Kerja Sebagai Ibadah

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

KESALEHAN itu ada dua macam, ritual dan sosial. Orang yang tertib melaksanakan salat, puasa, zakat dan haji disebut saleh secara ritual. Sedangkan mereka yang senantiasa membantu fakir miskin, meringankan beban orang lain, bersedekah, membantu biaya pendidikan orang yang tidak mampu, menanggung biaya pengobatan orang sakit disebut saleh secara sosial.

Jenis kesalehan pertama (ritual) sudah banyak di antara kita yang meraihnya. Tapi kesalehan jenis kedua masih perlu didorong untuk diwujudkan.

Banyak orang lebih tertarik mengajak orang lain untuk salat jamaah, zikir bersama, istiqasah, haji dan umrah bareng-bareng, karena dianggap lebih utama dari pada memberi bantuan kepada sesama, peduli pada kebersihan dan ketertiban lingkungan, ajakan untuk bekerja profesional, berprestasi dalam studi dan karir. Karena salat, zikir, istiqasah, haji dan umrah adalah ibadah ritual. Sementara yang lain bukan ibadah ritual.

Padahal betapa banyak ayat dari Alquran dan pesan nabi yang senantiasa memberi peringatan agar kita tidak berhenti dan merasa puas hanya pada ketaatan ibadah ritual. Kalau kita kaji dan amati, kenapa salat diakhiri dengan salam, kenapa puasa diakhiri dengan zakat, kenapa haji diakhiri dengan kurban. Agar kita memahami bahwa yang ingin diwujudkan Islam, bukan hanya kesalehan ritual, melainkan kesalehan sosial (menyeluruh). Bahkan pesan nabi berkaitan dengan ukuran keimanan seseorang, justru lebih banyak dikaitkan dengan seberapa banyak manfaat yang dapat diberikan kepada sesama dari pada ketaatan ibadah ritual. Di antara pesan nabi adalah “tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kamu yang tidur lelap karena kekenyangan, sementara tetangganya tidak dapat tidur karena kelaparan”.

Kerja atau profesi yang digeluti seseorang akan bernilai sebagai ibadah, apabila digeluti dengan memperhatikan empat hal: Pertama, motivasi kerja yakni mencari ridho Allah. Di masa Rasulullah saw. masih hidup, seorang sahabat berkata: wahai Rasulullah sungguh berbahagia lelaki itu sekiranya usianya yang masih muda, tenaganya yang masih kuat digunakan untuk berjihad di jalan Allah. Nabi berkata, jangan berkata demikian sahabatku, sekiranya lelaki itu keluar dari rumahnya untuk bekerja mencari nafkah agar ada belanja untuk keluarganya, agar tidak menjadi peminta-minta, itu berarti dia berjihad di jalan Allah.

Kedua, jenis pekerjaan yakni yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Ajaran Islam tidak membedakan jenis pekerjaan yang satu dengan lainnya, Islam tidak membedakan antara pekerjaan kasar dan halus, antara yang diselesaikan dengan otot atau diselesaikan dengan otak, Islam tidak membedakan selama dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah.

Rasulullah saw. ketika bersalam dengan Abu Saad al-Anshari berkata: wahai Abu Saad kenapa tanganmu kasar, hitam, dan melepuh tidak seperti tangan orang lain. Abu Saad menjawab, tangan ini saya gunakan memecah-belah batu, kemudian batu tersebut saya jual. Saya juga gunakan untuk mencangkul karena profesi saya sebagai petani, karena itulah tangan saya kasar tidak semulus tangan orang lain.

Mendengar jawaban Abu Saad, Rasulullah yang seringkali dicium tangannya oleh umatnya, justru mencium tangan Abu Saad al-Anshari dan berkata: tangan seperti inilah nanti yang selamat dari jilatan api neraka. Karena tidak membeda-bedakan pekerjaan, yang penting halal di hadapan Allah.

Ketiga, cara kerja yaitu dilakukan dengan cara ihsan bukan asal kerja, asal selesai tapi harus dengan cara yang terbaik (profesional). Keempat, manfaat kerja harus berorientasi kepada kemaslahatan bagi banyak orang.

Mari kita jadikan langkah kita dalam bekerja sebagai zikir kita kepada Allah, mari kita jadikan gerakan tangan kita dalam bekerja sebagai tasbih kita kepada-Nya, mari kita jadikan ucapan dan pikiran kita dalam bekerja sebagai sujud dan syukur kita kepada Allah.

Selamatbekerja, semoga berkah Tuhan senantiasa menyertai setiap aktifitas kita. (*)