SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Keluarga Korban di Matano Puas Setelah Bertemu Kapolres Lutim

Reporter:

Editor:

dedi

Selasa , 07 Maret 2017 18:56
Keluarga Korban di Matano Puas Setelah Bertemu Kapolres Lutim

ILUSTRASI

LUWU TIMUR, RAKYATSULSEL.COM – Pihak keluarga korban penganiayaan di Desa Matano, Kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu Timur, puas setelah menghadap Kapolres Luwu Timur (Lutim).

Mereka datang mempertanyakan proses hukum terhadap 12 tersangka yang diduga terlibat penganiayaan terhadap Warni Pasau dan Sudirman.

“Kapolres sudah meyakinkan kami kalau 12 tersangka tersebut kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. Artinya, kasusnya lanjut demi hukum,” ujar Perniati Mukaddas, Selasa (7/3)

Menurutnya, ia bersama pihak keluarga korban yang menghadap ke AKBP Parojahan Simanjuntak, untuk berdialog langsung terkait proses hukum kasus penganiayaan tersebut.

Selain Perniati Mukaddas, hadir juga Marzuki dan Arham yang tidak lain anggota keluarga Warni Pasau. Ketiganya diterima langsung Kapolres diruang kerjanya Kapolres pada Senin (6/3), kemarin.

Saat bertemu dengan Kapolres Kata Perni, banyak hal yang di pertanyakan, kenapa 12 tersangka penganiayaan ini tidak ditahan, kemudian kelanjutan kasus Ijazah Palsu Pak desa Matano yaitu Jhonlis.

Dalam pertemuan itu kata Perni, Kapolres mampu meyakinkan kita semua, dimana dikatakan Kapolres tidak menahan karena mempertimbangkan situasi keamanan di Desa Matano.

“Jangan sampai mereka ditahan, lantas terjadi pertikaian antara sesama warga Matano,” kata Perni

Selanjutnya, kami juga paham tidak ditahan bukan berarti kasusnya dihentikan, sebab ternyata kasusnya tetap lanjut dan kini sudah dilimpahkan ke kejaksaan.

Tak hanya itu Kapolres juga mengatakan untuk kasus Ijazah Palsu, berkasnya sudah lengkap sisa pelimpahan ke kejaksaan. Demikian juga dengan kasus pengrusakan pondok kebun pelakunya juga sudah berhasil teridentifikasi.
[NEXT-RASUL]
Perniati mengakui, mereka perlu mendengar langsung dari Kapolres karena semenjak kasus ini ditangani polisi banyak provokator yang nyaris menimbulkan gesekan fisik antara masyarakat di Matano. Bahkan, ada pula informasi yang dikemukakan petugas tidak serius menangani kasus tersebut.

Mereka mempertanyakan kasus Ijazah palsu Jhonlis karena diduga kasus penganiayaan itu ada kaitan dengan kasus Ijazah palsu .

Kapolres yang dihubungi mengatakan, mengakui benar ada perwakilan keluarga korban yang menghadap mempertanyakan kasus penganiayaan tersebut.

“Saya sudah sampaikan secara detail seperti apa prosesnya yang sudah dilaksanakan petugas, syukurlah mereka paham semuanya.” Ujar Kapolres

Kapolres bersyukur mereka datang langsung menghadap,sebab selama ini ada pihak-pihak yang mengompori yang membuat situasi tidak nyaman.

Mereka memamg pertanyakan Kenapa pelaku penganiayaan tidak ditahan, saya jawab tidak ditahan bukan berarti proses hukum nya mandeg, buktinya tiga orang yang dilaporkan oleh penyidik saya malah menjadi 12 orang tersangka nya.

Jika mereka tidak ditahan maka nanti mereka akan menjalani penuh masa tahanan nya setelah di vonis.


div>