MINGGU , 18 NOVEMBER 2018

Kenapa Khilafah

Reporter:

Editor:

Nunu

Jumat , 07 September 2018 15:41
Kenapa Khilafah

Arifuddin Saeni

DEMOKRASI, barangkali memang tak pernah berhasil memperlihatkan sosok pemimpin yang sesungguhnya. Apakah ia penjanji, culas ataukah suka pengterunku orang-orang yang tak disukainya. Tapi demokrasi pula yang mengajarkan kepada kita, bahwa pilihan itu bukanlah sesuatu yang salah. Ia bukan hanya bicara soal keterwakilan, tapi juga penyerahan nasib, bahwa bangsa ini akan baik jika itu berada di tangannya.

Tapi pilihan kadang melahirkan kecewa, rasa gundah juga rasa marah hingga ke ubun-ubun. Ketika anak-anak kita tak mampu memiliki pendidikan yang cukup, kebutuhan hidup yang semakin sulit, dan entah apalagi yang harus kita lakukan selain mengurut dada, dan berharap keadaan akan berlalu.

Barangkali kita tak perlu menyalahkan orang-orang yang kita pilih. Bukankah mereka telah bersusah payah untuk mengurus negeri ini dengan jumlah penduduk yang ratusan juta itu. Bukankah mereka telah bekerja siang dan malam, untuk menjadikan negeri ini gemah ripah loh jinawi.

Saya teringat dengan apa yang pernah ditulis Goenawan Mohamad, dalam sebuah catatan pinggirnya, yang dimulai ketika sang sahabat Nabi, Abu Bakar, pemimpin yang sangat sederhana itu, masih sempat berjualan pakaian, sehari setelah ia diangkat menjadi khalifah.

Sang khalifah, Abu Bakar, mampu mengelola pemerintahannya dengan sangat bersahaja. Ia hanya menerima haknya sesuai yang dibutuhkan, tidak lebih dari itu. Ia adalah contoh, bagaimana seorang pemimpin tahan terhadap godaan duniawi, keras terhadap dirinya sendiri.

Sikap pemimpin inilah yang melahirkan ‘ketundukan mutlak’ untuk mengabdi untuk sang khalifah juga pemerintahnya. Menjadikan pemerintahannya berwibawa.

Kisah-kisah yang sangat memesona ini, mengingatkan kita pada sebuah ‘negeri’ yang tandus dan berpadang pasir. Tak ada sekolah tinggi dan kaum cendikia yang suka berdebat, kecuali lantunan ayat-ayat Alquran di malam hari pada tiap-tiap rumah.

Tapi zaman telah berubah, ketika sebuah pemerintahan tidak lagi berpusat pada kewibawaan seorang tokoh ataukah kealiman seorang pemimpin. Kita tak bisa lagi bicara seperti itu dikekinian. Sekarang, seorang pemimpin bukan hanya bicara soal organisasi yang besar harus diurus, tapi juga gerakan yang cepat pada masyarakat yang majemuk. Diperlukan banyak hal, media, sosialisasi, temu maka dan sesekali bagi-bagi sembako.

Tapi seperti di zaman khalifah, masyarakat sekarang ini butuh pemimpin yang sederhana jujur dan amanah. Ia tak hanya mencitrakan dirinya bersih, tapi juga memahami perasaan rakyatnya. (**)


Tag
div>