SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Kejati Sita Aset Tersangka Senilai Rp 16,7 M

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 31 Maret 2017 09:58
Kejati Sita Aset Tersangka Senilai Rp 16,7 M

FAHRULLAH/RAKYATSULSEL/C SITA ASET TERSANGKA - Tim penyidik Tindak Pidana khusus Kejati Sulselbar menyegel salah satu rumah tersangka pada kasus perluasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros, Sitti Rabiah, di perumahan BTN Makassar Town House Hertasning, Rabu (29/3).

MAKASSAR,RakyatSulsel.com– Kejaksaan Tinggi (kejati) Sulselbar melakukan penyitaan aset terhadap enam dari sembilan tersangka, kasus korupsi pembebasan lahan Bandara Sultan Hasanuddin periode 2013-2015, yang merugikan negara Rp 317 miliar.

Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulselbar, Jan Samuel Maringka mengatakan saat ini tim penyidik mampu menyita beberapa aset para tersangka, mulai dari rumah, tanah hingga mobil. “Kemarin (Rabu) Tim telah menyita beberapa aset tersangka baik itu yang bergerak maupun tidak,” kata Jan Samuel Maringka saat melakukan jumpa Pers di Kejati, Kamis (30/3).

Jan mengatakan sedikitnya 22 item yang dilakukan penyitaan terhadap aset tersangka yang diduga merupakan hasil dari perbuatan tindak pidana korupsi. “Dari aset yang disita dan perhitungan sementara, kita perkirakan sebesar Rp16,7 miliar, karena dari para tersangka ada yang memiliki rumah yang total harganya mencapai Rp 2,5 milar dan tanah yang harganya ratusan juta,” ujarnya.

Kejaksaan saat ini masih terus melakukan pengejaran dan pengembangan terhadap aset milik tiga tersangka lainnya yang diduga merupakan hasil tindak pidana korupsi. “Tim masih terus berjalan, mencari aset milik tersangka yang diduga tindak pidana korupsi, ” ucapnya.

Adapun Keenam tersangka tersebut yang dilakukan penyitaan aset yakni Andi Nuzuliah (Kepala BPN Maros),

Hijaz Zainuddin (Kepala BPN Wajo), Hamka (Kasie Pengaturan Tanah Pemerintah BPN Maros), Muhtar (Juru Ukur), Hartawan Tahir (Kasubsi Pendaftaran), Siti Rabiah (Kepala UPTD Dinas Pendidikan Makassar). Sementara tiga lainnya yakni Machmud Osman (Camat Mandai), Rasyid (Kepala Dusun Bado-bado), dan Raba Nur (Kepala Desa Baji Mangai) sementara dalam tahap proses penyitaan.

Diketahui dalam proyek perluasan bandara Intenasional Sultan Hasanuddin Kabupaten Maros telah menggunakan dana APBN tahun 2015 sebesar Rp517 miliar. “Jadi strategi pemulihan kerugian negara tidak hanya kita kejar pelaku, tapi juga aset hasil kejahatan,” ucap Jan.

[NEXT-RASUL]

Kasus dugaan korupsi perluasan Bandara Sultan Hasanuddin yang melibatkan sembilan tersangka, dinilai telah menyalahgunakan wewenang dan lalai dalam taksasi harga yang membuat negara merugi. Modusnya para tersangka diantaranya memainkan peran menyamarkan warga yang berstatus penggarap lahan  maupun warga yang memiliki sertifikat lahan untuk mendapatkan ganti rugi. Selain itu, para tersangka juga tidak melakukan komparasi data dengan pihak Provinsi Sulsel, dimana terdapat penggelembungan ganti rugi lahandari Rp 186 miliar menjadi Rp 520 miliar pada 2015 lalu. Padahal, harga lahan terbilang murah yakni Rp 200.000 per meter dengan total lahan pembebasan mencapai 60 hektar. (Fah/D)


div>