RABU , 22 AGUSTUS 2018

Kandidat Masih Tenang, Pendukung Sudah Perang

Reporter:

Suryadi - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Jumat , 29 Desember 2017 13:15
Kandidat Masih Tenang, Pendukung Sudah Perang

Ilustrasi.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Potensi terjadinya gesekan di grass root antar pendukung kandidat di Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar, makin tinggi. Jika tak segera disikapi, dikhawatirkan akan memunculkan konflik yang lebih luas.

Seperti yang terjadi di Kecamatan Mariso, Kamis (28/12) kemarin. Salah satu tim relawan dari petahana Moh Ramdhan Danny Pomanto – Indira Mulyasari Pramastuti (DIAmi) yang juga Ketua RW 05 Muh Jufri Daeng Talli, mengalami tindak pemukulan oleh Orang Tak Dikenal (OTK) di rumahnya, di Jalan Baji Minasa 2 Kelurahan Tamarunang. Pemukulan diduga dilakukan oleh tim relawan pasangan penantang petahana, Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi (Appi – Cicu).

Dok. RakyatSulsel

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pemukulan terjadi lantaran baliho milik salah satu kandidat diturunkan oleh warga. Sehingga, OTK tersebut mendatangi kantor Lurah Tamarunang dan memukuli Ketua RW 05. Akibatnya, korban mengalami luka robek dan melapor ke Polsek Mariso.

Saat dikonfirmasi, bakal calon Wakil Wali Kota Makassar, Andi Rachmatika Dewi, mengaku belum mengetahui adanya insiden tersebut. Ia mengatakan, akan mencari informasi resmi terlebih dahulu, sebelum memberikan keterangan. “Sorry dek, belum dengar kabarnya, jadi nanti,” singkat Cicu.

Terpisah, Koordinator Tim Hukum DIAmi, Dede Arwinsyah, mendesak pihak kepolisian lebih profesional dalam menangani kasus ini dan segera menahan pelaku pemukulan. Hal tersebut untuk menghindari terjadinya konflik yang lebih luas. “Kami harap pelaku segera ditahan untuk menghindari hal yang tak diinginkan,” desaknya.

Sementara, pakar politik dari UPRI Makassar, Syaifudin Almugny, menilai, tindakan kekerasan antar relawan tak seharusnya terjadi. Demokrasi mengajarkan manusia untuk cinta damai dalam mencapai kekuasaan, bukan sebaliknya. “Jika ada kekerasan, itu seakan merobek demokrasi dengan cara tidak wajar,” ujarnya.

Ia berpendapat, jika disimak kasus yang terjadi, maka pertanyaan awal yang kian mendera adalah bagaimanakah masa depan demokrasi? Penting mengingat fenomena demokrasi kian tak membuka ruang ekspektasi, kalau pun ada hanya sebagai lipstik belaka. Padahal jauh sebelum itu, demokrasi telah lahir diantara relasi-relasi dari interaksi manusia.

“Pertanyaan ini bukan tanpa alasan dengan melihat fakta-fakta politik, yang dari hari ke hari semakin binal, cadas dan kadang melukai,” tuturnya.

Syaifudin menambahkan, formulasi membangun kekuatan sosial politik sangat mungkin diperlukan gerakan pro demokrasi, bukan kekerasan.

Senada dikatakan pakar politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Syahrir Karim. Dia mengatakan, tensi politik di Pilwalkot Makassar terbilang tinggi. Sehingga, potensi terjadinya gesekan di grass root juga cukup tinggi.

“Pada umumnya tim relawan kandidat yang telah dibentuk hanya mengutamakan militansi semata, namun lupa membekali pengatahuan tentang proses pilkada yang yang damai,” terangnya.

Ia mengakui, memang sangat riskan sekali di arus bawah, karena tim relawan adalah orang yang militan yang sebenarnya bekal-bekal politik mereka agak kurang. “Jadi mestinya memang tim relawan harus dibekali dengan pengetahuan yang sifatnya taktis, sehingga mereka tidak melakukan hal yang anarkis,” tambah Syahrir.

Syahrir juga menyinggung bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang selama ini bersosialisasi untuk running pada hajatan politik lokal lima tahunan mendatang. Selama ini, ada kecenderungan kontestan hanya membangun militansi tim, tanpa memperdulikan pendidikan politik.

“Penyakitnya selama ini oleh kontestan, mereka membangun sebuah tim yang sebenarnya pekerja-pekerja militan. Dalam arti, hanya untuk prinsip memenangkan calonnya, tanpa memikirkan bagaimana konsekuensi kedepannya,” terangnya.

Kandidat pasangan calon, lanjutnya, seharusnya mengutamakan prinsip damai dalam suasana politik yang cenderung potensi konfliknya terbuka. Sehingga, pesan damai dari kandidat itu dapat diterapkan oleh tim relawan. Hanya, pada kondisi tertentu, justru kandidat tersebut yang memancing sulutnya konflik di arus bawah.

“Terkadang memang tokoh politik ini memancing suasana sebenarnya. Mestinya para kontestan pada khususnya, memberikan pencerahan kepada tim kebawah. Kenapa tim memanas? Itukan tensi politik di tingkat elite yang mempengaruhi di tingkat bawah. Itu yang terjadi sekarang,” paparnya. (*)


div>