Kajati Kembali Sita Aset Senilai Rp 1,7 Miliar

SITA ASET - Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulselbar, Jan Samuel Maringka (Kanan) didampingi Asisten Pidana Khusus, Tugas Utoto dan Kejari Maros Eko Suwarni,saat melakukan penyitaan deposito terdakwa kasus dugaan korupsi perluasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Sitti Rabiah sebesar, Rp 1,7 miliar, Kamis (20/4).

MAKASSAR,RakyatSulsel.com – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulselbar, Jan Samuel Maringka turun langsung melakukan penyitaan deposito milik salah satu terdakwa kasus perluasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin kabupaten Maros, yakni Sitti Rabiah sebesar Rp 1,7 miliar beserta bunganya Rp 210 juta di Bank Sulsebar cabang Maros.

Selain melakukan penyitaan uang, Kejati juga menyegel sebuah ruko yang merupakan milik mantan camat Mandai Machmud Osman, yang juga merupakan salah satu tersangka.

Sejauh ini Kejati telah melakukan penyitaan aset 9 tersangka kasus korupsi perluasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, dengan total aset yang disita yakni sebanyak 17 unit rumah, 8 mobil, 2 unit motor beserta sertifikat tanah para tersangka yang lain. “Hingga saat ini jumlah tersangka sudah 9 orang dan upaya kita dalam pemulihan aset telah mencapai Rp 27 Miliar yang terdiri dari uang tunai Rp 11 miliar dan asset tanah bangunan serta kendaraan senilai Rp 16 miliar,”ungkap Kejati Seulselbar Jan Samuel Maringka, Kamis (20/4).

Jan Samuel Maringka mengatakan jika pihaknya melakukan penyitaan uang terhadap terdakwa Sitti rabiah berdasarkan lopran dari pihak Bank Sulselbar, cabang Maros. Pihak Bank menyampaikan jika terdapat deposito milik terdakwa yang ingin dicairakan oleh pihak keluarga. “Ini bentuk kerja sama kami dengan Bank Sulselbar yang memberikan informasi terkait adanya diposito milik terdakwa, jadi kita sebelumnya melakukan pencekalan dengan tidak mencairkan dan hari ini (Kemarin) kita sita,” katanya.

Dirinya menyebutkan jika uang hasil sitaan tersebut akan dijadikan sebagai alat bukti dipersidangan, karena pihaknya menduga uang tersebut merupakan hasil tindak pidana korupsi perluasan bandara seluas 60 hektar. “Uang ini kita sita, dengan menitipkan kembali ke Bank Sulselbar, karena kita tidak memiliki tempat penyimpanan,” ujarnya.

Diketahui dalam kasus perluasan Bandara tersebut telah merugikan negara berdasarkan perhituangan BPKP sebesar Rp 317 miliar, sehingga pihak kejasaan terus mengejar kerugian dengan cara menyita sejumlah aset para tersangka yang diduga hasil tindak pidana korupsi. “Kita terus mengejar aset para tersangka demi memulihkan kerugian yang sangat besar,” ucapnya.

Dalam kasus ini, Kejasaan telah menetapkan 9 tersangka mereka adalah mantan Kepala BPN Maros, Andi Nuzuliah, Kepala BPN Wajo Hijaz Zainuddin yang dulu mejabat sebagai Kasi Survey Pengukuran dan Penataan Kota BPN Maros, Kepala Sub Seksi Pengaturan Tanah Pemerintah Hamka dan Kasubsi Pendaftaran Hartawan Tahir, serta Juru Ukur Muhtar yang kini menekam di Lapas Klas I Makassar.

Selanjutnya Camat Mandai Kabupaten Maros Machmud Osman dan Kepala Dusun Bado-bado, Kelurahan Bajimangai, Kecamatan Mandai Rasyid, Kepala Desa Baji Mangai Raba Nur dan oknum UPTD Dinas Pendidikan Kota Makassar, Sitti Rabiah kini sedang dalam proses persidangan di pengadilan Tindak Pidana Korupsi Makassar. (D)