SELASA , 11 DESEMBER 2018

Kekerasan Anak di Makassar Capai 1160 Kasus

Reporter:

Armansyah

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 07 April 2018 12:00
Kekerasan Anak di Makassar Capai 1160 Kasus

Murid-murid SD Pertiwi Makassar meneriakkan yel-yel anti kekerasan terhadap anak pada pencanangan Gerakan Anak Sebagai Agen Perubahan di Makassar, Sulsel, beberapa waktu lalu. foto: dok. rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat sedikitnya ada 1.160 kasus kekerasan anak di Kota Makassar selama tahun 2017. Hal itu disebabkan karena minimnya pengetahuan anak, remaja, orang tua dan guru terhadap eksploitasi anak secara online.

Kepala Dinas PPPA Kota Makassar, Andi Tenri A Pallalo mengatakan selama tahun 2017, pihaknya mencatat ada sekitar 1.106 kasus yang ditangani Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Dan 500 kasus diantaranya adalah kasus terhadap anak dan lainnya adalah kasus perempuan yang meliputi kasus fisik, psikis, dan seksual.

“Data yang masuk di pengaduan terpadu adalah efek dari dunia maya, yang banyak memaparkan anak-anak dalam berbagai hal, mulai dari kekerasan seksual, fisik dan lain-lain. Apalagi kasus seksual ini mayoritas akibat dari internet,” kata Tenri, Jumat (6/4).

Ia mengakui anak-anak usia sekolah saat ini sudah banyak menggunakan sosial media. Namun, jika ini disalahgunakan akan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak, dan rawan terjadi eksploitasi.

Sementara itu, Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mencatat selama tahun 2017 sudah ada sekira 435.944 IP Address yang mengupload dan mendownload pornografi anak.

Hal itu disampaikan langsung oleh Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi, Kementerian PPPA, Valentina Ginting. Ia mengaku prihatin dengan maraknya kasus eksploitasi yang terjadi pada anak.

Terlebih, kata dia, kasus seperti ini mengalami peningkatan sampai dua kali lipat di tahun 2017 lalu. “Angka itu mengalami peningkatan dua kali lipat, dari tahun 2016 lalu,” katanya.

Menurut dia, peningkatan itu terjadi karena pengguna sosial media yang terus mengalami peningkatan. Tercatat, ada sekitar 94,12 persen pengguna sosial media di perkotaan dan 90,18 persen di pedesaan.

Menurutnya, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menekan jumlah kasus ekploitasi terhadap anak, yaitu melalui program pelatihan teman anak yang diselenggarakan di empat kota besar di Indonesia. Seperti, di Jakarta, Kabupeten Berau, Kota Makassar dan Kota Denpasar Bali.

Ia menilai mayoritas penduduk Indonesia lebih suka mengupload foto di sosial media. Padahal, mereka tidak paham bahwa status atau foto yang di share melalui sosial media itu bisa di akses di seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu, kata dia, melalui training pencegahan eksploitasi seksual anak secara online ini, ia berharap agar para pengguna media sosial khususnya para orang tua untuk lebih cerdas dalam menggunakan sosial media.

“Jangan sembarang juga kita mengupload atau mendownload. Karena sekarang orang-orang tidak tahu, anaknya di foto telanjang di upload ke media sosial, tapikan banyak orang yang menyalahgunakan foto-foto itu. Nah itu yang harus diberi pelajaran agar mereka smart dalam menggunakan media itu,” jelasnya.

Ia juga mengaku pihaknya juga sudah melakukan sosialisasi aku cerdas berinternet kepada 1600 anak kelas 3 sampah 6 SD. Pasalnya, berdasarkan survei Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pemilik smartphone mencapai 66,31 persen dari jumlah penduduk Indonesia, dan 65,34 persen diantaranya adalah anak berusia 9 sampai 19 tahun.

“Sasaran kita ke mereka agar mereka paham bagaimana harus cerdas berinternet, tapi cara kita berbeda. Kita belum melaksanakan di Kota Makassar, karena baru kali ini kita ke Makassar dengan program ini,” ungkapnya.

Ia menilai maraknya anak yang menggunakan gawai disebabkan karena pola asuh orang tua yang kurang baik. Misalnya, kata dia, tidak jarang ditemukan di salah satu restoran, ketika ada acara keluarga baik orang tua maupun anak itu lebih memilih memainkan handphone daripada harus membangun komunikasi.

“Kita tidak bisa mengatakan tidak terbuka dengan dunia tanpa batas. Nah sekarang kita di Indonesia yang di pintarkan adalah peran orang tua, bagaimana pola pengasuhan orang tua terhadap anak. Kalau orang tua main HP terus didepan anaknya, pasti anak itu akan mencontoh,” pungkasnya. (*)


div>