RABU , 13 DESEMBER 2017

Kajati Ancam Ungkap Semua Kasus Jen Tang

Reporter:

Armansyah

Editor:

asharabdullah

Selasa , 21 November 2017 13:22
Kajati Ancam Ungkap Semua Kasus Jen Tang

Kantor Kejati Sulsel (int)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulselbar, Jan S Maringka, meminta tersangka kasus dugaan korupsi penyewaan lahan di Buloa, Soedirjo Aliman alias Jen Tang agar kooperatif mengikuti proses hukum yang sedang menjeratnya.

“Kalau nanti dia (Jen Tang) tidak kooperatif malah merugikan dia. Karena bisa saja ini akan berkembang bukan hanya di lokasi itu. Hal ini juga bisa mengarah ke satu perbuatan yang kita kategorikan sebagai coorporate crime karena ternyata dia tidak hanya dilakukan di situ (Buloa) tapi hampir di seluruh pesisir pantai,” ujar Jan.

Jan menjelaskan, modus yang dilakukan oleh Jen Tang selalu sama, yakni menguasai suatu bidang tanah dengan menggunakan nama orang lain dan kemudian dipulihkan menjadi namanya.

“Hampir di seluruh pesisir dia lakukan dengan modus yang sama, yakni menggunakan nama-nama orang yang kesemuanya adalah pegawainya. Kemudian dipulihkan dan pada akhirnya menjadi hak milik dia,” ulas Jan.

“Ya, intinya kami meminta agar tersangka kooperatif lah, karena jika dia semakin menghindar maka akan semakin muncul banyak hal yang tidak terduga,” tegasnya.

Jan juga meminta Jen Tang untuk segera kembali ke Indonesia dan menghadapi proses hukum, sebelum kasusnya justru melebar. Diketahui, Jen Tang saat ini diketahui sedang berada di Singapura.

Sementara itu, sidang lanjutan gugatan praperadilan tersangka Jen Tang selaku pemohon dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulselbar selaku termohon kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Makassar, Senin (20/11) kemarin.

Dalam sidang kali ini, tim kuasa hukum pemohon menghadirkan alat bukti dokumen persuratan dan saksi ahli setelah termohon dalam sidang sebelumnya telah melayangkan jawaban terkait gugatan pemohon.

“Kami hadirkan saksi ahli dan bukti surat-surat yang dilampirkan,” kata ketua tim kuasa hukum pemohon, Zamzam didepan majelis hakim tunggal Harto Pancono.

Saksi ahli yang dihadirkan pemohon adalah Guru Besar Hukum Pidana Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Said Karim. Ia menguraikan pendapatnya mengenai proses penetapan tersangka serta penyidikan yang menjerat Jentang di Kejaksaan Tinggi Sulsel.

Menurut pendapatnya, proses penanganan perkara yang menjerat Jen Tang telah menyalahi aturan atau cacat yuridis. Sebab, merujuk pada kasus yang menjerat tiga terdakwa, yakni Rusdin, Jayanti, dan Sabri, dalam kasus yang sama belum selesai atau diputus dalam persidangan.

“Bagaimana mungkin tim penyidik menetapkan tersangka baru, sementara proses persidangan yang dirujuk untuk menetapkan tersangka belum diketahui apakah terbukti bersalah atau tidak oleh majelis hakim,” urai Prof Said. (*)


div>