JUMAT , 17 AGUSTUS 2018

Keluarga Korban Penyanderaan Akui Tidak Ada Deadline

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Minggu , 10 April 2016 22:47

LUWUTIMUR, RAKYATSULSEL.COM – Permintaan uang tebusan 50 juta Peso (sekira Rp14,3 miliar) dari kelompok Abu Sayyaf di Filipina untuk pembebasan sepuluh sandera Warga Negara Indonesia (WNI) yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK) Brahma 12 ditanggapi keluarga korban.

Rahmat Mansyur, Kakak Wawan Saputra, salah satu korban penyanderaan, Minggu (10/4), mengakui, sebenarnya tidak ada deadline untuk pembebasan sepuluh orang ABK Brahma 12 itu.

“Sebenarnya, tidak ada jangka waktu diberikan untuk pembebasan para sandera. Hanya saja kelompok Abu Sayyaf mengatakan dapat membebaskan para sandera jika uang tebusan diberikan secepatnya,” kata Rahmat.

Rahmat menyampaikan, tidak adanya jangka waktu yang diberikan para penyandera diperoleh dari Menteri Luar Negeri (Menlu) dan perusahaan Kapal Brahma12.

“Saya di informasikan secara langsung melalui via telepon dari Menlu dan perusahaan Kapal Brahma 12 bahwa tidak ada deadline yang diberikan kelompok Abu Sayyaf,” ujarnya.

Rahmat menjelaskan, pihak Menlu dan perusahaan Kapal Brahma 12 sudah ada di Filipina untuk melakukan lobi dan negosiasi dengan kelompok Abu Sayyaf untuk melakukan pembebasan sepuluh orang WNI,” katanya. (***)


div>