RABU , 22 AGUSTUS 2018

Kandidat Sepakat Perangi Korupsi

Reporter:

Iskanto

Editor:

asharabdullah

Selasa , 19 Desember 2017 13:35
Kandidat Sepakat Perangi Korupsi

Dok. RakyatSulsel

– Agus Sindir Rekam Jejak Calon Pemimpin

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel yang tinggal menghitung bulan ini menyajikan sejumlah kandidat dari berbagai kalangan dan latar belakang. Hal ini juga tentunya menjadi salah satu poin penting bagaimana pemimpin Sulsel kedepannya memberikan sesuatu yang baru bagi daerah ini untuk menjadi provinsi yang lebih baik lagi.

Wakil Gubernur (Wagub) Sulsel yang juga merupakan Bakal Calon (Balon) Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang menegaskan, dalam menatap kontestasi Pilgub Sulsel 2018, semuanya harus bersih. Karenanya, dia meminta dalam suksesi pilgub mendatang, masyarakat memilih balon gubernur yang bersih dan tanpa cacat. Bahkan dia menyampaikan kepada balon gubernur lain untuk tidak bicara korupsi, jika belum pernah melalui jabatan itu.

“Saya sepuluh tahun ketua DPRD, wagub dua periode, alhamdulillah tidak terjerat. Karena korupsi itu dimulai dari kolusi, dan itu tidak kami lakukan,” terang Agus saat menjadi pembicara dalam Diskusi Politik Akhir Tahun “Menatap Wajah Sulsel 2023” di Gedung Graha Pena, Senin (18/12) kemarin.

Senada dengan itu, bakal calon Wagub Sulsel Andi Mudzakkar, menambahkan, untuk menangkal terjadinya praktik korupsi, maka yang terpenting nanti adalah pembangunan kualitas pendidikan di Sulsel.

“Pendidikan itu mampu mengubah moral dan menjadi kebaikan, sehingga kedepan pendidikan harus merata dan berkualitas. Dan nantinya penguatan kearifan lokal akan diterapkan dalam sistem pendidikan di Sulsel,” terang Andi Cakka, sapaan akrab Andi Mudzakkar.

Andi Cakka kuatir, jika sistem pendidikan tidak dibenahi, maka benih-benih praktik korupsi akan semakin tumbuh. Misalnya, ketika seorang pegawai negeri memegang jabatan maka peluang untuk melakukan praktik korupsi itu akan terbuka jika tidak ada pondasi moral yang baik.

“Olehnya, moral menjadi penting dalam membangun kualitas Sumber Daya Manusia(SDM). Dan salah satu faktor penting dalam membangun moral manusianya yakni melalui pendidikan yang berkualitas terhadap masyarakat Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Fajar, Prof Drs H Sadly Abd Djabbar MPA menanggapi bahwa, ada dua pilar utama untuk membangun Sulsel kearah yang lebih baik, yaitu aspek religi dan budaya. Jadi indikatornya sudah Jelas, dan persoalan korupsi itu sangat bertentangan dengan kedua pilar tersebut.

“Kalo ini dipegang, maka masyarakat sejahtera itu tidak perlu menunggu lama. dan praktik korupsi itu bertentangan dengan nilai agama dan budaya,” kata Prof Sadly.

Menurutnya, kalau orang kaya korupsi, itu namanya sudah rakus. “Jadi, kalau para pejabat diatas tidak jujur, maka sampai kebawah itu tidak bisa berubah,” lanjutnya.

Selain soal korupsi, diskusi akhir tahun Fajar Group ini juga membahas soal pertumbuhan ekonomi di Sulsel, dan seperti apa kedepannya dengan hadirnya pemimpin baru 2018 mendatang.

Chairman Fajar Group, HM Alwi Hamu, mengapresiasi pencapaian Sulsel beberapa tahun terakhir. Lantaran, tingkat perekonomian yang berhasil dicapai terus mengalami peningkatan dan tertinggi ketimbang provinsi-provinsi lain yang ada di Indonesia.

“Sulsel sekarang ini selalu menjadi bahan pembicaraan dimana-mana. Apalagi dengan pertumbuhan ekonominya yang tertinggi dari daerah-daerah lain, inikan luar biasa,” tuturnya, Senin kemarin.

Di sisi lain, dengan adanya peningkatan itu tentunya tidak lepas dari para pelopor yang sedari dulu mendorong dari belakang. Salah satunya kehadiran para politisi yang harus mampu bersinergitas dengan pemerintah daerah untuk menciptakan kondisi masyarakat yang sejahtera.

“Kebijakan-kebijakan pemerintah harus didorong oleh politisi agar kedepannya baik. Bukan malah diobok-obok oleh politisi, dan itu harus sejalan,” terang Staf Ahli Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla ini.

