RABU , 26 SEPTEMBER 2018

Kasus Gula Rafinasi Libatkan Enam Ahli

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Jumat , 09 Juni 2017 13:30
Kasus Gula Rafinasi Libatkan Enam Ahli

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani. foto: jpg

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) terus mendalami kasus peredaran gula rafinasi secara bebas di pasar-pasar tradisional. Terbaru, penyidik memeriksa sepuluh orang saksi dalam kasus UD Benteng Baru.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, pihaknya masih akan terus melakukan penyidikan untuk mengetahui siapa aktor dibalik peredaran gula rafinasi dalam kemasan.

“Pemeriksaan saksi-saksi yaitu berjumlah 10 orang dari PT Makassar Tene selaku Pabrik, Puskud yang mempunyai ijin membeli dari Pabrik, kepala gudang, kepala produksi, termasuk pelapor baik dari APEGTI dan masyarakat,” ujar Dicky Sondani diberitakan Rakyat Sulsel, Jumat (9/6).

Ia melanjutkan, pihaknya saat ini memanggil 4 tim ahli yang bertugas mengecek apakah peredaran gula rafinasi tersebut sudah memiliki izin atau belum. Keempat ahli tersebut yaitu Balai Besar Industri Hasil Pertanian (BBHIP), ahli dari Dinas Perindustrian, aAhli dari Dinas Perdagangan dan ahli dari BPOM.

“Kita akan melakukan pemeriksaan para distributor yang membeli gula rafinasi dari UD Benteng Baru di wilayah hukum di Polres jajaran Polda Sulsel,” kata Dicky Sondani.

Sementara itu, Direktur Reskrimsus Polda Sulsel, Kombes Pol Yudiawan Wibisiono mengatakan bahwa Kasus gula rafinasi yang hampir 5.000 ton ditemukan di UD Benteng Baru harus dituntaskan pasalnya peredaran gula rafinasi kepada masyarakat akan berdampak negatif.

“Semua masih tahap pemeriksaan saksi-saksi lalu akan digelar perkaranya untuk penetapan tersangka,” ujar Yudiawan.

[NEXT-RASUL]

Sebelumnya, Tim Satgas Ketahanan Pangan menemukan gudang produksi milik Ridwan Tandiawan berisi 107.360 sak/Karung atau kurang lebih 5000 ton gula rafinasi yang dikemas dalam merek Sari wangi. Sebanyak 86,6 Ton diantaranya sudah siap diedarkan di Kawasan Indonesia timur.

Gudang tersebut sudah beroperasi selama tiga tahun sejak 2014. Selama itu, keuntungan yang diperoleh UD Benteng Baru dari penjualan gula impor asal Brazil dan Thailand tersebut ditaksir mencapai triliunan rupiah. (***)

 


div>