SABTU , 20 OKTOBER 2018

Kampanye Hitam di Medsos Bisa di Pidana

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 26 September 2015 09:47
Kampanye Hitam di Medsos Bisa di Pidana

int

* Bawaslu Gandeng Kepolisian Intensifkan Pemantauan
* Pengamat Bilang Metode Kampanye Tatap Muka Lebih Efektif

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) nampaknya harus bekerja keras. Pilkada serentak damai, jujur dan adil rawan tercoreng.

Di tengah pelaksanaan kampanye di sejumlah daerah yang berpilkada di Sulsel, baik tim pemenangan maupun Panwaslu mulai mencium aroma black campaign alias kampanye hitam lewat media sosial.Hal ini tentunya menjadi warning bagi penyelenggara khususnya Bawaslu untuk memperketat pengawasan.

Salah satu Calon Bupati Bulukumba, Andi M Sukri Sappewali meminta khusus lembaga penyelenggara pemilu bersikap tegas terhadap oknum yang memanfaatkan media sosial di internet untuk melancarkan serangan kampanye hitam terutama di tengah masa kampanye. Dia berharap oknum tersebut diselidiki dan siapa pun yang terlibat harus disanksi pidana.

Sukri memperkirakan kampanye hitam dengan modus memfitnah salah satu atau beberapa calon bupati akan semakin marak terutama jelang hari pemilihan 9 Desember nanti.“Tim kami selalu menjaga pemilu berjalan dengan damai. Kami juga meminta semua masyarakat melakukan hal yang sama,” kata Sukri, Jumat (25/9).

[NEXT-RASUL]

Sukri mengatakan, beberapa waktu lalu pihaknya menemukan sejumlah akun anonim di media sosial facebook yang menebar postingan bernada fitnah.

Di antaranya juga ada yang mencatut menggunakan nama salah satu tokoh terkenal dan menyudutkan salah satu pasangan calon bupati. Setelah dicek, akun tersebut ternyata palsu dan dibuat oleh oknum tak bertanggung jawab.

Menurut Sukri, kampanye hitam di media sosial tidak terlalu berpengaruh terhadap peluang perolehan suara di pilkada. Namun, hal itu tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Sebab, melontarkan perkataan yang tidak benar menyangkut salah satu kandidat merupakan fitnah yang melanggar hukum. “Orangnya harus diproses, jangan sampai menimbulkan fitnah yang lebih besar,” ujarnya.

Juru Bicara calon bupati Barru Idris Syukur Arif Saleh juga mengungkapkan adanya upaya kampanye hitam oleh akun anonim di media sosial. Lewat facebook, sejumlah akun disebut secara massif menyudutkan Idris dengan kata-kata kasar dalam berbagai tema negatif. Diduga, kalimat dan gambar yang bernada negatif itu dimuat secara terorganisir oleh kelompok tertentu.

[NEXT-RASUL]

Arif menganggap tudingan dan fitnah yang dialamatkan kepada Idris tidak berpengaruh banyak. Sebab masyarakat diyakini telah cerdas memilih, mana infomasi yang layak dipercaya maupun tidak.

Namun dia juga mengingatkan agar masyarakat tidak gampang terprovokasi. “Fitnah jangan dibalas fitnah. Kita boleh bersaing, tapi jangan menjelek-jelekkan orang,” kata dia.

Terkait hal itu, Ketua Bawaslu Sulawesi Selatan La Ode Arumahi menyatakan bahwa pihaknya telah memantau pergerakan akun-akun anonim di media sosial yang mengarah kepada perbuatan fitnah terhadap pasangan calon kepala daerah.

Ia berjanji mengusutnya bersama kepolisian. Pelibatan kepolisian berdasarkan jenis kegiatan yang dianggap sudah layak dikategorikan sebagai pelanggaran pidana umum.

La Ode menyebutkan, setiap pasangan calon kepala daerah menyampaikan laporan mengenai penggunaan maksimal empat akun resmi di media sosial. Namun kenyataannya, kini beredar banyak akun lain yang mengarah kepada penyebaran fitnah terhadap para calon.

[NEXT-RASUL]

“Isu-isu yang selama ini dilempar sudah masuk dalam kategori pidana karena menebar fitnah tanpa bukti, tentunya kita terus berupaya mengungkap siapa pelaku dibalik akun tersebut,” ujarnya.

Sementara itu, Sekertaris Bappilu DPP NasDem, Willy Aditya menyatakan partainya siap mengantisipasi potensi adanya pemanfaatan media sosial dalam menyebar kampanye yang bertendensi memojokkan peserta pilkada.

“Kita sudah siapkan antisipasi untuk menekan maupun mencegah adanya potensi itu lewat media sosial, NasDem punya kader yang memiliki kapabilitas di bidang IT,” jelasnya.

