RABU , 13 DESEMBER 2017

“Kawin Cerai” Golkar-NasDem

Reporter:

Suryadi Maswatu - Iskanto

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 04 November 2017 15:37
“Kawin Cerai” Golkar-NasDem

Dok. RakyatSulsel

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Partai Golkar dan NasDem dipastikan menyatu di Pilgub Sulsel tahun 2018. Namun kemesraan kedua partai itu tidak berlaku di sejumlah kabupaten/kota di Sulsel yang juga menggelar pilkada.

Tak sedikit sejumlah daerah bakal menjadi ajang rivalitas kedua partai itu. Sejauh ini baru empat daerah yang hampir pasti menyatu mengusung calon yang sama. Empat daerah itu yakni, Palopo, Sidrap, Pinrang, Makassar. Sementara di Parepare, Enrekang, Sinjai dan Bantaeng, kedua partai itu dipastikan “bercerai”.
Di Pilwalkot Parepare misalnya, Golkar menjagokan Taufan Pawe, sementara NasDem menunjuk Faisal Andi Sapada sebagai penantang Taufan Pawe.

Aroma perceraian antara Golkar dan NasDem juga bakal tersaji di Pilkada Enrekang. Petahana Muslimin Bando memilih hengkang dari PAN untuk selanjutnya berlabuh di Golkar. Sebaliknya, Amiruddin yang pernah menjadi kader Golkar justru bergabung di Partai NasDem.

Hal yang sama juga bakal terjadi di Pilkada Sinjai. Golkar telah memberikan rekomendasinya kepada A Seto Gadhista. Sementara NasDem memberikan rekomendasinya kepada Takyuddin Masse. Di Bantaeng, Golkar bakal mengusung Arfandy Idris dan NasDem menjagokan Muhammad Yasin.

Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulsel, Abdillah Natsir menjelaskan, jika beberapa daerah yang menggelar pilkada serentak kader Golkar menjadi rival kader NasDem itu sesuai kondisi daerah dan kepentingan kader yang dianggap perlu berkompetisi membangun daerah. “Selain kondisi daerah, juga pemikiran yang tidak sejalan antara sesama,” ujarnya via seluler, Jumat (3/10) kemarin.

Wakil Sekjen DPP Golkar ini menilai, pihak Golkar tak mempermasalahkan hal tersebut (bercerai) dan dianggap sebagai hal biasa dalam pertarungan politik.
Kendati demikian, lanjut dia, pada hakekatnya Golkar dan NasDem tetap solid dan menyatu akan memenangkan ajang pertarungan di Pilgub Sulsel. “Jika di daerah menjadi rival. Pada intinya Golkar-NasDem menyatu untuk pilgub memenangkan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz),” tuturnya.

Saat ditanya, strategi yang akan dibangun Golkar untuk memenangkan jagoannya, Nasir mengungkapkan persoalan strategi diserahkan kepada kandidat dan partai pengusung untuk membicarakan sehingga mencapai tujuan yang diinginkan.
Ia berpendapat, kandidat dan tim punya strategi khusus. Apalagi ditopang oleh partai pengusung sehingga DPD I Golkar tidak terlalu jauh mencampuri hal tersebut.

“Strategi pemenangan kita serahkan ke kandidat dan tim partai pengusung mana baiknya. Itu demi kemenangan bersama,” demikian politisi senior ini.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Golkar Sulsel, Kadir Halid menyatakan, Golkar tentu akan berupaya menyapu bersih kemenangan di Pilkada serentak 2018 mendatang.

“Apalagi, Golkar secara struktur telah memiliki modal yang cukup kuat di daerah masing-masing. Golkar targetkan menang untuk Sulsel, kita ditarget realistis untuk menang di 12 kabupaten/kota dan Pilgub,” singkat Kadir.

Sementara Sekretaris DPW NasDem Sulsel, Syaharuddin Alrif mengatakan, Partai Golkar dan NasDem menyepakati akan berkoalisi di beberapa daerah.

Kendati demikian, kata dia, dii beberapa daerah yang kader NasDem-Golkar menjadi rival tentu tak menimbulkan suatu hal keprihatinan, akan tetapi kehendak masyarakat yang mendorong masing-masing figur.

“Ada beberapa daerah kita koalisi NasDem-Golkar. Kalau daerah yang kader jadi rival itu tak masalah karena kehendak rakyat yang menginginkan,” tuturnya.

Anggota DPRD Sulsel ini mengakui, kesepakatan koalisi setelah melakukan beberapa kali membangun komunikasi politik antar kedua elit partai politik itu. Sedangkan daerah yang saling unjuk kekuatan semata karena kondisi daerah.

Meski demikian, ia meyakini pihak NasDem tetap akan melakukan sosialisasi membantu kader di berbagai daerah dalam pilkada guna untuk mencapai target yakni kemenangan.

“Kita tetap membantu kader, baik sosialisasi maupun saat momentum kampanye nanti, semua demi mencapai target kemenangan,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menuturkan, tidak dapat dipungkiri memang, meskipun Golkar dan NasDem terkesan mesra di pilgub namun hal itu tidak menjamin dapat menyatu di pilkada daerah. Karena memang, dinamika politik setiap daerah tentunya berbeda-beda.

“Umumnya NasDem dan Golkar menyesuaikan aransemen dukungan di pilgub dan pilbup/pilwali. Meskipun di beberapa daerah sepertinya susah di paksakan untuk berlaku seragam, karena dinamika hubungan antara kader NasDem dan Golkar yang sulit untuk disatukan,” tuturnya.

Luhur menjelaskan tentunya, baik Golkar maupun NasDem memiliki kompromi tersendiri bagi kadernya di daerah untuk menentukan sikap. Karena memang, bukan persoalan mudah untuk memaksakan membangun koalisi bersama yang pada akhirnya hanya menyisakan kekecewaan kader.

“Sepertinya tetap ada kompromi untuk memberi ruang kontestasi pada masing-masing kader. Sepanjang komitmen tidak berubah untuk dukungan pilgub,” pungkas Luhur. (*)


div>