JUMAT , 21 SEPTEMBER 2018

Kader Golkar Paling Sering Dibajak

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 17 April 2017 10:12
Kader Golkar Paling Sering Dibajak

int

MAKASSAR,RakyatSulsel.com – Dalam setahun terakhir fenomena politisi pindah parpol meningkat drastis. Peta persaingan parpol di Sulsel sangat dinamis menyusul perubahan struktur kepengurusan. Golkar, Gerindra, NasDem, hingga PAN terlibat saling bajak kader.

Terbaru mantan politisi Golkar yang juga Wagub Sulsel, Agus Arifin Nu’mang (AAN) hijrah ke Gerindra. Ini menambah deretan pelarian eks kader Golkar setelah Rusdi Masse (RMS) dan beberapa lainnya ke NasDem, atau beberapa kader Golkar ke Partai Berkarya.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Golkar Sulsel, Kadir Halid mengatakan terkait kepindahan AAN yang notabene salah satu kader elit Golkar sulsel, ditanggapinya santai. Menurutnya kepindahan AAN ke Gerindra tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja dan target politik Golkar Sulsel.”Perpindahan Pak Agus dan lainya, Gak ada pengaruh sama sekali di Golkar Sulsel,” ujar Kadir, Minggu (16/4).

Seperti diketahui, sudah hampir dua priode Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang vakum dari kepengurusan partai Golkar, sejak ia mendampingi Syahrul Yasin Limpo tahun 2007. Sejak itu pula Agus melepaskan jabatannya sebagai Sekretaris DPD I Golkar Sulsel. Agus pada waktu itu hanya menjadi kader biasa partai Golkar, namun ia tercatat sebagai Ketua sayap partai Golkar, Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Soksi) Sulawesi Selatan. “Sejak beberapa tahun lalu pak Agus jadi kader biasa di Golkar. Kalau pindah partai itu hak dia kami tidak melarang,” tuturnya.

Selain itu ketika ditanya perihal beberapa kader lain yang sudah hengkang dari Golkar Sulsel. Ketua Fraksi DPRD Sulsel itu secara tegas menyebutkan eks kader tersebut tidak memiliki pengaruh mengurangi basis massa di Sulsel. “Lumbung suara Golkar tetap stabil. Solid jelang pilkada nanti,” sebutnya.

Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada semua kader dan sayap Golkar agar tetap bekerja keras guna menghadapi Pilkada yang sebentar lagi digelar di 12 Kabupaten kota di Sulsel. “Instruksi partai wajib dijalankan, semua kader harus patu memenangkan usungan Golkar di pilkada 2018 nanti,” pungkasnya.

[NEXT-RASUL]

Sebelumnya, Ketua Bidang Organisasi dan Daerah DPD Partai Golkar Sulsel, Risman Pasigai mengatakan, pihaknya telah melakukan pertimbangan dan kajian mendalam dalam memetakan zona politik menjelang kontestasi Pilkada serentak 2018 dan Pilgub Sulsel. Soal perpindahan kader Golkar ke partai lain dinilainya sebagai hak politik masing-masing. ” Tidak ada masalah mereka pindah, tidak akan mengganggu konstalasi politik yang ada termasuk keputusan DPP Golkar untuk memenangkan NH pada Pilgub 2018. Dan partai telah mengkaji dari berbagai pendekatan baik dari kalangan kader Golkar sendiri, maupun dari masyarakat Sulsel yang memberikan dukungan,” singkatnya.

Selain AAN yang Hengkang dari Golkar ke Partai lain. Golkar Sulsel juga cukup sukses membajak sejumlah kepala daerah. Salah satunya Bupati Enrekang, Muslimin Bando dari Partai Amanat Nasional (PAN). Tak hanya itu tidak tanggung-tanggung, anak dari Muslimin Bando yang juga pengurus DPW PAN Sulsel bergabung di Golkar.

Ketua DPW PAN Sulsel, Ashabul Kahfi mengatakan tak mempermasalahakan kader yang dibajak parpol lain. Menurutnya jika kader yang komitmen akan tetap pada pendirian sehingga gelombang rayuan yang menggoda bisa diabaikan dan tetap bertahan. “Kita serahkan kepada bersangkutan, karena ini hak politik masing-masing individu,” ujarnya.

Menanggapi momentum Pilkada Sulsel, Kahfi menuturkan, hanya meminta seluruh kader untuk bekerja dulu mensosialisasikan PAN dan kadernya sampai ke level ranting. “Saya berharap PAN bersatu dan kompak menghadapi event politik kedepan,” harap Wakil Ketua DPRD Sulsel itu.

Sementara, Pasca Wakil Gubernur Sulsel yang juga politisi Golkar Sulsel, Agus Arifin Nu’mang (AAN) Gabung Gerindra, Ketua DPD Gerindra Sulsel Idris Manggabarani yang baru saja mendapatkan SK 02/0024/KPTS/DPP GERINDRA/2017 tentang susunan personalia DPD Gerindra Sulsel, saat pelaksanaan Rapat Kerja Nasional Partai Gerinndra di Padepokan Pencaksilat TMII Jakarta, kemarin, belum bisa menjamin bahwa AAN akan mendapatkan tiket Gerindra maju Pilgub Sulsel.

