SELASA , 20 NOVEMBER 2018

Kementerian Pertanian Sigap Atasi Kekeringan

Reporter:

Editor:

Iskanto

Sabtu , 01 September 2018 13:37
Kementerian Pertanian Sigap Atasi Kekeringan

ilustrasi (NET)

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan upaya-upaya peningkatan produksi padi di seluruh wilayah Indonesia. Salah satunya dengan mendorong petani untuk melakukan aktivitasi pertanaman di sepanjang tahun. Kebijakan ini harus didukung dengan ketersediaan air yang cukup terutama pada musim kemarau.

Berdasarkan Informasi dari BMKG, puncak musim kemarau tahun ini diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September. BMKG juga memprediksi pada musim kemarau tahun 2018 ini akan sedikit lebih panjang dan musim hujannya mengalami kemunduran hingga 20 hari.

Hal ini dikarenakan adanya pengaruh anomali iklim global El-Nino Southern Oscillation (ENSO) pada sebagian wilayah Indonesia. Areal persawahan yang terkena kekeringan hingga periode 13 Agustus 2018 seluas 127.101 hektare dan puso 25.405 hektare (Sumber: Ditjen TP, 2018).

Kekeringan terbesar terjadi pada bulan Mei hingga Juli 2018 di mana yang terkena seluas 87.827 hektare dan sampai terjadi puso seluas 22.153 hektare. Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi daerah yang paling terdampak kekeringan.

Persentase luas sawah terkena puso pada Periode Mei-Juli 2018 di Jawa dari 1.292.502 hektare sawah terkena puso 18.428 atau 1,42 persen. Sementara di luar Jawa dari 1.916.527 hektare, terkena puso 3.725 hektare atau 0,19 persen.

Data di Ditjen Tanaman Pangan per 13 Agustus 2018 menunjukkan persentase puso di Pulau Jawa hanya mencapai 1.42 persen dan di luar Jawa 0.19 persen sehingga secara nasional lahan sawah terkena puso hanya 0.69 persen.

Dampak puso masih sangat kecil dibanding dengan luas tanam yang ada sehingga tidak akan mengganggu produksi nasional.

Rendahnya dampak puso pada tahun ini sudah diantisipasi sejak awal melalui bantuan pompa air ke petani serta kegiatan pembangunan embung, dam parit, long storage, pompanisasi, perpipaan yang dapat menambah pasokan air bagi tanaman terutama di musim kemarau.

Selain itu, perbaikan saluran irigasi tersier untuk menjamin volume air cukup sampai pada lahan sawah yang berada di ujung saluran.

Dalam rangka mempertahankan produksi pertanian khususnya padi, dalam menghadapi musim kemarau ini, Kementerian Pertanian telah menurunkan tim khusus ke lkkasi-lokasi kekeringan di wilayah sentra produksi padi.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Pending Dadih Permana mengatakan bahwa tugas dan fungsi dari tim khusus ini untuk melakukan koordinasi dengan pihak terkait antara lain TNI, Kementerian PUPR serta pemerintah daerah setempat dalam memetakan permasalahan, negosiasi penggelontoran air dari bendung/bendungan, serta terlibat langsung melaksanakan pengawalan gilir giring air sesuai jadwal yang telah disepakati.

“Secara umum permasalahan kekeringan yang terjadi disebabkan oleh curah hujan yang sedikit dan kondisi penggelontoran debit air dari bendung/bendungan mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh aktivitas pemeliharaan bendung dan saluran irigasi serta penggunaan bendung untuk kepentingan lain,” kata Pending, Jumat (31/8).

Dia menambahkan, pada tingkat pengaturan debit air, penyusunan rencana pengalokasian air dilaksanakan masih berdasarkan asas pemerataan per bangunan, belum fokus pada upaya penyelamatan tanaman yang kondisinya menjelang puso.

Pada sebagian titik, infrastruktur bangunan air kondisinya sudah rusak. Serta sedimentasi tinggi pada saluran pembawa (irigasi).

“Belum sepenuhnya sinergi diantara instansi terkait dalam upaya menangani kekeringan” ujar Pending.

Direktur Irigasi Pertanian Rahmanto menjelaskan, bahwa Ditjen PSP sudah membentuk posko penanganan kekeringan dan menurunkan tim khusus pada beberapa wilayah yang terkena kekeringan antara lain di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Boyolali.

“Apabila terjadi kekeringan pada tanaman dapat menghubungi No HP 08128498158”, ujar Rahmanto.

Di Kabupaten Indramayu, terangnya, melalui kegiatan sinergitas antarinstansi terkait dan pengawalan gilir giring, serta pompanisasi irigasi, dapat menyelamatkan lahan sawah yang terancam kekeringan seluas 1.329 hektare di Kecamatan Losarang, sementara di Kecamatan Kandanghaur terselamatkan lahan sawah seluas 445 hektare. (jpnn)


div>