SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Kasus Pencaloan FK Unhas, Enam Saksi Segera Diperiksa

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 13 Desember 2016 09:46
Kasus Pencaloan FK Unhas, Enam Saksi Segera Diperiksa

Ilustrasi.

MAKASSAR, RakyatSulsel.com – Penyidik Kepolisian Resor Khusus Kota Besar (Polrestabes) Makassar segera melakukan pemeriksaan terhadap enam saksi yang diduga terlibat dalam kasus pencaloan penerimaan mahasiswa baru Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas) pekan nanti.

Sebelumnya pihak kepolisian menetapkan dua oknum pegwai Unhas sebagai tersangka dalam kasus yang diduga telah meraup uang miliaran rupiah tersebut. Keduanya yakni Rahmatia alias Tia dan Nurjanna Jalil. Kedunya diduga telah memalsukan Surat Keputusan (SK) dan tanda tangan milik Rektor Unhas.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani mengatakan, dari pengakuan kedua tersangka, mereka menyebutkan beberapa orang yang diduga telah tergabung dalam organisasi pencaloan ini.

“Untuk mengusut kasus ini, penyidik Polrestabes Makassar akan melakukan pemeriksaan terhadap Staf Rektorat Unhas bernama Daud. Pemeriksaannya dijadwalkan pekan ini, ” kata Dicky, Senin (12/12) kemarin.

Tak hanya Daud, namun pihak Kepala Rumah Sakit Inau Makassar, Dr Rahman turut pula dijadwalkan akan segera menjalani pemeriksaan di Mapolrestabes Makassar.

“Mungkin pekan ini juga yang bersangkutan (Dr. Rahman) diperiksa, karena ini berdasarkan pengakuan tersangka (Tia) karena diduga menerima dana Rp180 juta,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Mantan Direktur Sabhara Kepulauan Riau (Kepri) ini menuturkan, dalam kasus calo penipuan itu, dua orang sudah resmi dijadikan sebagai tersangka. Sementara untuk Daud dan Dr Rahman, pemeriksaannya baru sebatas saksi.

“Selain Daud dan Dr Rahman, penyidik akan menjadwalkan memeriksa beberapa saksi lain. Mungkin dalam minggu ini juga, mereka akan segera dipanggil untuk dimintai keterangannya,” tutur Dicky.

Lebih lanjut, Mantan Kapolres Aceh Tengah ini menyatakan, besar kemungkinan kasus penipuan itu akan berkembang dan akan menyeret nama-nama tersangka yang lain. Apalagi kata dia, salah satu pelaku itu hanya sebagai broker.

“Kemungkinan besar kasus itu akan berkembang dan bukan hanya pada dua tersangka saja. Apalagi kasus penipuan ini ditengarai banyak yang terlibat. Kan ada sebagai penghubung, ada pula yang hanya memberikan informasi, ” kata Dicky.

Sebelumnya, Tim Pengawas dan Pembinaan Internal Unhas Makassar yang dipimpin Nasaruddin Salam telah mendatangi Kantor Satuan Reskrim Polrestabes. Kedatangan mereka untuk mendalami pengakuan salah satu tersangka dalam kasus dugaan percaloan penerimaan mahasiswa baru FK Unhas.

Pemeriksaan itu dilakukan terhadap Rahmatia (Tersangka) untuk kepentingan internal. Sebab yang bersangkutan merupakan aparatur sipil negara yang bertugas di internal Unhas. Namun bukan itu saja, pihak Tim Internal Unhas turut mendalami keterangan saksi yakni Daud yang telah membantah bahwa dirinya menerima dana itu.

[NEXT-RASUL]

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap tersangka, Tim Internal Unhas mengungkapkan nama-nama yang diduga menerima dana tersebut. “Ada lima nama disebut Rahmatia yang sedang kita juga dalami, yakni Daud, Irwan, Awal, Raba, dan Sulis. Kalau Daud betul dia staf rektorat yang bertugas di bagian penjernihan kampus. Kalau nama lain yang disebut itu semuanya samaran,” ujar Nasaruddin. Keempat nama yang masih misterius tersebut bisa diungkap setelah penyidik kepolisian memeriksa Daud. “Makanya kita tunggu saja setelah Daud diperiksa informasi dari penyidik dalam waktu dekat ini, ia akan dipanggil untuk diambil keterangannya,” bebernya.

Adapun mengenai nama Dr Rahman yang juga disebut ikut terlibat dalam sindikat percaloan oleh tersangka Rahmatia, Nasruddin menegaskan, bukan urusan internal pihaknya, melainkan kewenangan kepolisian untuk memeriksanya. Karena kata dia, Rahman bukan dari internal Unhas.

Selain itu, Dr Rahman membantah jika dirinya ikut terlibat dalam sindikat pencaloan penerimaan mahasiswa baru FK-Unhas yang dilakoni jaringan Rahmatia.

Terbongkarnya penipuan kedua pelaku setelah anak pelapor, Suriana (37) warga Kabupaten Gowa hendak mendaftarkan anaknya ke Fakultas Kedokteran UMI. Suriana meminta dikembalikan uangnya untuk mendaftar di UMI, namun hingga kini belum dikembalikan.

Padahal, saat itu korban telah memberikan uang sebesar Rp 325 juta kepada calo. Tapi beberapa waktu kemudian karena tidak ada kejelasan, korban akhirnya mendaftar di UMI dan melapor kepolisi. (rrs/D)


div>