MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Kemenangan Rakyat

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 28 April 2017 10:29
Kemenangan Rakyat

Arifuddin Saeni

KEMENANGAN  pada setiap pemilihan kepala daerah selalu beririsan dengan kesedihan pada yang lainnya. Pertarungan ini bukan hanya menghasilkan strategi tapi juga tipu-tipu, tentang siapa yang menang dan kalah nantinya, tentunya sejauh mana mereka mampu mendekati pemilih. Rakyat.

Adigium tentang kemenangan selalu berujung pada kalimat, bahwa ini “kemenangan rakyat”. Sembari tertawa terbahak-bahak, yang juga kita tidak tahu, apakah mengejek atau tidak. Tapi sementara yang lainnya begitu sedihnya. Tapi itulah sebuah pertarungan yang disebut Pilkada. Produk yang dihasilkan atas nama Undang-Undang, harus dipahami bahwa harus ada yang memenangkan pertarungan itu, entah dengan cara baik-baik atau yang lainnya. Entahlah.

Tapi mungkin ada benarnya, seperti yang pernah dikatakan mantan ketua Mahkama Konstitusi, Mahfud MD, bahwa di Pilkda sesungguh yang terjadi adalah pertarungan kecurangan. Apa pun yang dilakukan pihak lain, tentu akan dilakukan juga pihak yang lainnya. Soal gugat menggugat, hanya soal legalitas saja.

Ini memang kadang menyakitkan, demokrasi bukan hanya melahirkan retorika di panggung-panggung kampanye dengan massa yang menyemut,  tapi juga keputusasaan dan ketakberdayaan. Kita digiring pada sebuah kondisi, di mana kekuasaan itu begitu absur—jauh melampaui kemampuan kita, yang berusaha bertahan pada semua tekanan. Tapi demokrasi memang kadang-kadang harus kita rawat dengan air mata dan rasa putus asa.

Tapi siapa yang mau peduli dengan semua itu. Rakyat kadang tak peduli dengan retorikamu yang indah, ataukah tampilanmu di televisi dan surat kabar. Rakyat hanya butuh makan tiga kali sehari, ataukah ketika sakit tak direpoti dengan persoalan administrasi. Pendidikan yang layak untuk anak-anaknya, atau sesekali mereka butuh rehat diberanda sambil bercerita tentang masa lalu mereka yang manis. Di situ mereka butuh ruang untuk berapresiasi membangun masa depan anak-anaknya.

Pada ujungnya, demokrasi hanya urusan mereka yang di atas—bahwa ada pilihan nantinya hanya soal selera, bukan pada siapa dan mengapa. Sebab, demokrasi kadang menghadapkan pada kita tentang cerita yang tak berujung.

Bahwa ini adalah “kemenangan rakyat” mungkin hanyalah permainan kosa kata, yang sewaktu-waktu akan dipakai untuk menindas mereka. Toh diujung sana begitu banyak contoh yang disamarkan, tentang perampasan hak dan memanggang air mata diterik matahari. (*)


div>