SELASA , 16 OKTOBER 2018

Kepada Mahasiswa, Mahyudin Korbarkan Semangat Nasionalisme

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 07 April 2016 14:36
Kepada Mahasiswa, Mahyudin Korbarkan Semangat Nasionalisme

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Wakil Ketua MPR RI Mahyudin menyatakan bangga jadi bangsa Indonesia. Indonesia yang beragam suku, bahasa, dan agama bisa bersatu.

“Lihat bangsa lain, seperti di Timur Tengah, meski memiliki bahasa satu tapi tak bisa bersatu,” ujar  politisi Partai Golkar ini saat acara Sosialisasi Empat Pilar MPR di Aula Universitas Borobudur, Kalimalang, Jakarta Timur, Kamis (7/4).

Acara sosialisasi yang dihadiri sekitar 280 mahasiswa Univesitas Borobudur dan mahasiswa perguruan tinggi lainnya diselenggarakan oleh MPR bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Borobudur. Sosialisasi ini mengambil tema “Meneguhkan Nasionalisme di Kalangan Pemuda.”

Pada kesempatan itu, Mahyudin mengatakan kita bisa bersatu karena memiliki Pancasila. “Pancasila adalah alat pemersatu bangsa,” lanjut salah seorang kandidat Ketua Umum Partai Golkar ini. “Pancasila hanya milik bangsa Indonesia,” ujar Mahyudin lagi.

Mahyudin yang telah melakukan sosialisasi ke berbagai pelosok Indonesia mengaku bangga melihat bangsa Indonesia bisa bersatu. Tapi, yang belum membanggakan, menurut dia, rakyat kita masih banyak miskin, belum sejahtera. Buktinya, pendapatan perkapita kita masih berkisar 5 sampai 10 ribu dolar, sementara negara lain ada yang mencapai lebih 50 ribu dolar.

Untuk itulah, kata Mahyudin, nasionalisme perlu ditanamkan di dalam jiwa setiap bangsa Indonesia, termasuk mahasiwa. “Namun nasionalisme bukan dalam ucapan, melainkan nasionalisme harus diwujudkan dalam bentuk nyata,” kata Mayudin.
Oleh karena itu, sosialisasi Empat Pilar MPR ini menjadi sangat penting. Hanya saja, meski sosialisasi ini dilaksanakan oleh 692 anggota MPR tapi nyatanya belum bisa maksimal. Buktinya, masih ada public figur yang belum mengerti Pancasila, tak mengerti simbol sila-sila Pancasila.

Mahyudin juga mengkritik film-film produksi anak bangsa. Kalau negara lain, seperti Jepang, bikin film menceritakan tentang kepahlawan, produser kita bikin mengangkat cerita Rebutan Harta Warisan atau Putri Yang Tertukar. Mahyudin memuji film Cut Nyak Din, atau Film G-30 PKI, yang menceritakan kepahlawan.

Lebih lanjut, Mahyudin mengatakan meski ada kritik film G-30-S itu dikatakan rekayasa, ia mengaku senang menonton film ini.

“Saya tidak melihat dari sisi rekayasanya, tapi saya bangga di film ini Pancasila menang,” tutur politisi asal Kalimantan Selatan ini. (jpnn)


Tag
div>