup, memberikan klarifikasinya.

Yusup membantah tudingan sejumlah anak buahnya melakukan penganiayaan terhadap warga sipil. “Tidak ada itu pemukulan. Kami ingin meluruskan, anggota tidak melakukan pemukulan, justru anggota saya mau menertibkan parkir liar di lokasi itu,” ujar Laksma TNI Yusup, di Makassar, Selasa (18/4).

[NEXT-RASUL]

Ia mengatakan, pihaknya melalui Polisi Militer (POM) memang memerintahkan untuk melakukan penertiban di area sekitar Warung Kopi (Warkop) Jl Satando karena memang merupakan akses masuk ke Markas Lantamal VI.

Banyak kendaraan yang parkir sedikit menghambat, sehingga melalui anggotanya itu berupaya membantu polisi dalam menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan.

“Jadi, kami mau ajak yang bersangkutan (Salim Mamma, Red) ke markas untuk bicara baik-baik, tapi dia malah menuding anggota mau menangkap,” kata dia lagi.

Yusup melanjutkan, saat penertiban terdapat setidaknya 20 mobil yang parkir di tempat larangan parkir itu, bahkan di tempat tersebut juga ada polisi.

“Ada sekira 20 kendaraan menutup akses masuk tol. Di situ juga ada anggota polisi, saya lalu telepon Kapolda, beliau setuju tak boleh lagi ada yang parkir di situ, makanya kami tertibkan,” tambahnya

Terkait dugaan pemukulan, Yusup menuturkan bahwa korban telah diperingatkan terlebih dahulu dengan langkah persuasif, namun tetap menolak ditertibkan, bahkan ia mengaku sebagai keluarga jenderal.

“Salah satu saudara kita, mungkin karena hawanya panas, kami sudah ingatkan, tapi dia tetap tidak mau karena merasa anggota PWI dan juga mengaku keluarga jenderal, sehingga situasi sedikit memanas. Danlantamal juga jenderal, tapi tak boleh semena-mena begitu dong. Semua harus dijalankan berdasarakan aturan yang berlaku,” jelasnya. (***)

 


div>