RABU , 20 JUNI 2018

Kenaikan Harga Makanan Picu Inflasi

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 05 September 2012 09:42

RAKYAT SULSEL . MAKASSAR-Beberapa bulan terakhir harga sejumlah komoditas bahan makanan di Makassar mengalami kenaikan. Hal ini membuat inflasi di kota ini, mencapai 1,17 persen pada September 2012.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Bambang Pramono, Senin (3/9), mengatakan, inflasi yang terjadi di Kota Makassar lebih rendah dibanding inflasi bulan yang sama pada September  2011 lalu yang mencapai  0,68 persen.

“Kenaikan harga pada hampir semua kelompok pengeluaran terutama kelompok bahan makanan mengalami kenaikan indeks  sebesar 2,54 persen, menjadi penyumbang inflasi terbesar di Makassar,” ujarnya.

Angka tersebut, lebih tinggi jika dibandingkan dengan kenaikan indeks kelompok pengeluaran lainnya. Untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,89 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,42 persen, kelompok sandang 2,11 persen, kelompok kesehatan 0,12 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan memberikan kontribusi sebesar 0,38 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,07 persen.

“Dan pada bulan ini Indek Harga Konsumen (IHK) di semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Palu sebesar 2,81 persen dengan IHK sebesar 144,02  dan terendah di Kota Medan sebesar 0,04 persen dengan IHK sebesar 133,84. Dari data tersebut menjadikan Makassar menepati urutan 25 dari 66 kota IHK di Indonesia,” ujarnya.

Bambang mengatakan, komoditas yang sangat berpengaruh terhadap inflasi di Makassar adalah daging ayam ras 0,0694 persen, ikan layang 0,0555 persen, nasi ras 0,0495 persen, tomat sayur 0,0478 persen, daging sapi 0,460 persen, cabe rawit 0,0441 persen, kacang panjang 0,0265 persen, daging sapi 0,0234 persen, dan cabe rawit 0,0441 persen. “Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi cukup besar antara lain sawi hijau 0,0224 persen, ikan bandeng 0,0171 persen, bawang merah 0,0121 persen, dan daun kacang panjang 0,0118 persen dan kentang 0,0107 persen,” jelasnya.

Sementara, perubahan harga berbagai komoditas di Sulel yang merupakan gabungan empat kota IHK (Makassar, Watampone, Parepare, dan Palopo) secara umum mengalami inflasi sebesar 1,23 persen. Dengan perubahan indeks dari 134,34 persen pada Juli 2012 naik menjadi 135,99 pada agustus 2012. Kondisi ini menyebabkan laju inflasi kumulatif selama Januari-Agustus 2012 pada masing-masing kota IHK di Pulau Sulawesi, menempatkan Palu dengan inflasi tertinggi sebesar 7,12 persen, diikuti Kendari 6,11 persen, Manado 6,00 persen, Gorontalo 5,44 persen, Watampone 4,71 persen, Palopo 4,54 persen, Makassar sebesar 4,01 persen, parepare 3,94 persen, Mamuju 3,24 persen, dan terendah terjadi di kota Kendari sebesar 2,42 persen. (RS10/dul/C)


Tag
div>