Minggu, 26 Maret 2017

Kasus Bunuh Diri Live di FB, Tindakan Caper dan Frustasi Ekstrim

Senin , 20 Maret 2017 18:03
Penulis :
Editor   : doelbeckz
Proses pemakaman Indra, korban gantung diri live facebook di Jagakarsa, Jakarta Selatan. foto: jpg
Proses pemakaman Indra, korban gantung diri live facebook di Jagakarsa, Jakarta Selatan. foto: jpg

JAKARTA – Pahinggar Indra, warga Jagakarsa nekat merekam detik-detik aksi bunuh dirinya di media sosial Facebook. Di dalam video, Indra terlihat santai dengan mimik wajah yang biasa saja bahkan sempat bercerita kesedihannya karena ditinggal istri setelah menikah 17 tahun.

Psikolog Universitas Indonesia (UI), Nisfie M Hoesien, menilai almarhum seolah sempat mencari perhatian dan persetujuan lingkungan sebelum melakukan aksi nekatnya itu.

“Untuk kasus Indra, dia masih ngomong sebelum bunuh diri. Masih caper ingin minta persetujuan lingkungan atas curhatnya dia. Cuma mungkin entah bagaimana akal sehatnya enggak bekerja sehingga dorongan kemampuan handle emosi tak kuat dibanding dengan capernya hingga keterusan,” tukas Nisfie, Minggu (19/3).

Nisfie menjelaskan, banyak orang zaman sekarang mencari perhatian dengan cara yang ekstrim, tidak mempertimbangkan kembali dengan akal sehat. Misalnya, banyak orang di era modern lebih suka meluapkan emosi di media sosial untuk mencari perhatian.

“Misalnya lagi bete lalu meluapkan di media sosial, kita enggak lihat jumlahnya berapa yang lihat. Satu saja ada orang yang tahu itu sudah cukup. Mungkin orang-orang seperti Indra, tak memiliki sarana curhat yang baik,” katanya.

Nisfie menambahkan, seseorang memilih bunuh diri sudah menjadi akumulasi dari berbagai rasa frustasi. Sehingga, lanjutnya, orang tersebut berpikir bahwa mengakhiri hidup akan lebih baik.

Nisfie menjelaskan, apalagi jika melihat dari latar belakang masa kecil atau masa lalu Indra yang mungkin saja kelam.

“Istrinya meninggalkannya mungkin sebelum itu sering ribut besar. Ini menyangkut harga diri dan egonya sebagai laki-laki, sehingga kehilangan akal sehat lalu cari dukungan sosial saja. Saya enggak tahu riwayat kecilnya bagaimana, pasti awalnya depresi,” tegasnya. (jpg)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*