SABTU , 23 JUNI 2018

Kematian Itu

Reporter:

Editor:

Lukman

Sabtu , 10 Februari 2018 09:39
Kematian Itu

Arifuddin Saeni

KITA tak pernah tahu, kapan kematian itu datang. Kita juga tak pernah tahu akan penyebab kematian itu kecuali rasa sedih. Tapi kematian, kadang melahirkan pertentangan, syak wasangka, amarah, rasa benci dan juga mungkin penyesalan, yang kadang tak mesti terjadi.

Bukankah kematian itu adalah takdir. Seperti yang sering kita dengar di mimbar-mimbar. Di sana ada kepastian akan datangnya yang namanya kematian, kita juga tak pernah tahu seberapa besar penyebab kematian itu sehingga melahirkan tangis, dan juga tanya.

Seperti kematian yang dialami salah seorang guru kesenian seni rupa di SMAN 1 Torjun, Sampang Madura, Ahmad Budi Cahyanto (27). Dia yang meninggalkan seorang istri dalam keadaan hamil muda, mungkin menjadi gambaran bahwa maut tak mengenal yang namanya sedih, maut tak mengenal pengyatiman anak. Ia datang sebagai takdir, bahwa kelahiran akan selalu beririsan dengan kematian.

Kita tak bisa menggugat akan keesaan-Nya. Kemutlakan telah menjadikan kita sebagai manusia yang utuh untuk memahami bahwa tak ada yang kekal. Bahwa hidup pasti ada ujungnya. Ada akhir, di mana kita harus menempuh perjalanan yang lainnya. Karena itu, perdebatan akan sebab akibat barangkali bisa menjadi diaroma menipisnya keimanan kita.

Kemutlakan akan keesaan, sesungguhnya akan mengantarkan kita pada apa yang disebut kepasrahan pada setiap yang bernyawa. Dan kita, memang tak pernah diajar untuk bertanya, apalagi menggugat.

Tapi dalam dunia ajar, kepatuhan mestinya menjadi mutlak. Walau pun itu, ia bisa saja melahirkan perdebatan tentang siapa yang salah dan siapa yang benar, ataukah siapa yang jagoan dan siapa yang tidak. Dan anak-anak didik, kadang memahami guru bukanlah sesuatu yang penting. Ia kadang hanya pelengkap dari sebuah sistem, sehingga dengan gampangnya digampar dan dilukai.

Tapi potret ini tak pernah menyadarkan kepada pada yang namanya ajar. Guru sekali pun terus berusaha menanamkan nilai-nilai adab, kemanusiaan ataukah apa pun namanya, pada akhirnya dia harus kalah karena kita seakan-akan merasa tak butuh sebagai manusia yang utuh, yang harus bersama-sama berjalan membangun anak bangsa.

Karena itu, kejadian yang berulang kali mungkin hanya dijadikan sketsa dari apa disebut peristiwa yang mungkin akan kita lupakan dengan peristiwa-peristiwa yang akan datang. Lalu apakah kematian guru yang hanya bergaji Rp400 ribu itu mesti disesali? Untuk apa! Bukankah sebentar kita akan lupakan, lalu membuat cerita-cerita baru tanpa makna. Ah! (**)


div>