SELASA , 11 DESEMBER 2018

Kader Potensial Dibuang

Reporter:

Iskanto

Editor:

asharabdullah

Kamis , 19 Juli 2018 12:44
Kader Potensial Dibuang

Ilustrasi. (Doc.RakyatSulsel).

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019, sejumlah kader potensial dibuang oleh Partai Politik (Parpol). Padahal peluang para kader tersebut sangat besar untuk terpilih pada Pileg 2019.

Sebut saja, Andi Yaqkin Padjalangi yang merupakan kader Partai Golkar kemudian hijrah ke PDIP, Thita dari PAN ke NasDem, Rahmansyah yang sebelumnya di Golkar pindah ke Perindo.

Rahmansyah yang dikonfirmasi mengatakan, parpol yang menjadi gerbong bukan menjadi jaminan akan dapat terpilih. Melainkan potensi yang memang dimiliki oleh setiap caleg. Sehingga dari parpol manapun semua peluang untuk menang posisinya sama.

“Kalau peluang apalagi bicara hari ini saya kira semua caleg sama peluangnya. Tinggal bagaimana kita melakukan hal terbaik agar bisa diterima oleh masyarakat,” kata Rahmansyah.

Ia sendiri mengaku bahwa modal sebagai seorang caleg adalah menjaga nama baik di masyarakat. Sehingga masyarakat dapat memberikan kepercayaan dalam bentuk dukungan. Hal itulah kata dia, yang selama ini menjadi modal utamanya dalam setiap pemilu yang ia ikuti.

“Jadi modal saya itu menjaga saja nama baik yang selama ini memberikan respon dan dukungannya ketika saya di Gowa dan ketika saya di DPRD Sulsel,” jelasnya.

Bagi Rahmansyah, menghadapi pemilu bukan mengenai parpol baru atau parpol yang sudah punya nama besar. Melainkan bagaimana potensi dari caleg itu sendiri dalam bekerja secara maksimal dan dipercaya oleh masyarakat luas.

“Bagi saya tidak ada partai baru tidak ada partai lama. Startnya adalah pemilu 2019 mendatang. Bahwa ada yang lebih duluan terbentuk sebagai partai politik persoalan waktu saja. Tapi lebih dari segala-galanya kan ukurannya adalah seberapa maksimal kita bisa berbuat dan bekerja untuk kepentingan rakyat,” tandasnya.

Pakar Politik Universitas Bosowa Arief Wicaksono mengatakan, kader ‘terbuang’ terjadi akibat adanya perubahan suasana dan kondisi dalam parpol. Kebanyakan kader sudah merasa tidak nyaman terhadap parpolnya atau sebaliknya sehingga terjadi perpindahan kader ke parpol lain.

“Fenomena itu bukan merupakan peristiwa pembuangan kader. Tapi lebih kepada persoalan kenyamanan individu/figur dengan lingkungan partai terdahulu,” kata Arief.

Apalagi, kata dia, setiap parpol tentunya dapat terjadi gerbong-gerbong antar kader sehingga memiliki persepsi yang berbeda. Akibat hal itu, antar gerbong pastinya akan saling bersinggungan satu sama lain dan menyebabkan perpecahan dalam parpol.

“Seperti diketahui publik, dalam partai politik itu juga dikenal faksionalisasi. Ada banyak kelompok atau gerbong kekuatan didalam partai. Jika gerbong yang satu mendominasi, tentu gerbong lain akan merasa tidak nyaman dan bahkan meninggalkan partai politik,” terangnya.

Akibat hal itu, lanjut Arief, mesin partai yang telah berjalan akan mengalami perlambatan dan bisa saja merubah sistem yang ada didalam. Karena memang, kader-kader potensial menjadi ujung tombak parpol dalam berdemokrasi.

“Dampaknya besar terhadap keseimbangan atau kestabilan internal partai, baik partai yang ditinggalkan maupun partai yang dimasuki,” tandasnya. (*)


div>