RABU , 19 SEPTEMBER 2018

Kemiskinan Itu Tak Membuatnya Jengah

Reporter:

Editor:

Lukman

Jumat , 03 Agustus 2018 17:20
Kemiskinan Itu Tak Membuatnya Jengah

Arifuddin Saeni

KEMISKINAN memang sebuah tragedi kemanusiaan. Kosa kata ini kadang menempatkan kita pada sumbu kehidupan yang paling ujung dan tak bertuan. Tapi siapa yang bisa menolaknya, bukankah itu adalah takdir dan tak perlu mempersalahkan siapa-siapa. Toh, kelapangan menerimanyalah yang membuat orang tak menjadikannya beban, walau kita tahu, itu terlalu getir.

Tapi tidak bagi Mochamad Supriadi, seorang pesepakbola Usia 16, anak remaja yang menapaki kemiskinannya tanpa harus menyalahkan siapa-siapa. Ia juga barangkali tak pernah mengadu kepada Tuhannya, mengapa ia begitu miskin. Dan Tuhan memang selalu mencoba hambanya, bahwa manis itu begitu terasa, jika kita pernah rasakan pahit.

Dan itu pula yang dirasakan Supriadi. Kemiskinan yang tak pernah membuatnya jengah, mengantarkan namanya meroket di belantara sepak bola. Gol pembuka ketika berhadapan dengan Filipina, membuat namanya melintasi dunia pesepakbolaan kita. Gol awalnya, menjadi inspirasi bagi teman-temannya yang lain.

Raihan itu, tak semudah yang kita bayangkan. Di tengah keterbatasan anak seorang penjual es, mampu menunjukkan prestasinya bagi keluarganya. Ibunya yang hingga kini masih berjualan es, serta sang ayah yang kerja serabutan dan terkena stroke ringan, Supriadi terus membangun dirinya dengan deretan prestasi, utamanya di Piala AFF U-16 Tahun 2018.

Akankah kemiskinan meninggalkannya. Kita tidak tahu pasti soal itu. Tapi Tuhan telah menunjukkan jalannya bahwa dengan bola, namanya telah dikenal seantero Nusantara. Kemiskinan yang selama ini menderanya, menjadi pelecut bagi yang lainnya. Keterbatasan bukan berarti tak bisa berprestasi, dan itu ditunjukkan Supriadi.

Bagi arek-arek Surabaya. Ikon baru kembali lahir, setelah sebelumnya lahir nama-nama besar di sana yang menghiasi pesepakbolaan kita. Ia bukan hanya memberikan nafas baru di tengah carut marutnya moral anak-anak kita. Tapi dia juga membentangkan harapan, bahwa usaha dan kerja keras, pasti membuahkan hasil. Sebab, Tuhan memang tak pernah tidur. (**)


div>