KAMIS , 19 JULI 2018

Kepala Sekolah SMA Simbang Disuga Tilep Dana Komite

Reporter:

Editor:

hur

Rabu , 06 Januari 2016 15:35

MAROS, RAKYATSULSEL.COM – Isu tidak sedap menimpa kepala SMA 10 Simbang, Muhammad Jafar. Dia diduga menilep uang komite sekolah yang dipimpinnya. Uang komite yang nilainya mencapai Rp 300-an juta itu merupakan hasil dari sumbangan komite orang tua siswa sejak 2012 hingga 2015.

Hal tersebut terungkap setelah Inspektorat Maros melakukan audit terhadap kepala sekolah tersebut. Kepala Ispektorat Maros, Baharuddin mengatakan, ia telah memberikan laporan hasil pemeriksaan (LHP) kepada Dinas terkait.

“Jadi kita sudah periksa. Kasus ini telah bergulir sejak bulan Mei 2015 lalu. LHPnya sudah kita kirimkan ke dinas pendidikan. Jadi memang ada pengembalian yang harus di tanggung, dari total Rp 300-an juta, baru sekitar Rp 125 juta (yang kembali, red),” ujar Baharuddin.

Ia menguraikan bahwa sampai hari ini, belum ada tindak lanjut yang diberikan oleh dinas pendidikan terkait kasus yang menimpa kepala sekolah tersebut.

“‪Di Permendagri 2015 nomor 71 pasal 13 tentang pimpinan instansi kerja kementerian, kabupaten/kota wajib melaksanaan tindak lanjut dari hasil pengawasan dari Inspektorat. Itu yang sampai saat ini belum ada laporan dari sana (Dinas pendidikan, red),” lanjutnya.

Sementara itu, kepala Dinas Pendidikan Ashar Paduppa mengatakan, sampai hari ini belum ada hasil dari inspektorat, sehingga ia belum mengambil sikap.

“Hasil dari inspektorat belum ada. Makanya kami belum tindak lanjuti. Kita tidak menutup-nutupi, justru kami yang meminta inspektorat untuk turun mengaudit kepala sekolah tersebut,” ujarnya melalui telepon.

Terpisah, kepala sekolah SMA 10 Simbang Muhammad Jafar mengatakan kalau sebenarnya semuanya ada, hanya saja kwitansi banyak yang hilang.

“Adaji sebenarnya, sesuai dengan hasil bendaharanya. Hanya saja ada beberapa kwitansi yang hilang karena pemindahan lokasi sekolah dari Paccinikang ke Rumbia,” ujarnya, Rabu (6/1).

Ia melanjutkan, ketidaksesuaian data keuangan bukanlah sebagai unsur kesengajaan, karena dana tersebut dibelanjakan sesuai kebutuhan sekolah.

“Ada 3 tahun yang diperiksa, sudah ada pertanggungjawaban ke orang tua siswa. Ada juga donatur yang memberikan bantuan,” paparnya.

Ia juga mengatakan bahwa sampai hari ini dirinya belum mendapatkan panggilan dari atasannya terkait kasus tersebut. “Belum ada panggilan dari atasan,” tutupnya.


div>