SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Kekurangan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 29 Desember 2016 13:02
Kekurangan

Wawan Mattaliu. (Facebook)

Ini hanya cerita yang saya pindahkan ulang dari seorang teman. Tentang ayahnya.

Setiap kali tanggal baru, dia memberi sebahagian pendapatannya pada sang ayah yang tinggal sendiri agak jauh dari lokasi tugasnya. Dia berharap ayahnya bisa cukup dengan itu. Bahkan kalau irit bisa sebahagiannya di tabung.

Tapi sekali waktu, dia begitu kecewa, ternyata secara tak sengaja menemukan ayahnya memberi beberapa tetangganya. Dan dari cerita beberapa orang, ternyata itu sudah berlangsung sejak dia memberi sebahagian pendapatannya pada sang ayah.

Pada sekali kesempatan, dia mengajak ayahnya duduk di teras. Uneg-uneg yang menumpuk di kepalanya begitu mendesak ingin disampaikan. Dengan hati-hati dia menyampaikan gundahnya.

“Ayah, memberi itu baik. Tapi bagi orang yang berkecukupan. Kudengar ayah setiap saat memberi beberapa orang di sekitar sini. Tentu alasannya karena mereka miskin. Tapi apakah yang ayah punya itu cukup? Kenapa ayah tidak menabung saja supaya punya kesempatan nanti untuk umrah?”

Ayahnya menatap. Tersenyum.

“Anakku, apakah tidak tega namanya kalau ayah sibuk mengurusi surga yang Tuhan janjikan sambil membiarkan beberapa orang didekatmu tak bisa tidur karena kelaparan? Apakah ayah tidak kejam namanya kalau ayah hanya sibuk mengurusi diri sedang di samping rumah ada yang sekarat karena tidak bisa ke dokter? Sementara kau begitu tahu anakku, tak ada satu orang pun di muka bumi ini yang ketika meninggal, mengantar dirinya sendiri ke pemakaman,” begitu tenang suara ayahnya di sore yang sejuk itu.

“Ayah juga berterimakasih atas keberatanmu nak. Apa yang kamu kemukakan benar adanya. Kamu menyantuni ayah. Dan ayah memberi kepada beberapa orang apa yang telah kamu beri kepada ayah. Kamu bisa menghentikan pemberianmu itu kalau ternyata penggunaannya di matamu tak tepat.

Tapi ayah memberi alasannya bukan karena berlebih. Tapi ayah sangat faham bagaimana rasanya hidup serba kekurangan.”

Sore menjadi diam sampai maghrib tiba. Sang anak berdiri memeluk ayahnya dengan sungguh. (*)


div>