RABU , 12 DESEMBER 2018

Kesejahteraan Petani Kopi di Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 02 Mei 2017 18:48
Kesejahteraan Petani Kopi di Kecamatan Buntu Batu Kabupaten Enrekang

int

Enrekang, RakyatSulsel.com – adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang relif daerahnya berupa pegunungan dengan luas 1.786,01 km persegi. Enrekang terletak di ketinggian hingga 2.000-2.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Daerah ini menjadi salah satu penghasil kopi terbaik yang ada di Sulawesi Selatan dan Indonesia. Kopi Enrekang lebih dikenal sebagai kopi Kalosi. Kopi ini merupakan kopi jenis Arabica typica yang hanya bisa dibudidayakan pada daerah ketinggian 1.500 di atas permukaan laut itu bahkan menjadi kopi langka dan tertua di dunia. Di Indonesia, jenis kopi ini hanya bisa tumbuh di Kabupaten Enrekang. Sejak beberapa tahun silam, Kopi Kalosi sudah terkenal bahkan diekspor hingga ke luar negeri dengan harga tinggi, seperti ke Jerman, Jepang dan Amerika. Bahkan, tahun 2008, Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (PKKI) menempatkan kopi hasil Bumi Massenrempulu tersebut di rating pertama terbaik di Indonesia. Hal ini bahkan terulang lagi di tahun 2016.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Enrekang tahun 2014, luas areal produksi kopi Arabica seluas 17.515,50 Ha yang diusahakan oleh 16.657 KK atau sekira 81.680 jiwa (45 persen penduduk Kabupaten Enrekang) dengan jumlah produksi mencapai 10.122,3 ton. Perkebunan kopi yang dikembangkan oleh rakyat ini tersebar di beberapa kecamatan, yakni Kecamatan Bungin, Baraka, Alla, Buntu Batu, Curio, Masalle, Baroko dan sebagian kecil di wilayah Kecamatan Enrekang, Malua dan Anggeraja.

Sebagai salah satu daerah penunjang kopi di Enrekang, Kecamatan Buntu Batu memiliki peran yang cukup penting.  Kecamatan ini terletak berada di lereng Pegunungan Latimojong dengan luas . dari data BPS Enrekang tahun 2016 menunjukkan jumlah lahan kopi seluas 2550,0 Ha dengan jumlah produksi sebanyak 2488,0 Ton. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tersebut cukup besar yang dapat memberikan kesejahteraan penduduknya yang berjumlah 13.428 jiwa. Dengan segala kondisi diatas, bisa dikatakan kopi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kecamtan Buntu Batu.

Pada kenyataanya ketenaran Kopi Kalosi dan besarnya produksi kopi di Kecamatan Buntu Batu belum memberikan dampak kesejahteraan bagi petani kopi. Menurut Pak Masrur Makmur Latanro salah satu pengusaha sukses di Enrekang melihat ada tiga alasan utama terkait maslah ini, yaitu: sistem pengolahan kopi, penjualan kopi, dan pemanfaatan limbah kopi. Pertama, sistem pengolahan kopi masih sangat tradisonal. Hal ini membuat produksi kopi membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga kopi yang dihasilkan masih sangat terbatas. Selain itu, masyarakat masih menjual mentah sehingga nilai ekonominya masih rendah. Masyarakat belum mengembangkan pengolahan kopi bubuk yang bisa dipasarkan. Dengan adanya kopi olahan atau bubuk produski sendiri jelas akan bisa memberikan nilai jual yang tinggi bagi petani kopi.

Kedua, sistem penjualan yang masih menggantungkan pada pengepul lokal. Harga yang diajukan oleh pengepul jelas cukup rendah jika dibandingkan dengan harga di pasaran. Harusnya masyarakat memiliki koprasi sendiri yang menghubungkan dengan pasar. Hal ini dimaksudkan agar pentani mandiri dalam menentukan harga jual kopi.

Ketiga, pemanfaatan limbah kopi. Limbah kopi berupa kulit kopi belum bisa diolah oleh patani menjadi nilai lebih. Limbah ini memiliki nilai ekonomi tinggi ketika di olah manjadi pupuk kompos dan pakan ternak. Selam ini masyarakat harus mendatangkan pupuk kompos dari luar Buntu Batu. Jumlahnya tidak sedikit karena dalam satu Ha bisa membutuhkan pupuk kompos 1 ton. Pupuk kompos dari limbah kopi bisa dijual ke petani di luar Buntu Batu. Semantara itu, limbah kopi jadi pakan ternak. Dengan adanya hewan ternak bisa menjadi penghasilan tambahan bagi petani.

Dengan adanya jalan alternatif diatas kesejahteraan petani kopi bisa ditingkatkan. Petani kopi pada masa jedah panen tidak memiliki penghasilan. Dengan demikian, pada masa ini menjadi titik lemah bagi petani kopi di Buntu Batu sehingga harus berutang. Dengan kata lain, masa ini lebih dikenal sebagi waktu berutang yang akan dibayar pada saat panen. Oleh karena itu, dengan menjalakan strategi daitas bisa mengatasi permasalahan kesejahteraan petani kopi di Buntu Batu pada khususnya dan Kabupaten Enrekang pada umumnya.


div>