RABU , 22 AGUSTUS 2018

KECANDUAN

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 09 April 2016 09:44
KECANDUAN

Haidar Majid

Dalam banyak hal, kata “kecanduan” bisanya digunakan untuk menunjuk pada kesukaan terhadap sesuatu secara berlebihan. Orang yang diserang ‘penyakit’ kecanduan, cenderung mengabaikan hal-hal yang tidak berkenaan atau tak memiliki korelasi dengan apa yang disukainya. Lebih ekstrimnya, orang yang sedang dibelenggu kecanduan akan mengalami ‘gangguan daya ingat’ karena melulu fokus hanya kepada sesuatu yang disukainya.

Orang yang kecanduan akan ‘mengorbankan’ apa saja demi kesukaannya. Waktu, tenaga, fikiran dan materi. Tak pernah ‘berhitung’ atau mengkalkulasi semua konsekuensi yang ditimbulkan atas apa yang membuatnya kecanduan. Dalam ‘kamus’ kecanduan, yang penting menyenangkan dan bikin ‘bahagia’, tak ada kata “resiko”.

Memilah kecanduan dari takaran kwantitatif, bisa ditemukan fenomena, bahwa ada kecanduan yang cenderung dialami oleh hanya beberapa orang atau jumlahnya tidaklah banyak-banyak amat. Biaya menjadi alasan yang cukup berpengaruh mengapa kecanduan seperti ini tak banyak ‘diminati’, atau bisa pula karena faktor resiko yang terlalu berat sehingga banyak orang yang enggan menceburkan diri.

Jika ada kecanduan dalam skala terbatas, berarti ada kecanduan yang jumlah populasi dan wilayahnya lebih massif. Kontra dengan kecanduan skala terbatas, bisa diasumsikan bahwa kecanduan dalam skala massif, lebih dikarenakan oleh biaya yang relatif murah dan dianggap tidak terlalu rentan dengan resiko atau bisa juga karena selama ini belum ditemukan resiko yang berlebihan.

Untuk konteks massif, sadar atau tidak sadar sebenarnya bisa dijumpai dalam keseharian kita. Percepatan informasi dan teknologi sangat memanjakan banyak orang untuk menjadi kecanduan dalam berinteraksi di dunia maya. Berbagai jejaring sosial tersedia di etalase-etalase smart phone, juga gadget lainnya. Cukup dengan mengisi pulsa, ada jaringan atau wi-fi, pastikan batterai terisi, maka berselancarlah ke manapun kita mau.

Dari pagi ke pagi hampir seluruh jejaring sosial tak pernah sepi. Selalu saja terjadi komunikasi dan interaksi, baik mereka yang telah saling kenal sebelum bertemu di dunia maya ataupun mereka yang berkenalan setelah dipertemukan oleh dunia maya. Atensi berdunia maya malah cenderung menggeser kebiasaan berkomunikasi dan berinteraksi di dunia nyata. Mungkin karena dunia maya, tidak membutuhkan ruang dan waktu tertentu, bisa dilakukan kapan dan dimana saja untuk berkomunikasi dan berinteraksi, sehingga pilihan ini lebih menggoda.

[NEXT-RASUL]

Untuk lebih mengintensifkan komunikasi, tak jarang mereka yang telah kenal sebelum bertemu di dunia maya, membentuk semacam grup-grup atau perkumpulan dengan tujuan untuk saling bertukar kabar atau mengshare hal-hal yang bisa mengingatkan mereka terhadap banyak hal, apakah itu yang sifatnya informatif atau sekedar bernostalgia, atau sesuatu yang membangkitkan gairah humor mereka, dengan cara memposting gambar-gambar atau cerita-cerita yang bisa mengundang tawa. Semua itu dilakukan tak lain agar kita bisa betah berlama-lama di dunia maya.

Hanya saja, menjadi penting bagi kita semua, bahwa segala sesuatu yang berlebihan, berpotensi mendatangkan mudharat. Kalau toh bermanfaat, mungkin prosentase mudharatnya masih lebih dominan ketimbang manfaatnya itu sendiri. Secara tidak sadar, ada beberapa diantara kita yang rupanya telah kebablasan dalam berdunia maya. Terlalu asyik, sampai lupa komunikasi dan interaksi dunia maya juga seyogyanya beretika, bernorma dan beradab. Tidak sedikit grup-grup yang awal pembentukannya bermaksud baik, malah berujung perselisihan.

Begitu pula dengan waktu yang digunakan untuk berselancar. Tidak jarang diantara kita ada yang ‘lupa’ waktu, seolah dunia maya telah menjadi dunia yang begitu lekat dengan kita. Betah duduk berlama-lama dengan handphone atau gadget lainnya di tangan. Bahkan tidak cukup hanya duduk, dunia maya juga kita bawa sampai ke pembaringan.

Beberapa waktu yang lalu, Pak Endre Cecep Lantara, sahabat saya, sempat mengshare sebuah renungan, yang isinya membuat saya tersentak. Dari sekian banyak renungan yang selama ini dishare atau diposting di jejaring sosial, untuk pertama kalinya saya tertarik membaca tuntas, bahkan berulang-ulang. Bukan apa-apa, menurut saya, renungan yang satu ini penting sebagai ‘warning’ bagi saya, juga mungkin untuk kita semua.

Inti dari renungan tersebut sepertinya sedang menyadarkan kita; seberapa banyak waktu yang dihabiskan di dunia maya. Seberapa pernah kita menghardik anak kita, hanya karena merasa terganggu tatkala asyik online. Seberapa pernah kita mengabaikan keluarga, hanya karena takut kehilangan postingan, moment atau time line.

Mengerikan jika merunut kisah itu hingga akhir. Dunia maya ternyata begitu menyita perhatian kita sehingga sering abai pada hal-hal prinsip, seperti keluarga. Padahal, jika suatu saat kita dirundung kedukaan, merekalah yang paling bersedih, merekalah yang paling kehilangan. Olehnya, ada baiknya kita merecovery kembali kebiasaan yang bisa membuat kita terjebak dalam kecanduan, salah satunya yakni dunia maya.

Makassar, 8 April 2016

Salam #akumemilihsetia


Tag
  • voxpopuli
  •  
    div>