MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Kasus Idris Diduga Rekayasa, Saksi Akui Kuitansi Jual-Beli

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Senin , 25 April 2016 19:00
Kasus Idris Diduga Rekayasa, Saksi Akui  Kuitansi Jual-Beli

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM- Dugaan rekayasa dibalik kasus yang dialamatkan ke Bupati Barru Andi Idris Syukur semakin nampak. Itu tercermin dari fakta terbaru di persidangan lanjutan soal pengakuan saksi.

Di depan majelis hakim di Pengadilan Tipikor, Senin (25/4), saksi dari pihak Bosowa yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Muslim Salam dan Direktur PT Semen Bosowa Barru Naharuddin, mengakui jika mobil Pajero Sport yang awalnya dituding gratifikasi, ternyata ada kuitansi jual-belinya.

“Memang ada kuitansi, dan isinya tentang pembelian” kata Muslim Salam, saat menjawab pertanyaan hakim di Pengadilan Tipikor, Makassar.

Mendengar jawaban Muslim yang tak lain anggota DPRD Sulsel itu, Hakim sempat melontarkan kekesalannya, karena sebelum mengakui ada kuitansi jual-beli, saksi memberikan keterangan yang berbeda-beda. Bahkan, hakim menyebut jika yang bersangkutan salah setting. “Anda salah setting,” tegas hakim.

Di persidangan yang dipadati kerabat Idris Syukur, Muslim juga mengakui jika Idris tidak pernah sekalipun meminta mobil. Melainkan hanya pihaknya yang menafsirkan bila untuk mempermulus penerbitan izin perusahaannya perlu memberikan kendaraan.

Selain itu, Muslim juga berulangkali mendapat teguran karena jawabannya tidak konsisten. Seperti mengetahui ada pertemuan awal sebelum dirinya menemui Idris di tahun 2012. Namun saat didesak kapan, dan siapa yang bertemu, justru Muslim menjawab tidak tahu.

Bukan hanya itu saja, Muslim yang sebelum menjadi anggota DPRD Sulsel tercatat sebagai salah satu kepala biro di PT Bosowa, juga mengakui kalau mobil tersebut bukan milik Bosowa, melainkan milik Ahmad Manda yang diperoleh secara kredit.

Padahal sebelum mengakuinya, Muslim percaya diri mengklaim jika mobil tersebut adalah milik Bosowa. Hanya saja dicecar pertanyaan, saksi tidak bisa mengelak. Bahkan, secara detail mengetahui durasi waktu masa kredit kendaraan tersebut.

Selain Muslim, Direktur PT Semen Bosowa Barru Naharuddin juga membenarkan jika mobil yang diserahkan ke Idris, memang ada kuitansi jual-belinya. “Itu ada untuk kepentingan balik nama,” kata Naharuddin, Senin (25/4).

Tak hanya mengakui ada kuitansi, Naharuddin juga tidak bisa meyakinkan hakim dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) kalau mobil Pajero Sport tersebut diberikan atas permintaan langsung Idris Syukur untuk kepentingan pengurusan izin perusahaannya.

Naharuddin yang berulangkali ditanya soal alasannya memberikan mobil, saksi tidak sekalipun mengakui pernah mendengar langsung permintaan Idris tentang mobil. “Saya tidak pernah mendengar secara langsung Pak Bupati minta mobil. Tapi penyampaian Muslim Salam, katanya Pak Bupati minta mobil,” kata Naharuddin.

Saat disinggung alasannya memberikan mobil, ia mengaku terpaksa karena khawatir tidak diberikan izin. Hanya saja ketika hakim menyebut proses perizinannya justru cepat dilakukan bupati, saksi terkesan berusaha mengelak.

Dari fakta tersebut, Naharuddin dan Muslim Salam terkesan berbeda keterangan. Sebab Naharuddin mengakui memberikan mobil atas penyampaian Muslim. Sedangkan Muslim justru tidak pernah mendengar langsung.

Sementara itu, Idris saat menanggapi, menegaskan mobil yang diduga gratifikasi sama sekali tidak ada hubungannya dengan penerbitan izin. Pasalnya, izin baru dikeluarkan 9 September 2012.

“Pembelian mobil itu urusan pribadi istri saya dan Ahmad Manda. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan izin. Lagian izin itu baru diterbitkan 9 September,” kata Idris. (rls)


Tag
div>