RABU , 12 DESEMBER 2018

Keselamatan Korban Tenggelam Jadi Perhatian BPBD Enrekang

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Minggu , 10 April 2016 12:57
Keselamatan Korban Tenggelam Jadi Perhatian BPBD Enrekang

Peserta Diklar SAR yang dilaksanakan BPBD Enrekang melakukan simulasi di Sungai Mata Allo, Enrekang, Sabtu (9/4).

ENREKANG, RAKYATSULSEL.COM – Orang tenggelam menjadi salah satu kejadian bencana yang sering terjadi di Kabupaten Enrekang. Dua sungai besar yang membentang di wilayah ini, yakni sungai Mata Allo dan Sungai Saddang adalah lokasi dimana orang sering tenggelam.

Salah satu kendala yang dihadapi, kurangnya tenaga terampil yang dimiliki saat melakukan pertolongan, baik itu relawan maupun personil yang ada di BPBD Enrekang.

Atas dasar tersebut, maka BPBD Kabupaten Enrekang melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan Search and Rescue (SAR) korban tenggelam, yang dilaksanakan selama dua hari, Jumat-Sabtu (8-9/4), dengan menghadirkan instruktur atau staf pengajar dari Basarnas Provinsi Sulsel.

Kepala Seksi Pencegahan, Lukman Dering, mengatakan, diklat tersebut diikuti 40 relawan, terdiri dari anggota Kodim Enrekang, anggota Polres Enrekang, BPBD, Satpol PP, RSU Massenrempulu, PMI, Pramuka, dan Tagana.

“Peserta pada diklat ini adalah unsur terkait, yang terlibat langsung jika terjadi orang tenggelam,” katanya.

Metode pembelajaran yang digunakan selama diklat berlangsung, adalah ceramah di kelas dan simulasi di lapangan. “Pada Jumat (8/4), peserta belajar teori yang dilaksanakan di Aula Kantor Bappeda Enrekang. Sementara, pada Sabtu (9/4), dilanjutkan dengan simulasi di Sungai Mata Allo,” lanjut Lukman Dering.

Pada ceramah kelas, para peserta diperkenalkan berbagai macam peralatan yang digunakan pada saat menolong korban. Para instruktur dari Basarnas yang berjumlah lima orang, bergantian memperagakan cara-cara menolong korban tenggelam. Tidak jarang, para peserta aktif ikut memperagakan di depan kelas.

Sedangkan untuk simulasi, peserta diajarkan bagaimana cara menggunakan perahu karet di air. Ada tiga perahu karet milik BPBD Enrekang yang digunakan dalam simulasi itu. Setelah mahir menggunakan perahu karet, peserta yang dibagi dalam tiga kelompok diajarkan menolong korban tenggelam. Ada tiga orang yang ditunjuk sebagai korban. Kemudian, ada regu penolong berjumlah delapan orang dengan menggunakan perahu karet menolong korban tersebut.

Setelah korban berhasil diselamatkan dan dievakuasi kedaratan, dilanjutkan dengan memberikan pertolongan pertama oleh dua personil dari RSU Massenrempulu dibantu dua orang dari PMI. Salah seorang korban tidak sadarkan diri. Maka diberikanlah bantuan pernapasan buatan, hingga korban sadarkan diri.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Enrekang, Benny Manjsur, yang ikut menyaksikan langsung simulasi tersebut mengemukakan, seorang relawan harus memiliki kemampuan dan keterampilan.

“Relawan harus punya teknik pertolongan. Selain itu, relawan juga harus mempunyai mental yang layak sebagai tenaga rescue,” jelas Benny melalui rilis yang diterima redaksi, Minggu (10/4). (***)


div>