Dalam peningkatan perekonomian, banyak sektor yang harus dikelola oleh seorang pemimpin, yang tentunya dengan sinergitas yang baik dari berbagai kalangan di masyarakat. Hal inilah yang dinilai oleh Pendiri Harian Fajar ini mampu membawa perubahan yang besar bagi Sulsel, apabila dikelola dengan baik.

“Politisi harus mampu mendorong pemerintah daerah untuk memanfaatkan potensi yang demikian ini, seperti lautan, maritim kita, dan tentunya mineral kita,” ujarnya.

Ia menilai, beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel lebih terfokus pada pemanfaatan sumberdaya yang ada di darat. Meskipun memang, ada beberapa program pemerintah dalam hal kemaritiman, tetapi masih kurang cukup untuk mengelola sumberdaya yang ada di lautan.

“Inilah hal-hal yang harus dilakukan untuk menatap wajah Sulsel kedepan. Siapapun yang menjadi gubernur kedepan lakukan itu. Kekayaan kita paling besar ada di laut. Ikan-ikan besar paling besarkan ada di wilayah Indonesia timur. Kalau itu kita kelola, tidak perlu kita khawatir. InsyaAllah kita bisa nikmati itu, apalagi Sulsel kan pertumbuhan ekonomi sangat baik, tujuh persen lebih,” tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Agus menerangkan jika program Pemprov Sulsel selama ini telah berjalan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat Sulsel. Meskipun memang, hingga akhir periodenya nanti sebagai Wakil Gubernur Sulsel, tentunya masih ada program yang harus dilanjutkan oleh pemimpin selanjutnya.

“Kami sudah antisipasi itu, kalau saya yang lanjutkan Pak Syahrul punya program, tentunya saya paham betul dengan program itu,” ungkapnya.

Di Sulsel, Agus mengatakan, angka kemiskinan di daerah terpencil masih tinggi karena belum maksimalnya pemanfaatan potensi-potensi alam di kawasan tersebut.

“Untuk itu, saya sudah menyiapkan konsep pengembangan kawasan pegunungan, dataran tinggi, dataran rendah dan daerah pesisir,” ungkap Agus.

Menurutnya, pengembangan potensi alam dan pertanian di Sulsel saat ini belum bisa dimaksimalkan karena terkendala akses konektivitas. Hal inilah yang menjadi faktor kenapa angka kemiskinan masih tinggi.

“Masa depan Sulawesi Selatan ada di daerah dataran rendah, dataran tinggi, pesisir dan kawasan pegunungan, tetapi untuk pengembangan potensi alam tersebut terkendala akses konektivitas,” terangnya.

Sementara soal pembangunan di Sulsel Andi Cakka dalam pemaparannya mengaku bangga dengan kemajuan Sulsel dibawah kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo yang bersinergi bersama Agus Arifin Nu’mang. Apalagi, Sulsel masuk sebagai daerah yang sangat diperhitungkan di Indonesia, terutama dari tingkat pertumbuhan ekonominya.

“Hari ini memang Pak Syahrul dan Pak Agus saya angkat topi dengan standar maksimal tingkat pertumbuhan ekeonominya. Hari ini memang sangat diperlukan juga pertumbuhan ekonomi dari semua sektor yang ada, serta tingkat pendidikan,” ucapnya.

Ia mengaku, pertumbuhan ekonomi suatu daerah akan dapat tercapai apabila pemimpin kedepannya tidak meninggalkan program-program dari pemimpin sebelumnya. Karena, kata Andi Cakka, dengan perkembangan Sulsel saat ini patut menjadi landasan untuk sistem pemerintahan kedepannya.

“Sebuah daerah apabila ingin membuat sebuah perencanaan langkah kedepan, dia harus selalu berdasar pada dimana langkah awal ia memulai. Memang, peningkatan ekonomi itu sangat penting, untuk menatap wajah Sulsel 2023 kedepan, tentunya dengan struktur ekonomi yang ada sekarang,” terang Cakka.

Lain halnya dengan calon wagub dari Partai Golkar, Aziz Qahhar Mudzakkar. Ia mengatakan, jika Sulsel saat ini masih kurang dalam tingkat pertumbuhan perekonomian. Bahkan, ia mengaku, hal tersebut sangat miris dengan sumberdaya alam yang ada saat ini yang potensinya belum dimaksimalkan.

“Apa yang menjadi keprihatinan sekian lama dan kemudian juga ternyata sama juga dengan pemikiran Pak NH (Nurdin Halid, red) bahwa bangsa kita ini sudah berada didepan jurang, baik di bidang politik maupun ekonomi,” pungkasnya.

Bahkan ia menyebutkan, perekonomian yang ada di Indonesia masih buruk dengan sistem liberal yang dianut. Yang pada akhirnya hanya akan menciptakan kesenjangan sosial.

“Ekonomi kita adalah ekonomi paling liberal di muka bumi. Yang intinya itu pada akhirnya menciptakan kesenjangan sosial. Coba kita lihat di negeri kita ini, kita masuk nomor empat negara paling tinggi kesenjangannya,” imbuhnya. (*)


div>