SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Karna

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 10 Maret 2017 09:44
Karna

Arifuddin Saeni

BISAKAH kita menyangkali tentang sebuah kelahiran, ataukah mempertanyakan yang namanya takdir. Dia bukan hanya menjelaskan soal identitas, tapi juga mungkin pengaruh dan harga diri. Karena itu, ketika Duryodana melihat ketidkadilan berkelebat di hadapannya. Ia melompat turun ke gelanggang dengan merentangkan tangan. “Siapa yang pernah meminta, apakah dia harus dilahirkan sebagai brahmana ataukah seorang pejuang,” sengitnya dengan mata memerah membela Karna.

Ini memang bermula, ketika Kerajaan Pancala melakukan uji tanding memanah yang dihadiri para utusan dari berbagai kerajaan. Arjuna yang memenangkan pertandingan itu, harus berhadapan dengan seorang anak kusir kereta, Karna. Tapi tak kesetaraan kasta yang membuat harus keluar dari arena pertandingan dengan rasa malu.

Kita di jaman sekarang ini, barangakali kesederajatan bukan lagi menjadi hal yanag tersembunyi, betapa terang menderangnya–bahwa seorang pahlawan memang tidak mesti lahir dari seorang bangsawan. Ia bisa saja dari seorang petani miskin, atau bisa jadi orang-orang dari pinggir jalan. Toh kesedarajatan seperti yang dialami Karna, hanya sebuah ilusi. Lelaki yang penuh hormat terhadap ayah angkatnya itu, tak bisa menyelematkan harga dirinya dari begitu beratnya hinaan yang dilakukan keluarga Pandawa.

Gambaran tentang hadirnya seseorang yang tak diharapkan, seperti yang ditulis dengan apik oleh Chitra Banerjee Divakaruni, dalam bukunya, The Palace of Illusions, sungguh memukau. di sini bukan hanya bicara soal kasta, tapi juga terbangunnya persahabatan. “Aku tidak akan pernah lupa akan kemurahaan hatimu. Kau sudah menyelamatkan kehormatanku. Bumi bisa hancur tapi saya tidak akan meninggalkanmu,” ujarnya sembari memeluk Duryodana.

Sebagai anak sais kereta, Karna mungkin benar, bahwa persahabatan tidaklah harus diukur karena perbedaan derajat. Dia juga tak pernah meminta kepada Tuhannya untuk dilahirkan seperti itu, kalau hanya untuk melibatkan dirinya pada perang keluarga Pandawa dan Kurawa. Tapi Karna tau, dirinya sudah ditakdirkan untuk mati bersama Duryodana. “Kalau dia musuh-musuhmu, maka dia juga musuhku”.

Mungkin benar yang dikatakan seorang psikolog, Rubin (2004), bahwa persahabatan adalah sebuah multidimensi. Di situ ada sifat untuk melayani dalam berbagai cara, juga dalam bentuk apa pun. Sekelindang dengan itu, Karna juga berusaha memahami dengan jalan ini, persahabatannya dengan Duryodana punya nilai.

Tapi Karna juga adalah protret buram dari keangkuhan kekuasaan di masa lalu. Sebagai Raja Angga yang baru, ia tak bisa mengangkat dirinya untuk setara dengan anak-anak Pandawa. Ia tetap dinilai sebagai anak yang tak bermartabat. Di sana, ia punya cela.

Sungguh angkuh memang yang namanya kekuasaan. Ia bukan hanya akan menusuk jantungmu, juga menampar muka kita dengan gampangnya, dan Karna merasakan itu. Lelaki matahari itu toh mati dengan leher terpenggal oleh anak panah yang dilepaskan Arjuna. (*)


div>