MINGGU , 16 DESEMBER 2018

Karakter Toleran

Reporter:

rakyat-admin

Editor:

Selasa , 12 April 2016 11:07
Karakter Toleran

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

SETIAP kali kita memandang lambang negara yang disimbolkan dengan burung garuda, di sana tertulis kata Bhinneka Tunggal Ika. Hal ini memberi kesadaran bahwa kita hidup  di negara yang terdiri dari aneka ragam suku, agama, ras, budaya adalah realitas yang tidak dapat dipungkiri. Hanya saja seiring dengan perjalanan waktu, untaian kalimat indah dan penuh makna itu semakin terlupakan.

Tengok saja suasana kehidupan di semua level dan struktur, beragam jenis tindak kekerasan mewarnai pergaulan hidup sehari-hari. Kita berubah menjadi bangsa yang mudah menyalahkan orang lain. Kita menjadi bangsa yang suka bicara, tapi enggan mendengar. Kebenaran hanya milik kelompok kita, partai kita, aliran kita, golongan kita, teman dan keluarga kita. Selainnya salah dan tidak selamat.

Demikian pentingnya untuk menanamkan karakter toleran bagi setiap generasi anak bangsa yang hidup di negara Indonesia. Toleran berarti kesediaan untuk menerima perbedaan, serta keinginan untuk hidup bersama. Dari mana pun sukunya berasal, ragam budayanya, serta agama dan keyakinannya. Keinginan untuk hidup bersama diawali dengan kemauan untuk lebih banyak mendengar, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Karena banyak di antara kita sering menuntut untuk dipahami, tetapi tidak pernah berusaha untuk memahami orang lain. Selalu mengharapkan pengertian, namun tidak berusaha untuk mengerti orang lain. Senantiasa mendambakan cinta, tapi tidak berusaha untuk mencintai.

Sikap toleran tidak cukup dikerjakan hanya sekali selama hidup. Namun membutuhkan pengulangan dan pembiasaan sehingga menjadi sebuah karakter. Dengan demikian membutuhkan konsistensi atau sikap istikamah dalam melakoninya. Karakter juga tanpa rekayasa dan dibuat-buat, tetapi merupakan sikap spontan karena telah menjadi kebiasaan dalam hidup seseorang. Karakter juga membutuhkan ketulusan dan kejujuran, agar kebaikan apa pun yang dilakukan terhindar dari kesan pamer dan keinginan untuk dipuji.

Kebaikan yang dikerjakan karena ingin merekayasa kesan agar dipandang sebagai orang baik, adalah merupakan perbuatan atau sikap riya. Sedang memperdengarkan kepada orang lain akan hal-hal baik yang kita kerjakan disebut dengan sum’ah. Semuanya akan kecewa karena tidak dilandasi dengan keikhlasan dan kejujuran. Demikian adanya dengan sikap toleran, tidak hanya dituntut untuk diwujudkan dalam sekali atau dua kali, namun untuk selamanya.

Buya Hamka telah memberikan contoh bagaimana sikap toleran itu diwujudkan dalam kehidupan beragama. Dia adalah ulama yang tidak melazimkan kunut diketika salat subuh, namun ketika hendak mengimami salat jamaah subuh, ia bertanya kepada jamaah apakah masyarakat di tempat itu kunut atau tidak. Kalau jamaah mengatakan mereka terbiasa kunut, maka Buya Hamka pun memimpin salat dan kunut.

[NEXT-RASUL]

Demikian hal dengan adzan jumat, suatu ketika Buya Hamka mendapat kunjungan dari seorang tokoh NU, KH. Abdullah Safi’i lalu diberi kesempatan oleh Buya Hamka untuk membacakan khotbah Jumat, bukan hanya mimbar Jumat yang diserahkan tetapi adzan pun menjadi dua kali. Seperti inilah sikap toleran yang dicontohkan oleh dua ulama besar di negeri ini. Sungguh merupakan suasana yang sangat didambakan oleh seluruh bangsa Indonesia, sekiranya semua komponen bangsa ini mengambil sikap seperti yang dicontohkan oleh Buya Hamka dalam berbagai hal dalam kehidupan masyarakat. Kedamaian dan keindahan hidup tentu akan menghiasi dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang apa partai politiknya, dari mana sukunya, agama dan kepercayaan apa diyakini.

Berbahagialah mereka yang senantiasa berusaha untuk memiliki karakter toleran, sehingga tidak akan mudah menyalahkan orang lain, karena lebih banyak mendengar dari pada berbicara yang mungkin saja dapat menyinggung dan menyakiti perasaan teman sejawatnya, karib kerabatnya, handai tolan dan keluarganya. (*)


Tag
  • voxpopuli
  •  
    div>