RABU , 19 DESEMBER 2018

Kemiskinan Berwajah Perempuan

Reporter:

rakyat-admin

Editor:

Rabu , 13 April 2016 10:32
Kemiskinan Berwajah Perempuan

int

MENDISKUSIKAN dan memperbincangkan tentang kemiskinan tidak akan ada habisnya, dalam pengertian sederhana kemiskinan adalah kondisi  seseorang yang mengalami ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.

Meskipun secara tegas dalam konsitusi telah mengamanahkan dalam Pasal 27  menyatakan bahwa “setiap warga Negara berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, akan tetapi dalam kenyataannya masih sangat jauh dari harapan Konstitusi, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah akan tetapi upaya  tersebut belum menemukan solusi yang tepat dalam penanggulangan kemiskinan.

Dalam memotret kemiskinan tidak sekedar mengartikan kemiskian di sektor ekonomi akan tetapi banyak dimensi lainnya yang harus dicermati, untuk mengatasi kemiskinan ekonomi maka kemiskinan pengetahuan, kemiskinan akses dan partisipasi serta kemiskinan perlindungan juga harus segera diatasi sehingga amanah Konstitusi dapat diwujudkan.

Dengan dimensi kemiskinan yang begitu banyak maka tidak salah jika kemiskinan yang terjadi saat ini kita sebut sebagai kemiskinan yang multi wajah. Jika kemiskinan didudukkan dalam konteks domestik, maka wajah kemiskinan dalam sebuah rumah tangga, berwajah perempuan, mengapa demikinan ? jika terjadi kemiskinan dalam sebuah rumah tangga maka posisi perempuan menjadi tonggak utama dalam menguarai kemiskinan. Perempuan yang berpikir bagaimana mencukupkan uang bulanan, perempuan berpikir bagaimana memberi yang terbaik bagi anak-anak di bidang pendidikan dan kesehatan, Perempuan berpikir bagaimana pemenuhan hak-hak dasar lainnya, sementara suami tidak memikirkan sampai sejauh mana peruntukan uang yang diberikan pada istri.

Bagaimana nasib perempuan yang memilih untuk sendiri dan menjalankan fungsi ayah dan ibu, yang harus berjuang ditengah keterbatasan yang dimilikinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga termasuk kebutuhan anak, dengan kondisi seperti ini banyak perempuan yang akhirnya tidak memikirkan resiko yang terjadi hanya untuk menjalankan kewajibannya memenuhi kebutuhan keluarga.

Berita tragis yang baru-baru ini mendapat perhatian luas di dalam negeri  dan dunia Internasional terhadap kasus yang menimpa salah seorang artis dangdut Irma Bule yang harus meregang nyawa karena dipatuk ular pada saat tampil menghibur masyarakat dengan  bernyanyi sambal menyuguhkan atraksi bersama ular.

[NEXT-RASUL]

Dari kasus yang terjadi ini timbul pertanyaan, mengapa Irma tidak berhenti pada saat ular kobra mematuknya, tentu hal ini tidak bisa terjawab dengan pasti karena hanya Irma yang mengetahui alasan mengapa dia tetap bertahan bernyanyi meskipun dalam kondisi tidak aman akibat di patuk ular. Tetapi jika mempelajari perjanjian yang mengikatkan diri maka kemungkinan besar Irma tidak berhenti bernyanyi karena perjanjian yang sudah disepakati adalah harus menyelesaikan kewajibannya.

Penulis memberi gambaran atas kejadian ini dikaitkan dengan posisi perempuan, dengan melihat latar belakang sosok Irma Bule seorang perempuan tangguh yang memilih untuk bernyanyi bersama ular demi menghidupi keluarganya. Irma merupakan tulang punggung keluarga yang diberi kelebihan suara yang merdu.

Pertanyaan berikutnya mengapa memilih bernyanyi dengan binatang yang diketahui bersama sangat berbahaya dan mematikan ? dalam pemberitaan yang penulis sempat baca bahwa Irma memilih bernyanyi dengan binatang yang bisa mematikan karena mendapatkan bayaran lebih banyak dibandingkan bila bernyanyi tanpa atraksi ular.

Kekuatan seorang perempuan untuk bertahan tidak terpuruk dalam siklus kemiskinan atau berusaha berjuang untuk keluar dari siklus kemiskinan terkadang tidak terpikirkan akibat bagi diri perempuan, upaya untuk keluar dari siklus kemiskinan yang dilakukan Irma Bule dengan segala konsekwensi bahayanya menjadi bukti perjuangan perempuan untuk bertahan dan keluar dari siklus kemiskinan yang terus mencekam.

Masih banyak perempuan-perempuan yang memilih berjuang untuk keluar dari siklus kemiskinan dengan cara  berkeliling dari kampung ke kampung atau mereka memilih keluar dari rumah disaat semua orang terlelap demi untuk mengumpulkan beberapa  ratus ribu saja.

Mencermati kasus Irma Bule maka kelihatan bahwa Kemiskinan dan perempuan   bagaikan sebuah lingkaran yang saling terkait satu sama lain. Hubungan antar keduanya akan melahirkan hubungan yang menyedihkan dan memilukan. Dan jika  kemiskinan dan perempuan akan dihubungkan , maka yang akan menjadi obyek dan korban adalah perempuan.

Ternyata Perempuan begitu dekat dengan dunia kemiskinan, dan jika kemiskinan di letakkan dalam anatomi tubuh kita maka kemiskinan itu berwajah perempuan. (*)


div>