Menurut Willy, kader NasDem memiliki latar belakang profesi yang cukup beragam, salah satunya di bidang pemberdayaan tekhnologi informasi.

NasDem sejak menjadi ormas hingga partai politik, telah memiliki tim tekhnologi informasi yang memiliki kapasitas dalam menyikapi potensi-potensi kampanye hitam di media sosial.

[NEXT-RASUL]

“Salah satunya, dalam proses rekrutmen kader, NasDem telah membangun sistem data base secara on line, hal ini juga bermanfaat untuk mencegah adanya kader NasDem melakukan hal-hal negatif terkait kampanye sekaligus mampu melacak IP adress akun yang melakukan kampanye hitam, sehingga partai bisa saja langsung bergeak menempuh langkah hukum,” paparnya.

Willy menambahkan sejauh ini DPP belum menerima adanya laporan terkait dengan figur yang diusung partai besutan Surya Paloh tersebut, menjadi salah satu korban atau target dari kampanye hitam di media sosial.

Menurutnya, meskipun potensi kampanye hitam bisa saja dialami oleh figur usungan NasDem, namun pihaknya mengaku siap memberikan penjelasan maupun klarifikasi terkait isu yang dibangun oleh oknum yang melancarkan issu negatif tersebut.

“Kita menyadari bahwa media sosial merupakan sarana efektif dalam menggalang dukungan, namun juga sangat rentan dimanfaatkan untuk membangun paradigma negatif terhadap kandidat.

Untuk itu NasDem selalu menekankan kepada kader untuk memanfaatkan tekhnologi informasi secara positif, Nasdem tidak ingin pilkada serentak ini menjadi ajang saling fitnah yang akan menimbulkan konflik maupun perpecahan di masyarakat,” ujarnya.

[NEXT-RASUL]

Nasdem juga mengimbau Bawaslu bekerja sama dengan lembaga negara terkait, jika kesulitan memantau kampanye di sosial media. “Bawaslu juga bisa meminta KPU dan KPUD untuk meminta kandidat mendaftarkan seluruh akun sosial media yang dipergunakan untuk kampanye,” kata dia.

Sementara pakar komunikasi politik Universitas Hasanuddin Abdul Gaffar mengatakan kampanye hitam maupun kampanye negatif di media sosial diprediksi akan meningkat dibandingkan kampanye negatif pada Pilpres lalu.

Selain karena jumlah wilayah yang berpilkada cukup besar, jumlah peserta pun bisa dijadikan indikasi proyeksi kampanye negatif marak di media sosial.

“Saat ini tensi politik pilkada sudah mulai dinamis, sehingga berbagai media, termasuk akun sosial mulai dimanfaatkan baik untuk kepentingan positif maupun negatif dalam menjatuhkan pasangan kandidat tertentu,” ujarnya.

Menurut Gaffar, salah satu hal yang membuat panasnya perang di dunia maya pada pilkada serentak ini adalah banyaknya calon dan daerah yang berpilkada. Selain itu adanya pembatasan kampanye oleh KPU mengakibatkan alternatif media sosial menjadi meningkat.

[NEXT-RASUL]

“Media sosial akan tetap menjadi sarana kampanye bagi para calon kepala daerah. Aktor yang bermain di media sosial selama pilkada pun akan semakin variatif. Termasuk, mengenai isu negatif yang berpotensi dibangun di media sosial,” tegasnya.

Meskipun potensi black campaign di media sosial memiliki kecenderungan meningkat, namun menurut Gaffar hal itu tidak memiliki korelasi yang signifikan terhadap elektabilitas pasangan calon. Menurutnya, metode kampanye secara tatap muka atau dialogis dinilai lebih efektif dalam mendulang suara dibandingkan memassifkan kampanye melalui jejaring sosial.

“Di satu sisi, kampanye negatif akan terus bermunculan di media sosial di momen-momen politik, hal itu karena memang di media sosial tidak memiliki gatekeeper, sehingga apa yang ditulis langsung dimuat dan langsung dibaca oleh khalayak.

Tetapi pemilih sudah mulai cerdas dalam menelaah upaya-upaya black campaign itu, sehingga saya rasa tidak terlalu berpengaruh terhadap penurunan elektabilitas calon,” katanya.

Untuk itu, Abdul Gaffar mengharapkan agar para kandidat yang bertarung di pilkada, tidak berfokus dalam mengcounter isu-isu negatif di media sosial, melainkan fokus terhadap pendekatan yang lebih riil kepada masyarakat.

Misalnya melakukan dialog secara intensif dengan masyarakat dan menunjukkan karya-karya nyata dalam pilkada yang berorietnasi kepada kesejahteraan masyarakat. “Para kandidat fokus saja melakukan karya-karya nyata dan membangun visi dan programnya,” tandasnya. (E)


div>