SENIN , 17 DESEMBER 2018

Keterangan Saksi Lemah, Taufan Optimis ‘Money Politic’ Tak Terbukti

Reporter:

Lukman

Editor:

Jumat , 20 April 2018 17:42
Keterangan Saksi Lemah, Taufan Optimis ‘Money Politic’ Tak Terbukti

int

-Dua Saksi Tim FAS Mengaku Tak Tahu Sumber Uang

MAKASSAR, RAKSUL.COM– Tiga orang saksi yang dihadirkan pelapor dugaan politik uang, Faisal A Sapada (FAS) memberikan keterangan yang tidak berkesesuaian saat sidang di Bawaslu Sulsel, Makassar, Kamis, 19 April 2018.

Dua saksi yakni Asraf Resifa Jafar (20) alias Resi dan Edi Rauf (38) menyatakan kejadian dugaan politik uang itu pada Kamis malam atau malam Jumat, namun lupa tanggal waktunya. Sementara satu saksi Zaenal Azis Mandeng (55) menyebut kejadian pada Jumat malam atau malam Sabtu. Karena Kamis malam atau malam Jumat, saat itu adalah pengukuhan komunitas pendukung FAS, Maddusila.

Keterangan ini berbeda dengan laporan yang masuk di Panwaslu Parepare, yakni kejadian pada Jumat malam, 6 April 2018.

Insiden sempat mewarnai jelang sidang, yakni terlapor Taufan Pawe (TP) keberatan dengan hadirnya wajah baru di tim kuasa hukum FAS, Nasrullah ditambah legalitasnya sebagai advokat dipertanyakan.

Oleh majelis pemeriksa Bawaslu keberatan TP diterima, sehingga Nasrullah diminta meninggalkan sidang.

Sementara saksi pertama, Resi saat memberi keterangan dalam sidang, mengaku hanya ikut rapat di posko pemenangan Taufan-Pangerang karena diajak Lasalama, tetangganya di Cempae, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang.

Resi mengaku bersama sembilan rekannya datang ke posko di Jalan Bau Massepe itu. Namun dia tidak mengetahui detil apa isi pertemuan atau rapat malam itu, karena dia berada di luar ruang pertemuan. Termasuk saat TP dia sebutkan pidato dalam ruangan, dia juga tidak tahu apa isi pidatonya.

Resi juga mengestimasi sekitar 100 orang yang menghadiri pertemuan. Ini berbeda dengan laporan yang masuk ke Bawaslu yakni 500 orang.

“Malam itu saya hanya ikut tanda tangan. Menuliskan nama dan kecamatan lalu tanda tangan di daftar absen. Ada tiga daftar absen yang ditanda tangani, pas tanda tangan ketiga itu kita dikasi amplop. Isinya uang Rp50 ribu,” beber Resi.

Amplop itu kata dia, dibagikan oleh seseorang di posko, setelah TP meninggalkan posko. Namun tidak ada ajakan sesuatu atau memilih TP saat amplop diberikan. Itupun amplop putih tidak bergambar pasangan calon.
“Sudah itu, tidak pernah lagi dihubungi sama Lasalama. Kita langsung pulang,” kata Resi.

Saat dicecar pertanyaan oleh majelis pemeriksa Asri Yusuf, tentang apakah mengetahui atau pernah mendapat informasi ada pembagian uang yang dilakukan oleh pasangan Taufan-Pangerang di wilayah lain, Resi mengaku tidak tahu.

Pertanyaan yang sama ditujukan majelis pemeriksa kepada dua saksi lainnya, Edi Rauf dan Zaenal Azis Mandeng. Keduanya menjawab tidak tahu dan tidak pernah mendapat informasi.

Keterangan di persidangan, saksi Edi dan Zaenal Azis tidak berada di lokasi saat kejadian.

Edi mengaku saat kejadian berada di pos ronda di Cempae ketika mendengar informasi tentang Resi dan rekan-rekannya mendapatkan amplop.

Edi lalu menghampiri Resi dan meminta Resi serta lima rekannya yang lain membuka
amplop, dan ternyata isinya ada uang Rp50 ribu.

Bahkan pengakuan Edi, dia meminta Resi yang sudah membelanjakan uangnya di sebuah warung, untuk mengambil kembali uang itu.

Bersama lima rekannya, Edi lalu membawa barang bukti itu ke Panwaslu. Lasalama menyusul kemudian setelah dijemput petugas Panwaslu.

“Sumber uangnya saya tidak tahu, dan saya juga tidak tahu untuk apa uang itu. Dia (Resi, red) hanya bilang uang itu dari poskonya bapak (TP, red) di Jalan Bau Massepe,” ungkap Edi.

Edi juga di hadapan majelis pemeriksa mengaku adalah tim dari FAS. Dia mengaku bergabung di Komunitas Maddusila, pendukung FAS.

Demikian juga dengan Zaenal Azis, dia mengaku adalah tim FAS. Di sidang, Zaenal mengaku mengetahui kejadian dari Edi.

Dia pun melaporkan kasus itu ke Panwaslu. Dia juga mengaku sudah dimintai keterangan oleh Panwaslu.

“Saya tidak tahu sumber uang darimana. Yang saya tahu, uang itu dari posko. Saya juga tidak tahu ada acara waktu itu,” kata Zaenal.

Mendengar keterangan para saksi, Taufan menilai keterangan itu lemah. Jauh dari dugaan politik uang yang terstruktur, sistematis, dan masif.

“Melihat fakta-fakta di persidangan, saya optimis sangat yakin jauh dari terstruktur, sistematis, dan masif. Karena yang ditakutkan calon kepala daerah itu adalah TSM, tapi ini sangat jauh,” tegas Taufan Pawe usai persidangan.

Sidang dilanjutkan Jumat, 20 April 2018, dengan agenda mendengar keterangan saksi, saksi ahli, dan surat bukti yang dihadirkan terlapor TP.

Namun majelis pemeriksa yang diketuai oleh La Ode Arumahi belum bisa memastikan apakah bisa menghadirkan lembaga pemberi keterangan Panwaslu seperti permintaan tim kuasa hukum FAS.
“Itu domain kami, nantilah kami lihat urgensi dan substansinya,” kata La Ode Arumahi. (rls)


Tag
  • taufan pawe
  •  
    div>