SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Kemenangan Sejati

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 05 April 2016 10:23
Kemenangan Sejati

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

KOMPETISI apa pun yang dilakukan dalam kehidupan manusia, semuanya mendambakan kemenangan. Tidak terkecuali dalam peperangan sekalipun semua pihak mengharapkan kemenangan. Peperangan atau persaingan apa pun namanya, selalu ada pihak yang kalah dan menyisakan kesedihan. Sementara kemenangan yang diraih pun sifatnya semu dan tidak ada yang abadi.

Perhatikan saja, setiap permusuhan dan perselisihan masing-masing pihak ingin menghabisi dan menyebabkan pihak lain bertekuk lutut. Apa pun yang melatarbelakangi permusuhan dan perselisihan itu. Ada yang berselisih karena harta, jabatan, kehormatan dan pengaruh atau demi ideologi dan mempertahankan hidup. Kemenangan yang diraih seringkali terasa hampa dan sia-sia, karena lawan yang ditundukkan tidak menaruh rasa hormat tapi justru mendatangkan kepedihan dan mungkin juga rasa dendam. Akhirnya kemenangan tidak membawa kebahagiaan.

Dalam riwayat diceritakan bahwa setelah Nabi Muhammad saw. kembali dari sebuah peperangan, ia berkata kepada para sahabatnya bahwa kita baru saja kembali dari sebuah peperangan yang kecil menuju peperangan yang lebih besar. Sahabat nabi pun kaget lalu berkata: masih adakah peperangan yang lebih besar dari peperangan yang baru saja kita hadapi. Nabi menjawab: ya, peperangan yang lebih besar adalah peperangan melawan hawa nafsu sendiri.

Kemenangan melawan ego negatif yang ada pada setiap diri, akan melahirkan kemenangan sejati, tidak ada yang hancur dan tersakiti. Tidak ada tetesan air mata dan bara dendam, yang ada hanyalah kebahagiaan baik yang kalah maupun yang menang. Karena itu, yang dibutuhkan hanyalah keikhlasan untuk mengakui kelebihan orang lain, dan kerelaan menerima apa yang kita miliki.

Kemenangan ternyata tidak selamanya harus melalui pertempuran dan pengorbanan yang luar biasa, kita hanya membutuhkan keikhlasan untuk saling mengakui dan menghargai kelebihan masing-masing. Namun betapa sulitnya menghadirkan pengakuan itu kepada orang lain, karena kita belum ikhlas melakukannya dalam kehidupan ini.

Kebahagiaan tidak akan pernah hadir, manakala kita senantiasa membandingkan kelebihan dalam hal apa pun yang dimiliki orang lain dengan apa yang kita miliki. Namun kebahagiaan akan segera terasa ketika kita rela terhadap apa yang kita punyai. Demikian halnya dengan kemenangan, yang disebut kemenangan sejati bukanlah yang mampu membuat musuh bertekuk lutut bahkan binasa tak berdaya, melainkan mengendalikan nafsu yang bemukim dalam diri sendiri.

[NEXT-RASUL]

Demikian halnya dengan perjuangan, senantiasa membutuhkan skala perioritas. Alkisah, seorang pemuda sangat takjub menyaksikan keutamaan balasan orang yang berjihad di jalan Allah, yakni masuk surga tanpa di hisab. Kemudian mendatangi Nabi dan bermaksud ikut berperang, lalu Nabi bertanya kepadanya: apakah engkau masih memiliki kedua orang tua? Pemuda itu pun menjawab: ya Rasulullah, bahkan keduanya masih hidup. Nabi berkata: mengapa engkau ingin mencari surga di bawah kilatan pedang, sedangkan surga bisa engkau dapatkan dengan jalan mengabdi dan berbuat baik kepada kedua orang tuamu.

Begitu pula dengan alasan solidaritas perjuangan yang dilakukan sebagian orang dengan meninggalkan keluarga sendiri untuk berjuang di negara lain. berdasarkan skala prioritas, perjuangan dimaksud dapat saja diwakili oleh orang lain. Namun membiayai hidup keluarga tidak mungkin dibebankan kepada orang lain, melainkan harus diri sendiri.

Semoga dengan berjalannya waktu siapa pun kita, apa pun profesi yang kita geluti, berapa pun usia kita, semakin mematangkan kearifan dalam menghadapi perbedaan yang ada tanpa harus mengorbankan orang lain yang berbeda dengan kita. (*)


Tag
div>