SABTU , 18 AGUSTUS 2018

Kali Keempat, Pemkot Parepare Gelar Festival Mallipa’ Demi Pelestarian Budaya

Reporter:

Editor:

Niar

Selasa , 20 Maret 2018 18:04
Kali Keempat, Pemkot Parepare Gelar Festival Mallipa’ Demi Pelestarian Budaya

int

– Wisatawan Asal China dan Jerman Larut Dalam Keseruan Festival

PAREPARE, RAKSUL. COM-Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Parepare dalam pelestarian budaya ‘mallipa’ atau menggunakan sarung, yaitu dengan menggelar kegiatan yang dinamai Festival Mallipa’.

Festival budaya yang digelar Dinas Olahraga, Kepemudaan dan Kepariwisataan (OPP) Parepare ini telah berlangsung empat kali, terhitung 2014 lalu.

Warisan budaya dari Kerajaan Bacukiki, sebagai penanda Kota Parepare menjadi alasan sehingga Dinas OPP pun menggelar kegiatan itu di lokasi yang tak jauh dari situs budaya ‘Batukiki’, Kampung Bacukiki, Kelurahan Watang Bacukiki, Kecamatam Bacukiki, Kota Parepare, Sabtu, (17/3/2018).

Festival yang dinilai layak menjadi event nasional ini, menghadirkan sejumlah lomba bernuansa tradisional yang memberi hiburan bagi masyarakat setempat. Lomba yang dimaksud, seperti tangkap bebek, Gendrang Bulo, Gendong Istri, dan lomba halaman asri.

Para peserta lomba, dan tamu wajib menggunakan sarung atau ‘lipa’ di lokasi festival. Pada festival IV ini, empat orang wisatawan asal China dan Jerman mampir menyaksikan sejumlah perlombaan bernuansa budaya tersebut dan mereka pun menikmati, sembari belajar menggunakan ‘lipa’ atau sarung.

“Ini merupakan upaya pelestarian budaya lokal yang dapat menarik wisatawan, menggali nilai dan budaya. Saya berharap melalui festival Ini memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Bacukiki,” ujar Luthfi Nasir, Pejabat sementara (Pjs) Wali Kota Parepare.

Menurut Luthfi, event tersebut bisa menjadi agenda Provinsi, bahkan nasional.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel Musaffar Syah memberi apresiasi atas pelaksanaan event budaya itu. Menurutnya, festival ‘Mallipa’ layak menjadi kalender nasional.

Selain unggul karena adanya situs dan atraksi budaya, juga karena aksesibilitas ke lokasi festival juga mudah.

“Ada tiga A syarat sebuah event layak menjadi kalender nasional, yaitu Amenitas, Atraksi, dan Aksesibilitas. Dari ketiganya di festival ini sudah memenuhi, sisa amenitas atau pemenuhan sarana dan prasarana pendukung, seperti WC dan lain-lain. Kalau sudah terpenuhi semua, ini bisa menjadi jualan nasional,” jelas Musaffar. (*)


div>