Idris Manggabarani (IMB) menyebutkan semua figur yang hendak maju di Pilgub Sulsel 2018 ini berpeluang untuk diusung Gerindra. Namun kata dia, di partainya itu punya mekanisme untuk mengusung seorang calon, bukan berarti dengan bergabungnya di Gerindra jelang pemilihan kepala daerah maka otomatis akan ada peluang. “Bicara Pilgub  Sulsel, semua  Kandidat berpeluang diusung Gerindra. Baik kader internal atau eksternal, jika elektabilitasnya tinggi,” tukasnya.

[NEXT-RASUL]

Seperti diketahui, bergabungnya AAN di Gerindra ditandai dengan keluarnya kartu tanda anggota (KTA) yang ditanda tangani oleh Ketua DPP Prabowo Subianto dan Sekretaris Jenderal DPP Ahmad Muzani.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa IMB itu  mengungkapkan, tidak ada yang istimewa dari keluarnya KTA untuk Agus Arifin, sebab semua kader Gerindra memang memiliki kartu tersebut dan semuanya pasti ditanda tangani oleh Prabowo Subianto dan Ahmad Muzani. “Bergabung bukan berarti berpeluang. Masih ada tahapan proses, tidak ada juga yang istimewa,” katanya.

Sementara Agus Arifin Nu`mang yang dikonfirmasi mengatakan belum mengetahui posisi atau jabatannya di Gerindra Sulsel. Menurutnya hal tersebut akan diputuskan setelah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta. “Saya diminta untuk tenang-tenang saja, karena kita inikan baru masuk,” katanya.

Sebelumnya, Agus AN juga mengakui, jika dirinya sudah bertemu dengan Prabowo Subianto. Dia mengatakan, Partai lambang burung Garuda itu beda dengan Partai yang lain, karena keputusannya dari pihak DPP (Prabowo). Bahkan diakuinya, Prabowo Subianto secara langsung memberikan dukungan kepada dirinya untuk bertarung di Pemilihan Gubernur (Pilgub) mendatang. “Saya diminta juga oleh Pak Prabowo minta saya jalan terus, karena yang menentukan adalah beliau. Saya diminta untuk tenang dan fokus saja (Sosialisasi maju Pilgub),” terang Agus.

Sementara, Konsultan Politik dari Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh menuturkan, banyaknya kader Golkar yang memilih berganti “KTA” menjadi bukti jika stok pemimpin di partai berlambang pohon beringin ini memang melimpah. “Inilah yang membedakan Golkar dengan partai lain di Sulsel. Stok kadernya untuk menjadi pemimpin tergolong banyak. Sehingga wajar saja jika banyak partai membidiknya untuk “dibajak” sebagai ketua atau pengurus,” terang Arif.

[NEXT-RASUL]

Meski demikian, berlabuhnya beberapa kader Golkar ke partai lain, diyakini bisa berdampak pada elektoral Golkar, baik di momentum pilkada maupun di Pemilu 2018 mendatang. Alasannya, basis figur itu sedikit banyaknya akan ikut berpindah.

Arif menuturkan, fenomena kader Partai Golkar pindah ke partai lain, bukan hanya terjadi di provinsi. Tetapi hal ini juga nampak di elit nasional selama beberapa tahun terakhir. Seperti Prabowo Subianto, Surya Paloh, Wiranto yang mendirikan partai baru.

Khusus untuk Sulsel, kader yang berganti baju, diantaranya mantan Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung (Gerindra), mantan Bupati Luwu Basmin Mattayang (Nasdem), Bupati Sidrap Rusdi Masse (Nasdem), mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (Demokrat), Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang (Gerindra), serta sejumlah pentolan lainnya yang memilih menjadi pengurus partai lain. “Situasi seperti ini tentu akan merugikan Golkar. Dan kita bisa lihat kenyataannya, perolehan suara Golkar di Pileg terus menurun, serta kandidatnya di pilkada banyak yang mengalami kekalahan. Kalau ini tidak diantisipasi dengan baik, bukan tidak mungkin Golkar mengalami kesulitan menjadi pemenang di Pemilu 2018 mendatang,” terangnya.

Belum lagi, lanjut Arif, kekuatan Golkar di tingkat pusat dilanda berbagai kemelut. Mulai dari dualisme kepengurusan sebelum munaslub, hingga posisi ketua umum Setya Novanto yang mulai di goyang pasca-dicekal oleh KPK atas kasus dugaan korupsi e-KTP.

Selain itu, sebut Arif, Golkar juga diyakini bakal sulit menyatukan kekuatan di Pilgub Sulsel, serta pilkada kabupaten/kota jika model penentuan usungannya terkesan dilabrak sendiri tanpa melalui mekanisme yang sering dipertontonkannya Golkar.

Terpisah, Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad menilai, dengan banyaknya figur pemimpin yang hengkang dari Golkar menjadi sebuah kerugian yang cukup disayangkan. Bukan tanpa alasan, kata Firdaus, sejatinya Golkar selama ini terkenal dengan banyaknya memiliki kader-kader potensial yang dapat diperhitungkan. “Perpindahan Agus merupakan kerugian bagi Golkar. Pengaruh Agus akan mengarah pada dukungan Agus di Gerindra,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Lebih lanjut, kata dia, namun Golkar tentunya masih tetap memiliki popularitas yang sangat baik di masyarakat. Sehingga, dengan hengkangnya sejumlah figur bukan menjadi persoalan besar bagi partai yang berlambang pohon beringin ini. (E)


div>