SABTU , 20 OKTOBER 2018

Kebijakan Ekonomi Presiden Direspon Negatif Pasar Dunia

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Kamis , 10 September 2015 22:47

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan paket kebijakan untuk mengatasi kondisi perekonomian yang semakin mengkuatirkan.

Bukannya memberikan dampak positif, paket kebijakan ekonomi tersebut malah membuat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar kembali terperosok ke Rp 14.300-an pada Kamis (10/9) pagi.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis (10/9), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward menurun 61 poin atau 0,43 persen ke Rp14.323 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp14.261 per USD. Pada pembukaannya Rupiah berada di level Rp14.280 per USD.

Kamis pagi, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.280-Rp14.334 per USD. Dalam pergerakan 52 mingguan rupiah masih di kisaran Rp11.764-Rp14.352 per USD.

Sementara, yahoofinance, NDF Rupiah di pasar global, mencatat Rupiah menguat 9 poin ke Rp14.250 per USD. Kamis pagi, rupiah bergerak di kisaran Rp14.210-Rp14.267 per USD.

Ketua Komite Dewan UKM Sulsel, Ryan Latief, mengatakan, paket kebijakan ekonomi yang diumumkan menjelang Rabu malam gagal memberikan rincian yang spesifik. Sehingga respons positif yang signifikan serta meningkatkan prospek pertumbuhan sepertinya belum akan terlihat.

“Kebijakan moneter BI lebih menyasar stabilitas Rupiah bukan pertumbuhan. Dalam jangka pendek Rupiah masih berpeluang menguat mengikuti sentimen pelemahan Dolar di pasar global walaupun pelemahan tajam harga komoditas akan mencegah penguatan yang signifikan,” ujarnya.

Ketua Badan Pengurus Provinsi (BPP) Asosiasi Kontraktor Umum Nasional (Askumnas) Sulsel ini, menilai, kebijakan Jokowi tidak membawa dampak, sebab kegaduhan politik parlemen dan kegaduhan kabinet telah menjadi biang kerok terpuruknya perekonomian Indonesia.

“Seperti saya katakan sebelum-sebelumnya di sejumlah diskusi, kebijakan yang dikeluarkan Presiden sangat tidak strategis mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS yang semakin tak terbendung. Bahkan, kebijakan ekonomi presiden justru direspon negatif pasar dunia. Makanya, kembalikan kedaulatan rakyat harus ditegakkan. Jokowi harus mundur atau dipaksa mundur oleh rakyatnya,” terang Ryan Latief yang juga Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Sulsel.

Sementara, yahoofinance mencatat, Rupiah melemah 127 poin atau 0,89 persen di Rp14.320 per USD. Sedangkan kamis pagi pergerakan rupiah berada di kisaran Rp14.072-Rp14.325 per USD.

Kondisi pelemahan nilai tukar Rupiah juga diperparah kebijakan bank cental AS telah menaikan suku bunganya. “Hal itu menyebabkan, mata uang di Asia semakin melemah, akibat devaluasi mata uang Yuan. Para pemilik modal berbondong-bondong menarik Dolarnya untuk disimpan di AS. Akhirnya, Indonesia tidak punya Dolar untuk membayar barang-barang impor,” jelasnya.


div>